Queensha.id – Edukasi Anak,

 

Ejekan dari teman sekolah merupakan salah satu bentuk bullying verbal yang sering dialami anak-anak maupun remaja. Meski terlihat sepele, ejekan yang dilakukan berulang kali dapat memengaruhi kesehatan mental, rasa percaya diri, prestasi belajar, hingga hubungan sosial korban. Para ahli psikologi menegaskan bahwa bullying bukan sekadar bercanda, melainkan tindakan menyakiti yang dilakukan secara sengaja dan berulang dengan adanya ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban.

Berikut 10 cara menghadapi ejekan dari teman sekolah beserta penjelasan dan solusinya.

1. Tetap Tenang dan Jangan Membalas dengan Emosi

Saat diejek, tarik napas dalam dan usahakan tidak langsung marah atau membalas dengan kata-kata kasar.

Mengapa penting? Pelaku bullying sering mengharapkan reaksi emosional dari korbannya. Jika korban mampu tetap tenang, pelaku biasanya kehilangan kepuasan.

Solusi:

  • Tarik napas perlahan.
  • Hindari membalas hinaan.
  • Pergi dari situasi jika memungkinkan.

2. Bangun Rasa Percaya Diri

Korban bullying sering mulai percaya terhadap ejekan yang diterimanya.

Mengapa penting? Kepercayaan diri membantu anak memahami bahwa pendapat negatif orang lain tidak menentukan nilai dirinya.

Solusi:

  • Fokus pada kelebihan diri.
  • Ikut kegiatan yang disukai.
  • Berteman dengan lingkungan yang positif.

3. Jangan Menghadapi Bullying Sendirian

Memendam masalah justru membuat tekanan psikologis semakin berat.

Solusi:

  • Ceritakan kepada orang tua.
  • Laporkan kepada guru atau wali kelas.
  • Berkonsultasi dengan guru BK atau psikolog bila diperlukan.

4. Pilih Teman yang Mendukung

Lingkungan pertemanan sangat memengaruhi kondisi mental anak.

Solusi:

  • Berteman dengan anak yang saling menghargai.
  • Hindari kelompok yang gemar mengejek orang lain.

5. Berani Mengatakan “Berhenti”

Korban berhak mengatakan bahwa dirinya tidak suka diperlakukan seperti itu.

Solusi: Sampaikan dengan suara tegas namun sopan, misalnya: “Saya tidak suka diejek. Tolong berhenti.”

6. Hindari Membalas Bullying

Membalas ejekan dengan ejekan baru hanya memperburuk keadaan.

Mengapa? Konflik dapat semakin besar dan memicu kekerasan fisik maupun masalah baru di sekolah.

Solusi: Pilih menyelesaikan masalah melalui guru atau pihak sekolah.

7. Simpan Bukti Jika Terjadi Bullying di Media Sosial

Bullying kini juga terjadi melalui pesan atau media sosial.

Solusi:

  • Simpan tangkapan layar.
  • Jangan langsung menghapus bukti.
  • Laporkan kepada orang tua dan sekolah.

8. Latih Kemampuan Berkomunikasi

Kemampuan berbicara dengan percaya diri membantu anak menghadapi situasi sulit.

Solusi:

  • Belajar berbicara dengan kontak mata.
  • Gunakan bahasa yang sopan tetapi tegas.
  • Ikuti kegiatan yang meningkatkan keberanian berbicara.

9. Fokus pada Prestasi dan Pengembangan Diri

Prestasi dapat meningkatkan rasa percaya diri sekaligus memperluas pergaulan positif.

Solusi:

  • Rajin belajar.
  • Ikut olahraga, seni, atau organisasi sekolah.
  • Tetapkan target yang ingin dicapai.

10. Minta Bantuan Profesional Bila Mulai Terganggu

Jika bullying membuat anak sering menangis, takut sekolah, sulit tidur, kehilangan semangat belajar, atau mengalami kecemasan berkepanjangan, bantuan psikolog atau psikiater sangat dianjurkan.

Solusi:

  • Konsultasi dengan psikolog.
  • Libatkan orang tua dan pihak sekolah.
  • Jangan menganggap mencari bantuan sebagai tanda kelemahan.

Pandangan Pakar Psikologi

Psikolog pendidikan Indonesia seperti Dr. Ratna Djuwita dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menegaskan bahwa bullying dapat berupa kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis, dan semua bentuk tersebut dapat menimbulkan dampak serius apabila dibiarkan. Pencegahan harus melibatkan sekolah, keluarga, dan teman sebaya agar tercipta lingkungan belajar yang aman.

Kajian ilmiah juga menunjukkan bahwa korban bullying memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, rendah diri, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga penurunan prestasi belajar. Karena itu, penanganan bullying harus dilakukan secara menyeluruh melalui dukungan keluarga, sekolah, konseling psikologis, dan kebijakan anti-perundungan yang jelas.

 

Jadi, menghadapi ejekan dari teman sekolah membutuhkan keberanian, dukungan keluarga, guru, dan lingkungan yang peduli. Anak perlu memahami bahwa dirinya tidak bersalah karena menjadi korban bullying. Dengan membangun rasa percaya diri, berani melapor, memilih lingkungan pertemanan yang sehat, serta mendapatkan pendampingan bila diperlukan, dampak bullying dapat diminimalkan sehingga anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang sehat, percaya diri, dan berprestasi.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.