Queensha.id – Edukasi Sosial,
Tradisi spiritual Kejawen masih dijalankan oleh sebagian masyarakat Jawa sebagai bagian dari warisan budaya leluhur. Salah satu praktik yang kerap dijumpai adalah penggunaan dupa atau kemenyan ketika berdoa, bermeditasi, atau menjalani laku spiritual.
Dalam sejumlah tradisi Kejawen, dupa dipandang sebagai simbol penyucian diri dan suasana batin, bukan sebagai objek yang disembah. Namun, praktik tersebut sering memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaiannya dengan ajaran Islam.
Kejawen sebagai Tradisi Budaya
Secara umum, Kejawen merupakan tradisi budaya Jawa yang memadukan nilai-nilai lokal, filsafat hidup, dan unsur spiritual yang berkembang sejak sebelum datangnya Islam, kemudian mengalami proses akulturasi dengan berbagai ajaran agama.
Dalam praktiknya, tata cara Kejawen dapat berbeda-beda tergantung daerah, komunitas, maupun guru spiritual yang mengajarkannya.
Pandangan Islam Tentang Ibadah
Dalam Islam, seluruh bentuk ibadah memiliki tata cara yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Prinsip utama dalam akidah Islam adalah bahwa doa, permohonan, dan ibadah hanya ditujukan kepada Allah SWT.
Para ulama menjelaskan bahwa suatu amalan dinilai berdasarkan niat, tujuan, dan cara pelaksanaannya.
Jika seseorang menggunakan benda seperti dupa atau wewangian hanya sebagai pengharum ruangan tanpa keyakinan bahwa benda tersebut memiliki kekuatan gaib atau dapat mengabulkan doa, maka hal itu berbeda dengan menjadikannya sebagai bagian dari ritual yang diyakini memiliki kekuatan spiritual tertentu.
Pendapat Ulama
Mayoritas ulama menegaskan bahwa membakar dupa atau kemenyan sebagai pengharum ruangan pada dasarnya diperbolehkan.
Namun, apabila seseorang meyakini bahwa asap dupa dapat mengantarkan doa, menghadirkan kekuatan gaib, mengusir makhluk halus, atau menjadi perantara yang memiliki kekuatan selain kehendak Allah SWT, maka keyakinan tersebut bertentangan dengan prinsip tauhid.
Ulama juga mengingatkan agar umat Islam berhati-hati terhadap praktik yang mengandung unsur meminta pertolongan kepada selain Allah, karena hal tersebut dapat mengarah kepada perbuatan syirik apabila disertai keyakinan demikian.
Islam Mengajarkan Doa Secara Langsung kepada Allah
Dalam ajaran Islam, seorang muslim diajarkan untuk berdoa secara langsung kepada Allah SWT tanpa memerlukan perantara benda-benda tertentu.
Al-Qur’an menyebutkan bahwa Allah dekat dengan hamba-Nya dan mengabulkan doa orang yang memohon kepada-Nya.
Selain itu, Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan ibadah yang lengkap, mulai dari salat, zikir, doa, membaca Al-Qur’an, hingga amalan-amalan sunnah lainnya.
Budaya dan Akidah Perlu Dibedakan
Sejumlah cendekiawan Muslim juga mengingatkan pentingnya membedakan antara budaya dan keyakinan agama.
Budaya yang tidak bertentangan dengan syariat pada dasarnya dapat dihargai sebagai bagian dari kekayaan tradisi bangsa. Namun apabila suatu praktik mengandung keyakinan yang bertentangan dengan ajaran tauhid atau menambah tata cara ibadah yang tidak diajarkan dalam syariat, maka umat Islam dianjurkan untuk menghindarinya.
Mengedepankan Toleransi dan Kehati-hatian
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman budaya dan tradisi. Karena itu, masyarakat diharapkan saling menghormati praktik budaya yang berkembang di tengah masyarakat tanpa mengabaikan keyakinan agama masing-masing.
Bagi umat Islam, para ulama menganjurkan agar setiap bentuk ibadah dan amalan dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman utama, sehingga akidah tetap terjaga dan terhindar dari praktik-praktik yang dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam beragama.
***
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan