Queensha.id – Edukasi Sosial,
Di berbagai daerah di Indonesia, masyarakat sejak dahulu mengenal berbagai mitos yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah anggapan bahwa anak yang memiliki dua bahkan tiga unyeng-unyeng di kepala akan tumbuh menjadi anak yang lebih bandel, sulit diatur, atau memiliki sifat keras.
Ungkapan tersebut masih sering terdengar hingga kini, terutama dari kalangan orang tua maupun kakek-nenek. Namun, benarkah jumlah unyeng-unyeng seseorang dapat menentukan sifat dan kepribadiannya?
Para ahli menegaskan bahwa anggapan tersebut hanyalah kepercayaan tradisional yang belum memiliki bukti ilmiah.
Apa Itu Unyeng-Unyeng?
Unyeng-unyeng atau pusaran rambut adalah pola alami pertumbuhan rambut di kulit kepala yang membentuk lingkaran atau spiral.
Pusaran ini mulai terbentuk ketika janin masih berada dalam kandungan, seiring perkembangan kulit dan folikel rambut. Karena dipengaruhi faktor genetik dan proses perkembangan embrio, setiap orang memiliki pola yang berbeda.
Sebagian besar orang memiliki satu pusaran rambut, tetapi ada pula yang memiliki dua, bahkan tiga. Semua kondisi tersebut masih tergolong normal.
Mengapa Jumlah Unyeng-Unyeng Berbeda?
Perbedaan jumlah unyeng-unyeng dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan perkembangan janin di dalam rahim.
Karena setiap individu berkembang dengan pola yang berbeda, arah tumbuh rambut pun tidak selalu sama. Itulah sebabnya ada orang yang memiliki satu pusaran di belakang kepala, dua pusaran berdampingan, atau bahkan tiga pusaran di lokasi berbeda.
Hingga saat ini, dunia medis belum menemukan bukti bahwa jumlah pusaran rambut berkaitan dengan tingkat kecerdasan, kenakalan, maupun karakter seseorang.
Benarkah Anak Dua Unyeng-Unyeng Lebih Bandel?
Guru Besar Psikologi dari , Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, menjelaskan bahwa pembentukan karakter anak dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti pola asuh, lingkungan keluarga, pendidikan, pengalaman hidup, dan temperamen bawaan.
Menurut kajian psikologi perkembangan, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa jumlah unyeng-unyeng dapat memprediksi perilaku anak.
Anak yang aktif, kritis, banyak bertanya, atau sulit diam bukan berarti bandel. Dalam banyak kasus, perilaku tersebut justru merupakan bagian dari proses perkembangan yang normal apabila diarahkan dengan pola asuh yang tepat.
Psikolog juga mengingatkan agar orang tua tidak memberi label negatif kepada anak hanya karena mempercayai mitos. Cap seperti “nakal”, “bandel”, atau “keras kepala” sejak dini dapat memengaruhi rasa percaya diri dan perkembangan psikologis anak.
Pandangan Islam
Dalam Islam, tidak ada dalil dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih yang menyebut bahwa jumlah unyeng-unyeng menjadi penentu sifat seseorang.
Islam mengajarkan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, sedangkan akhlak dan perilakunya dipengaruhi oleh pendidikan, lingkungan, serta pilihan hidupnya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah…”
Hadis ini menunjukkan bahwa karakter seseorang tidak ditentukan oleh bentuk fisik tertentu, melainkan berkembang melalui pendidikan, pembiasaan, dan lingkungan tempat ia tumbuh.
Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak mudah mempercayai mitos yang tidak memiliki dasar syariat maupun bukti ilmiah.
Fungsi Unyeng-Unyeng pada Kepala
Secara biologis, unyeng-unyeng bukanlah organ khusus yang memiliki fungsi tertentu seperti mata atau telinga.
Pusaran rambut terbentuk sebagai konsekuensi alami arah pertumbuhan folikel rambut selama perkembangan janin. Keberadaannya tidak memengaruhi fungsi otak, kecerdasan, emosi, maupun kepribadian seseorang.
Perbedaan arah pusaran hanya membuat pola rambut setiap orang menjadi unik.
Mengapa Mitos Ini Tetap Bertahan?
Menurut para ahli sosial, mitos mengenai dua unyeng-unyeng kemungkinan muncul dari pengamatan masyarakat pada masa lalu yang kemudian diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Karena beberapa anak yang kebetulan aktif memiliki dua pusaran rambut, masyarakat kemudian menghubungkan kedua hal tersebut tanpa adanya penelitian ilmiah yang membuktikannya.
Fenomena seperti ini dikenal sebagai bias konfirmasi, yaitu kecenderungan manusia mengingat kejadian yang mendukung keyakinannya dan mengabaikan contoh yang bertentangan.
Bijak Menyikapi Mitos
Mitos merupakan bagian dari kekayaan budaya yang patut dihormati sebagai warisan tradisi. Namun, masyarakat juga perlu membedakan antara kepercayaan turun-temurun dengan fakta yang telah dibuktikan melalui penelitian.
Orang tua sebaiknya lebih fokus membangun karakter anak melalui kasih sayang, keteladanan, pendidikan, dan komunikasi yang baik daripada menilai sifat anak berdasarkan jumlah unyeng-unyeng di kepalanya.
Pada akhirnya, satu, dua, atau bahkan tiga unyeng-unyeng hanyalah variasi alami pertumbuhan rambut. Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa jumlah unyeng-unyeng menentukan apakah seseorang akan menjadi anak yang bandel, cerdas, atau memiliki karakter tertentu. Kepribadian seseorang jauh lebih dipengaruhi oleh pola asuh, lingkungan, pendidikan, dan pengalaman hidup daripada bentuk pusaran rambut di kepala.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan