Queensha.id – Jepara,

Lonjakan kasus Campak menjelang Hari Raya Idulfitri memicu kewaspadaan serius dari Puskesmas Jepara. Melalui sebuah imbauan visual yang beredar luas, masyarakat diminta mengubah kebiasaan saat bersilaturahmi, terutama dalam berinteraksi dengan bayi dan balita.

Dalam poster tersebut, terdapat peringatan tegas:

“Sehubungan dengan meningkatnya kasus CAMPAK, penularan lewat droplet & kontak erat.”

Pesan ini menegaskan bahwa campak sangat mudah menular, terutama melalui percikan air liur (droplet) saat batuk atau bersin, serta kontak langsung.

 

Imbauan Tegas Saat Silaturahmi

Dalam momentum Lebaran yang identik dengan kehangatan dan kedekatan fisik, Puskesmas Jepara justru meminta masyarakat untuk menahan diri. Tertulis jelas dalam poster:

“Mohon Kerjasama Saat Silaturahmi”, dengan poin-poin penting:

Bayi & Balita mohon TIDAK DICIUM
TIDAK DIPEGANG atau DIGENDONG BERGANTIAN

Hindari menyentuh wajah, tangan, & area mulut anak

Imbauan ini bukan tanpa alasan. Dijelaskan lebih lanjut dalam poster:
“Sistem imun bayi & balita masih rendah, sehingga RISIKO PENULARAN PENYAKIT LEBIH TINGGI, terutama saat momen Lebaran.”

Artinya, kebiasaan sederhana yang sering dianggap bentuk kasih sayang (seperti mencium atau menggendong bayi) justru bisa menjadi jalur penularan penyakit berbahaya.

 

Alternatif Kasih Sayang yang Lebih Aman

Sebagai solusi, Puskesmas Jepara juga menawarkan cara lain untuk tetap menunjukkan kepedulian tanpa risiko kesehatan. Dalam poster tersebut tertulis:

“Bentuk kasih sayang yg lebih aman:”

Sapa dari dekat

Senyum & ajak ngobrol

Kirim doa baik tanpa kontak langsung

 

Pesan ini menegaskan bahwa kasih sayang tidak selalu harus melalui sentuhan fisik.

 

 

Di bagian akhir poster juga terdapat ucapan:

“Selamat Hari Raya Idul Fitri”, menandakan bahwa imbauan ini khusus disampaikan dalam konteks perayaan Lebaran.

Poster tersebut juga mencantumkan identitas lembaga seperti Germas serta kanal media sosial Puskesmas Jepara di YouTube, Instagram, Facebook, dan nomor kontak WhatsApp.

 

Perspektif Sosial: Antara Tradisi dan Kesadaran Baru

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai imbauan ini sebagai langkah penting dalam mengedukasi masyarakat yang selama ini sangat lekat dengan budaya sentuhan fisik saat Lebaran.

Menurutnya, tradisi seperti mencium bayi atau menggendong anak secara bergantian sudah mengakar kuat dalam budaya masyarakat. Namun, dalam situasi meningkatnya kasus penyakit menular, kebiasaan tersebut perlu dikaji ulang.

“Ini bukan soal menghilangkan budaya silaturahmi, tetapi bagaimana menyesuaikannya dengan kondisi kesehatan saat ini. Kesadaran kolektif harus dibangun bahwa menjaga jarak dalam konteks tertentu justru bentuk kasih sayang yang lebih bertanggung jawab,” ujarnya, Jum’at (20/3/2026).

Ia juga menambahkan bahwa perubahan perilaku sosial memang tidak mudah, namun bisa dimulai dari edukasi yang konsisten dan pendekatan yang tidak menghakimi masyarakat.

Ancaman Nyata di Balik Tradisi

Campak bukan penyakit ringan. Selain mudah menular, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi serius, terutama pada bayi dan balita yang sistem imunnya belum berkembang sempurna.

Momentum Lebaran yang identik dengan mobilitas tinggi dan interaksi masif justru menjadi titik rawan penyebaran penyakit. Oleh karena itu, imbauan seperti yang disampaikan Puskesmas Jepara menjadi sangat relevan dan mendesak.

Di tengah hangatnya suasana Idulfitri, masyarakat kini dihadapkan pada pilihan yaitu mempertahankan kebiasaan lama atau beradaptasi demi keselamatan bersama.

 

***
(20 Maret 2026)