Queensha.id – Edukasi Islam,

 

Momen Idul Fitri selalu dinanti umat Muslim sebagai hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Namun, tidak sedikit yang harus menelan kekecewaan karena terlambat bangun dan melewatkan sholat Id di pagi hari.

 

Pertanyaan pun muncul: apakah hal tersebut berdosa?

Dalam ajaran Islam, sholat Idul Fitri memiliki kedudukan penting. Mayoritas ulama menyepakati bahwa hukumnya adalah sunnah muakkad, yakni sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Meski demikian, sebagian ulama lain berpendapat hukumnya wajib, namun tidak setara dengan kewajiban sholat lima waktu.

Artinya, bagi seseorang yang tidak melaksanakan sholat Id karena kesiangan, tidak serta-merta dihukumi berdosa seperti meninggalkan sholat wajib. Namun, ia tetap kehilangan keutamaan besar yang terkandung dalam ibadah tersebut.

 

Lalu, bagaimana pandangan ulama terkemuka di Indonesia?

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Miftachul Akhyar, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa ibadah sunnah yang terlewat tidak sampai berdosa, namun sangat disayangkan karena mengandung pahala besar.

Senada dengan itu, Rais Aam Nahdlatul Ulama, KH Maimun Zubair (alm), pernah menegaskan bahwa umat Islam sebaiknya tidak berlarut dalam penyesalan, melainkan segera menggantinya dengan amal kebaikan lain dan memperbaiki ibadah ke depan.
Sementara itu, dari kalangan Muhammadiyah, pandangan yang berkembang juga sejalan, bahwa sholat Id merupakan ibadah yang sangat dianjurkan.

 

Jika terlewat, umat tetap didorong untuk menghidupkan hari raya dengan dzikir, sedekah, dan silaturahmi.
Lalu, apakah sholat Id yang terlewat bisa diganti?

Dalam hal ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian membolehkan untuk mengqadha sholat Id di rumah, baik secara sendiri maupun berjamaah, tanpa khutbah. Tata caranya pun sama, yakni dua rakaat dengan tambahan takbir.

Namun, sebagian ulama lain menilai bahwa sholat Id tidak perlu diqadha. Sebagai gantinya, umat dianjurkan memperbanyak amalan lain seperti dzikir, istighfar, sedekah, serta mempererat silaturahmi.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa esensi Idul Fitri tidak hanya terletak pada satu ibadah semata, tetapi pada keseluruhan nilai yang dibawanya—kembali kepada kesucian hati, memperbaiki hubungan, serta meningkatkan ketakwaan.

Bagi mereka yang terlanjur melewatkan sholat Id, pintu pahala di hari raya tetap terbuka luas. Penyesalan yang diiringi dengan amal kebaikan justru menjadi langkah awal untuk memperbaiki kualitas ibadah ke depan.

Di tengah suasana Lebaran, hal terpenting bukan sekadar hadir di lapangan sholat, tetapi bagaimana menjaga semangat kembali fitri dalam kehidupan sehari-hari.

 

***