Queensha.id – Malang,

 

Pantai Bajulmati atau Bajol Mati merupakan salah satu destinasi wisata alam yang berada di Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pantai yang menghadap langsung ke Samudra Hindia ini dikenal memiliki panorama eksotis dengan pasir putih, batu karang, dan ombak besar yang menjadi daya tarik wisatawan.

Di balik keindahannya, Pantai Bajulmati juga menyimpan sejarah, legenda, dan berbagai mitos yang telah berkembang secara turun-temurun di tengah masyarakat.

 

Asal-usul Nama Pantai Bajulmati

Dalam bahasa Jawa, “bajul” berarti buaya, sedangkan “mati” berarti meninggal atau mati.

Menurut cerita masyarakat setempat, kawasan pantai ini mulai dikenal sekitar akhir abad ke-19. Setelah sempat tidak banyak dikunjungi, wilayah tersebut kembali ditemukan oleh warga sekitar pada tahun 1931 setelah banjir besar melanda kawasan itu.

Konon, saat pertama kali memasuki kawasan pantai, warga menemukan seekor buaya berukuran besar yang telah mati terdampar di pesisir. Dari peristiwa itulah nama Pantai Bajulmati kemudian digunakan hingga sekarang.

Selain itu, terdapat batu karang besar yang bentuknya menyerupai seekor buaya raksasa jika dilihat dari sudut tertentu. Karang tersebut kini menjadi salah satu ikon khas Pantai Bajulmati.

 

Mitos yang Berkembang di Masyarakat

Sebagaimana banyak pantai di pesisir selatan Pulau Jawa, Pantai Bajulmati juga dikaitkan dengan berbagai cerita mistis.

Salah satu legenda menyebutkan adanya pertarungan gaib antara penguasa Laut Selatan dengan seekor buaya putih. Dalam cerita rakyat tersebut, buaya putih akhirnya kalah dan mati di kawasan pantai sehingga melahirkan nama Bajulmati.

Mitos lain yang paling dikenal adalah larangan mengenakan pakaian berwarna hijau ketika berkunjung ke pantai selatan. Sebagian masyarakat meyakini warna hijau merupakan warna kesukaan Nyi Roro Kidul sehingga orang yang memakainya dikhawatirkan akan menjadi korban ombak.

 

Penjelasan Ilmiah

Dari sudut pandang ilmu pengetahuan, belum ada bukti ilmiah yang mendukung hubungan antara warna pakaian dengan kecelakaan di laut.

Sebaliknya, para ahli menjelaskan bahwa Pantai Bajulmati memiliki karakter ombak tinggi serta rip current atau arus balik yang sangat kuat. Arus ini mampu menyeret perenang ke tengah laut dalam waktu singkat.

Karena itu, larangan berenang terlalu jauh maupun berbagai nasihat tradisional dipandang sebagai bentuk kearifan lokal untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya ombak Samudra Hindia.

 

Pandangan Islam dan Ulama

Dalam Islam, kepercayaan terhadap hal-hal gaib harus berlandaskan Al-Qur’an dan hadis yang sahih.

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa mempercayai seseorang akan celaka hanya karena memakai pakaian berwarna hijau di pantai tidak memiliki dasar dalam syariat Islam.

Allah SWT berfirman:

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.” (QS. Al-An’am: 17)

Ayat tersebut menegaskan bahwa segala manfaat maupun musibah terjadi atas izin Allah SWT, bukan karena warna pakaian, tempat tertentu, atau makhluk gaib.

Rasulullah SAW juga melarang umatnya mempercayai tathayyur atau anggapan sial yang dikaitkan dengan tanda-tanda tertentu tanpa dasar syariat.

Ulama menjelaskan bahwa menghormati budaya lokal sebagai bagian dari sejarah dan tradisi diperbolehkan selama tidak meyakini mitos tersebut sebagai kebenaran akidah atau meminta perlindungan kepada selain Allah SWT.

 

Tetap Utamakan Keselamatan

Pengelola wisata maupun aparat setempat terus mengingatkan wisatawan agar mematuhi rambu-rambu keselamatan, tidak berenang di area berbahaya, serta selalu mengikuti arahan petugas.

Dengan demikian, Pantai Bajulmati tetap dapat dinikmati sebagai destinasi wisata alam yang indah sekaligus menjadi pengingat pentingnya mengutamakan keselamatan berdasarkan pengetahuan ilmiah, tanpa harus mempercayai mitos yang bertentangan dengan ajaran Islam.

 

 

Pantai Bajulmati merupakan salah satu kekayaan wisata alam Malang yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Mitos-mitos yang berkembang dapat dipahami sebagai bagian dari folklor masyarakat.

 

Namun, menurut pandangan Islam, seorang Muslim tetap harus menjaga kemurnian akidah dengan meyakini bahwa hanya Allah SWT yang menguasai segala sesuatu, sementara keselamatan di pantai hendaknya diupayakan dengan mematuhi aturan keselamatan dan menghindari area yang berbahaya.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.