Queensha.id – Edukasi Sosial,
Sebuah unggahan dari akun Rumah Ummi Digital ramai diperbincangkan di media sosial karena menyentuh realitas yang dialami banyak orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam unggahan tersebut tertulis sebuah pertanyaan sederhana namun menggugah:
“Kenapa kita gampang marah ke anak sendiri?”
Narasi tersebut kemudian mengajak para ayah dan ibu untuk melakukan refleksi terhadap penyebab kemarahan yang sering muncul saat menghadapi anak.
Isi unggahan itu berbunyi:
Saat anak melakukan kesalahan, apakah kita marah karena anaknya? Atau karena kita sendiri sedang lelah?
Anak yang sering kena marah bukan karena mereka nakal, tapi karena orang tuanya sedang penuh—capek kerja, capek urus rumah, capek pikiran—dan anak jadi tempat semuanya tumpah.
Unggahan tersebut juga memuat kalimat yang mengundang perenungan:
“Anak tidak selalu salah, kadang kita yang sedang tidak baik-baik saja.”
Kemudian disertai beberapa contoh sederhana yang sering terjadi di rumah:
- Anak menumpahkan susu.
Bukan susunya yang membuat kesal, tetapi rasa lelah setelah seharian beraktivitas yang belum mereda. - Anak bertanya berkali-kali.
Bukan pertanyaannya yang salah, melainkan kesabaran orang tua yang mulai menipis. - Anak ribut sedikit.
Bukan karena keributannya terlalu besar, tetapi karena pikiran orang tua sedang penuh oleh berbagai beban.
Pesan tersebut mendapat respons positif dari banyak warganet karena dianggap menggambarkan kondisi nyata yang sering dialami keluarga.
Psikologi Menjelaskan: Emosi Orang Tua Bisa Berpindah kepada Anak
Dalam ilmu psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai emotional spillover, yaitu keadaan ketika tekanan dari pekerjaan, masalah ekonomi, konflik rumah tangga, atau kelelahan fisik berpindah kepada orang terdekat, termasuk anak.
Psikolog anak dan keluarga Seto Mulyadi (Kak Seto) berulang kali mengingatkan bahwa anak bukanlah tempat melampiaskan emosi orang dewasa. Menurutnya, anak sedang berada pada masa belajar mengenal dunia sehingga membutuhkan bimbingan, keteladanan, dan kasih sayang, bukan kemarahan yang berlebihan.
Kak Seto juga menekankan bahwa komunikasi yang lembut dan penuh penghargaan jauh lebih efektif dalam membentuk karakter anak dibandingkan bentakan atau hukuman yang dilakukan karena emosi sesaat.
Anak Belajar dari Cara Orang Tuanya Mengelola Emosi
Psikolog klinis dewasa Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., yang akrab disapa Nina, menjelaskan bahwa anak merupakan peniru ulung.
Cara orang tua menyelesaikan masalah, mengendalikan amarah, hingga berbicara kepada anggota keluarga akan menjadi contoh yang direkam oleh anak sejak usia dini.
Apabila anak setiap hari melihat kemarahan sebagai cara menyelesaikan masalah, maka ia berisiko meniru pola tersebut ketika dewasa.
Sebaliknya, bila orang tua mampu meminta maaf setelah melakukan kesalahan dan menunjukkan cara mengelola emosi secara sehat, anak juga akan belajar melakukan hal yang sama.
Orang Tua Juga Manusia
Psikolog keluarga Roslina Verauli, M.Psi. menjelaskan bahwa menjadi orang tua bukan berarti harus selalu sempurna.
Rasa lelah, stres, dan jenuh merupakan hal yang manusiawi. Namun yang terpenting adalah bagaimana orang tua menyadari kondisi emosinya sebelum bereaksi kepada anak.
Kesadaran diri atau self-awareness menjadi langkah pertama dalam membangun pola asuh yang sehat.
Daripada langsung memarahi anak, orang tua dapat mengambil jeda sejenak, menarik napas, menenangkan pikiran, lalu kembali berbicara ketika emosi sudah lebih stabil.
Dampak Jika Anak Terlalu Sering Dimarahi
Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa anak yang terlalu sering menerima bentakan berisiko mengalami:
- menurunnya rasa percaya diri;
- munculnya kecemasan;
- kesulitan mengungkapkan pendapat;
- hubungan emosional yang renggang dengan orang tua;
- kecenderungan bersikap agresif atau justru menarik diri.
Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih sayang cenderung memiliki kemampuan mengelola emosi yang lebih baik, lebih percaya diri, serta mudah membangun hubungan sosial yang sehat.
Islam Juga Mengajarkan Menahan Amarah
Selain dari sisi psikologi, Islam juga mengajarkan pentingnya mengendalikan emosi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan melampiaskan amarah, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri ketika emosi muncul.
Menjadi Orang Tua yang Terus Belajar
Unggahan Rumah Ummi Digital bukan bermaksud menyalahkan orang tua. Sebaliknya, pesan tersebut mengajak setiap ayah dan ibu untuk melakukan refleksi bahwa di balik kemarahan kepada anak, sering kali ada kelelahan, tekanan, atau masalah yang belum terselesaikan.
Mendidik anak memang tidak pernah mudah. Orang tua juga memiliki keterbatasan sebagai manusia. Namun, dengan terus belajar mengelola emosi, menjaga komunikasi yang hangat, serta memberikan teladan yang baik, keluarga dapat menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak.
Pada akhirnya, anak bukan membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang mau belajar, mau memperbaiki diri, dan selalu berusaha hadir dengan kasih sayang dalam setiap proses tumbuh kembang mereka.
***
Sumber: Akun Facebook.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan