Queensha.id – Jepara,

 

Tradisi mengarak anak yang baru dikhitan dengan menunggang kuda masih menjadi budaya yang terus dilestarikan oleh sebagian masyarakat di Kabupaten Jepara. Iringan musik tanjidor, kuda hias, bendera manggar yang dihiasi lembaran uang, hingga arak-arakan keliling kampung menjadi simbol rasa syukur keluarga atas terlaksananya prosesi khitan.

Momen tersebut pernah dirasakan oleh keluarga Luluk Ilhana saat menggelar acara khitan untuk kedua putranya, Rafasya Lufi Pratama dan Ferdiansya Afandi, yang merupakan kakak beradik.

Acara berlangsung di kediaman keluarga di RT 09 RW 03, Desa Kedungcino, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, pada Desember 2025. Saat itu suasana kampung dipenuhi iringan musik tanjidor yang mengantar kedua anak berkeliling desa dengan menaiki kuda hias.

Dalam tradisi tersebut, kuda dihias sedemikian rupa agar tampak menarik. Di bagian depan arak-arakan juga terdapat bendera manggar yang dihiasi uang pecahan Rp2.000, menjadi salah satu ciri khas yang masih sering dijumpai dalam pesta khitan di sejumlah daerah di Jepara.

Untuk menghadirkan kemeriahan tersebut, biaya penyewaan rombongan arak-arakan diperkirakan berkisar Rp3 juta, sedangkan paket lengkap beserta perlengkapan tambahan dapat mencapai sekitar Rp4 juta, tergantung fasilitas yang dipilih.

Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan kisah haru yang masih membekas di hati Luluk Ilhana. Ia mengenang momen khitan kedua putranya sebagai salah satu kenangan indah bersama almarhum suaminya, Romanto Afendi.

Sebagai seorang ibu, Luluk mengaku setiap kali melihat kembali foto maupun video prosesi khitan tersebut, perasaannya bercampur antara bahagia dan sedih.

“Kalau mengingat satu tahun yang lalu rasanya masih sedih. Alhamdulillah anak-anak bisa menjalani khitan dengan lancar. Itu menjadi salah satu kenangan yang sangat berharga bagi keluarga kami, apalagi sekarang ayah mereka, almarhum Romanto Afendi, sudah tidak lagi bersama kami,” tutur Luluk Ilhana, Sabtu (15/8/2026).

Menurutnya, tradisi arak-arakan khitan bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus bentuk doa agar anak-anak yang telah memasuki fase baru dalam kehidupan dapat tumbuh menjadi pribadi yang saleh, sehat, berbakti kepada orang tua, dan berguna bagi masyarakat.

Di berbagai wilayah Jepara, tradisi khitan dengan arak-arakan menggunakan kuda masih menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Selain menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tradisi tersebut juga mempererat hubungan antar tetangga karena warga biasanya turut menyaksikan hingga mengiringi rombongan sepanjang perjalanan keliling desa.

Meski perkembangan zaman menghadirkan berbagai bentuk perayaan modern, budaya khitan naik kuda yang dipadukan dengan iringan tanjidor tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Jepara. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, sekaligus upaya menjaga warisan budaya agar tetap lestari dari generasi ke generasi.

 

***

Sumber: LI.

Penulis: Vico Rahman.