Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Nama Batara Karang atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Jenglot telah lama menjadi bagian dari cerita mistis di Indonesia. Wujudnya yang menyerupai manusia berukuran kecil dengan rambut panjang, kuku, dan taring membuat benda ini sering dikaitkan dengan ilmu hitam, pesugihan, hingga praktik klenik.

Meski demikian, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang membenarkan berbagai klaim supranatural mengenai Jenglot. Di sisi lain, masyarakat masih mempercayai beragam kisah turun-temurun mengenai asal-usulnya.

Berikut penjelasan dari berbagai sudut pandang.

 

Versi Mitos dan Kepercayaan Masyarakat

Dalam cerita rakyat dan kepercayaan mistis Jawa, Batara Karang disebut sebagai salah satu ilmu tingkat tinggi yang konon mampu memberikan kesaktian, kekebalan tubuh, bahkan keabadian.

Menurut cerita tersebut, seseorang yang mendalami ilmu hitam tertentu dipercaya akan mengalami perubahan setelah meninggal dunia. Tubuhnya diyakini tidak diterima bumi, kemudian mengering, menyusut, dan berubah menjadi sosok kecil yang dikenal sebagai Jenglot.

Sebagian pelaku spiritual juga meyakini Jenglot memiliki energi gaib yang dapat digunakan untuk pesugihan, perlindungan, hingga media santet. Bahkan muncul kepercayaan bahwa Jenglot harus “dirawat” menggunakan minyak wangi tertentu atau diberi tetesan darah.

Namun, seluruh kisah tersebut merupakan bagian dari mitos dan kepercayaan masyarakat yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

 

Penjelasan Ilmiah

Sejumlah penelitian forensik yang pernah dilakukan terhadap spesimen Jenglot menghasilkan kesimpulan berbeda.

Hasil pemeriksaan menggunakan foto rontgen (X-ray) menunjukkan bahwa objek yang diteliti tidak memiliki struktur anatomi manusia yang utuh. Susunan tulangnya tidak menyerupai kerangka manusia normal dan diduga merupakan gabungan dari berbagai bahan organik.

Selain itu, pemeriksaan laboratorium terhadap rambut maupun bagian tertentu memang pernah menemukan DNA manusia pada beberapa spesimen. Namun, hal tersebut tidak membuktikan bahwa Jenglot berasal dari manusia yang menyusut. Rambut atau kuku manusia dapat ditempelkan pada benda buatan.

Sejumlah ahli forensik berpendapat bahwa sebagian besar Jenglot kemungkinan merupakan hasil taxidermy atau karya seni modifikasi menggunakan jaringan hewan, tulang, rambut, serta bahan-bahan lain yang disusun sedemikian rupa sehingga tampak menyeramkan.

 

Pandangan Islam

Dalam ajaran Islam, tidak terdapat dalil sahih yang menyatakan adanya makhluk bernama Jenglot atau Batara Karang sebagaimana yang dipercaya dalam cerita mistis.

Para ulama menjelaskan bahwa seorang Muslim tidak dianjurkan mempercayai benda memiliki kekuatan gaib yang dapat mendatangkan rezeki, keselamatan, atau kesaktian secara mandiri.

Jika seseorang meyakini suatu benda memiliki kekuatan selain atas izin Allah SWT, maka keyakinan tersebut dapat mengarah kepada syirik, yaitu menyekutukan Allah.

Islam mengakui keberadaan makhluk gaib seperti jin karena disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis. Namun, menghubungkan Jenglot dengan kekuatan supranatural tanpa dasar syariat tidak dibenarkan.

Para ulama juga mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada praktik perdukunan, pesugihan, maupun ritual yang bertentangan dengan akidah.

 

Pendapat Pesulap Merah: Jenglot Diduga Hanya Rekayasa, Bukan Makhluk Gaib

Sosok Marcel Radhival atau yang lebih dikenal sebagai Pesulap Merah termasuk salah satu figur publik yang secara terbuka mengkritisi berbagai klaim benda-benda mistis, termasuk Jenglot.

Dalam sejumlah wawancara dan podcast, Pesulap Merah menyatakan bahwa Jenglot bukanlah makhluk gaib ataupun jin, melainkan lebih menyerupai boneka atau action figure yang dibuat dari bahan-bahan organik. Menurutnya, sebagian Jenglot diduga dirakit menggunakan tubuh kelelawar yang telah diawetkan, kemudian dimodifikasi dengan rambut manusia, kuku, hingga ukiran tertentu agar terlihat menyeramkan dan seolah-olah hidup.

Ia juga membantah berbagai mitos yang menyebut Jenglot harus diberi minum darah atau mampu mencari uang bagi pemiliknya.

“Jenglot bukan jin, itu mitos. Kenapa jenglot dibilang minum darah? Karena kelelawar itu minumnya darah,” ujar Pesulap Merah dalam sebuah podcast.

 

Ia juga menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan Jenglot dapat bergerak sendiri atau mendatangkan kekayaan bagi seseorang.

Pesulap Merah menjelaskan bahwa tujuan dirinya membahas Jenglot bukan untuk menghina budaya atau kepercayaan masyarakat, melainkan mengajak publik membedakan antara cerita rakyat, benda koleksi, dan klaim supranatural yang belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Ia menilai masyarakat perlu berpikir kritis agar tidak mudah menjadi korban penipuan yang memanfaatkan benda-benda yang diklaim memiliki kekuatan gaib.

Meski demikian, keberadaan Jenglot sebagai bagian dari cerita mistis dan budaya populer Nusantara masih menjadi perdebatan. Sebagian masyarakat mempercayainya sebagai benda bertuah, sementara kalangan ilmuwan dan praktisi seperti Pesulap Merah menilai fenomena tersebut lebih dapat dijelaskan melalui pendekatan ilmiah dan rasional.

 

Mengapa Mitos Jenglot Masih Bertahan?

Budayawan menilai kisah Jenglot tetap hidup karena diwariskan secara turun-temurun melalui cerita rakyat, pengalaman pribadi, hingga tayangan bertema mistis.

Selain bentuk fisiknya yang unik dan menyeramkan, minimnya pemahaman masyarakat mengenai proses pembuatan benda tersebut membuat berbagai cerita supranatural terus berkembang.

 

Jenglot atau Batara Karang merupakan salah satu fenomena budaya yang hingga kini masih menjadi perbincangan. Dalam tradisi mistis, Jenglot dikaitkan dengan ilmu hitam dan kesaktian. Namun, dari sudut pandang ilmiah, berbagai penelitian lebih mengarah pada kesimpulan bahwa Jenglot merupakan benda hasil rekayasa atau modifikasi, bukan jasad manusia yang menyusut.

Sementara itu, Islam mengajarkan agar umat tidak mempercayai benda-benda yang diklaim memiliki kekuatan gaib tanpa dasar syariat. Keimanan kepada Allah SWT, berpikir kritis, serta tidak mudah terpengaruh oleh klaim yang belum terbukti menjadi sikap yang dianjurkan dalam menyikapi berbagai fenomena mistis di masyarakat.

 

***

Sumber: BS.

Penulis: Vico Rahman.