Queensha.id – Edukasi Sejarah,

 

Selama ini masyarakat Indonesia mengenal Wali Songo sebagai sembilan ulama besar yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Nama-nama seperti Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, Sunan Giri, hingga Sunan Gunung Jati telah menjadi bagian dari sejarah Islam Nusantara.

Namun, di tengah masyarakat juga berkembang riwayat yang menyebut bahwa jumlah wali penyebar Islam di Jawa tidak hanya sembilan orang. Bahkan, beberapa tradisi lisan dan naskah lokal menyebut jumlahnya mencapai 27 tokoh.

Lantas, benarkah Wali Songo sebenarnya berjumlah lebih dari sembilan orang?

 

Wali Songo Merupakan Sebutan, Bukan Selalu Jumlah Tokoh Sepanjang Sejarah

Para sejarawan menjelaskan bahwa istilah Wali Songo secara umum merujuk pada sebuah majelis atau kelompok sembilan wali yang menjadi tokoh utama dakwah Islam di Jawa pada periode tertentu, bukan berarti hanya ada sembilan ulama yang berjasa menyebarkan Islam.

Dalam perkembangannya, anggota kelompok tersebut diduga mengalami pergantian dari waktu ke waktu seiring wafatnya seorang wali dan munculnya penerus yang melanjutkan dakwah.

Karena itu, tidak semua tokoh hidup pada masa yang sama.

Beberapa sumber sejarah juga menunjukkan bahwa ketika Kesultanan Demak mulai berdiri, sebagian tokoh yang kini dikenal sebagai Wali Songo masih berusia muda, sedangkan tokoh seperti Sunan Ampel dan Sunan Ngudung telah memasuki usia lanjut.

Hal ini menunjukkan proses penyebaran Islam di Jawa berlangsung lintas generasi.

 

Muncul Versi 27 Tokoh Wali

Dalam sejumlah tradisi Jawa berkembang pendapat bahwa terdapat sekitar 27 ulama yang memiliki peran besar dalam dakwah Islam di Nusantara.

Selain sembilan nama yang dikenal luas, daftar tersebut memasukkan tokoh-tokoh seperti Syekh Siti Jenar, Syekh Jumadil Kubro, Maulana Ishaq, Sunan Geseng, Sunan Bayat, Sunan Katong, Sunan Mantingan, hingga Sunan Walilanang.

Sebagian masyarakat memaknai angka 27 sebagai simbol yang tetap berujung pada angka 9 (2 + 7 = 9), sehingga istilah Songo tetap digunakan.

Namun demikian, pandangan ini berasal dari tradisi lokal dan belum menjadi kesimpulan tunggal dalam kajian sejarah akademik.

 

Sejarawan: Perlu Membedakan Fakta Sejarah dan Tradisi Lisan

Para peneliti sejarah Islam Nusantara mengingatkan bahwa banyak kisah mengenai para wali berasal dari babad, hikayat, silsilah keluarga, dan tradisi tutur masyarakat.

Sumber-sumber tersebut memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi tidak seluruhnya dapat dipastikan sebagai fakta sejarah karena minimnya bukti tertulis yang sezaman.

Oleh sebab itu, sejumlah nama dalam daftar 27 wali masih menjadi bahan kajian para sejarawan.

Sementara itu, sembilan tokoh yang selama ini dikenal sebagai Wali Songo merupakan nama-nama yang paling banyak disebut dalam berbagai manuskrip sejarah dan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan Islam di Pulau Jawa.

 

Pandangan Ulama Indonesia

Mayoritas ulama di Indonesia memandang bahwa yang paling penting bukan memperdebatkan jumlah para wali, melainkan mengambil teladan dari perjuangan mereka dalam menyebarkan Islam dengan hikmah, akhlak yang baik, dan pendekatan budaya.

dalam berbagai ceramahnya menjelaskan bahwa Wali Songo berhasil menyebarkan Islam secara damai melalui pendekatan budaya, pendidikan, perdagangan, serta keteladanan hidup, sehingga ajaran Islam dapat diterima masyarakat tanpa kekerasan.

Sementara itu, juga kerap mengingatkan agar umat Islam menghormati jasa para wali tanpa berlebihan. Menurutnya, para wali adalah ulama saleh yang patut diteladani perjuangannya, sedangkan ibadah dan doa tetap ditujukan hanya kepada Allah SWT.

 

Dakwah dengan Pendekatan Budaya

Salah satu keistimewaan Wali Songo adalah metode dakwah yang adaptif terhadap budaya lokal.

Mereka menggunakan berbagai media seperti wayang, gamelan, seni ukir, sastra, arsitektur masjid, hingga tradisi masyarakat sebagai sarana mengenalkan nilai-nilai Islam.

Pendekatan tersebut dinilai berhasil menciptakan proses islamisasi yang damai dan berkelanjutan di Nusantara.

 

Perdebatan mengenai apakah Wali Songo berjumlah sembilan atau lebih dari itu masih menjadi bagian dari diskusi sejarah Islam Nusantara.

Secara umum, sejarawan mengakui adanya banyak ulama yang berperan dalam penyebaran Islam di Jawa. Namun, istilah Wali Songo tetap dikenal sebagai sebutan bagi sembilan tokoh utama atau sebuah majelis wali pada periode tertentu.

Terlepas dari perbedaan versi sejarah, seluruh ulama sepakat bahwa warisan terbesar para wali bukanlah jumlahnya, melainkan keteladanan dalam berdakwah dengan ilmu, akhlak mulia, toleransi, dan kebijaksanaan.

***

Sumber: BS.

Penulis: Vico Rahman.