Queensha.id – Lingkungan Hidup,
Fenomena perburuan biawak di permukiman warga kembali menjadi sorotan. Ketakutan yang berlebihan membuat satwa ini kerap diburu bahkan dibunuh, padahal perannya justru krusial dalam menjaga keseimbangan alam.
Di berbagai wilayah, biawak masih dianggap ancaman. Kehadirannya di sekitar sungai, sawah, atau pekarangan sering memicu kepanikan warga. Namun para ahli lingkungan menegaskan, anggapan tersebut keliru dan berpotensi merusak keseimbangan ekosistem.
Predator Alami yang Melindungi Manusia
Biawak merupakan predator puncak yang secara alami memangsa berbagai hewan, termasuk ular berbisa. Dalam rantai makanan, peran ini sangat vital untuk mengontrol populasi hewan yang berpotensi membahayakan manusia.
Pengamat lingkungan Emil Salim menegaskan bahwa biawak bukan musuh manusia.
“Biawak adalah penjaga ekosistem. Jika diburu hingga berkurang, populasi ular bisa meningkat tajam,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).
Senjata Alami yang Membuatnya Tangguh
Biawak memiliki kemampuan biologis yang membuatnya unggul sebagai pengendali alami:
– Rahang kuat dan refleks cepat untuk melumpuhkan mangsa.
– Air liur dengan kandungan bakteri yang mempercepat pelemahan mangsa.
– Gigitan strategis yang efektif.
– Kulit tebal seperti perisai, mampu menahan serangan ular.
Dengan kemampuan tersebut, biawak mampu memangsa ular yang hidup di habitat yang sama, seperti semak, sungai, dan area lembap.
Jika Diburu, Alam Bisa “Balas Dendam”
Perburuan biawak bukan hanya mengancam kelangsungan satwa, tetapi juga memicu efek domino berbahaya.
Penurunan populasi biawak dapat menyebabkan:
– Lonjakan populasi ular berbisa.
– Meningkatnya risiko gigitan ular pada manusia.
– Terganggunya keseimbangan rantai makanan.
– Tidak terkendalinya hama seperti tikus dan bangkai.
Fenomena ini dikenal sebagai dampak berantai ekosistem, di mana hilangnya satu spesies berdampak luas pada lingkungan.
Edukasi Jadi Kunci, Bukan Kepanikan
Masyarakat diimbau untuk tidak bertindak gegabah saat bertemu biawak. Langkah yang disarankan antara lain:
– Menjaga jarak dan tetap tenang.
-Tidak memprovokasi atau mencoba menangkap.
– Menghubungi petugas berwenang.
– Menjaga kebersihan lingkungan agar tidak mengundang satwa liar.
Kesadaran terhadap kesadaran ekologis menjadi kunci utama dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Stop Perburuan, Selamatkan Keseimbangan
Biawak bukan ancaman, melainkan “penjaga tak terlihat” yang melindungi manusia dari bahaya yang lebih besar. Membunuh biawak sama saja membuka pintu bagi meningkatnya ancaman ular berbisa di lingkungan sekitar.
Sudah saatnya masyarakat mengubah cara pandang: dari takut menjadi paham, dari memburu menjadi melindungi.
***
(Redaksi: Queensha Jepara | 24 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan