Queensha.id – Jepara,

 

Sejarah panjang Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Jepara tidak dapat dipisahkan dari kiprah para ulama yang mendedikasikan hidupnya untuk dakwah, pendidikan, dan penguatan organisasi. Salah satu tokoh penting yang tercatat dalam perjalanan sejarah tersebut adalah KH Abdul Rosyid, atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Mbah Rosyid Saripan.

Nama Mbah Rosyid tercatat sebagai utusan resmi NU Cabang Jepara dalam Muktamar Nahdlatul Ulama ke-8 yang diselenggarakan di Batavia (Jakarta) pada tahun 1933. Rekam jejak tersebut terdokumentasi dalam majalah resmi organisasi Soera Nahdlatul Oelama edisi Nomor IV Tahun 1933.

Keikutsertaan beliau menjadi bukti bahwa ulama Jepara telah memiliki peran strategis dalam perjalanan organisasi NU sejak masa-masa awal berdirinya.

 

Menimba Ilmu dari Pesantren hingga Tanah Suci Makkah

Lahir di Saripan sekitar tahun 1906, KH Abdul Rosyid merupakan putra dari KH Muhammad Zain, seorang qadi atau penghulu Jepara pada akhir abad ke-19 yang dimakamkan di kompleks Astana Mantingan.

Sejak kecil, Mbah Rosyid tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kuat memegang tradisi keilmuan Islam. Pendidikan agamanya dimulai di Pesantren Darussalam Saripan di bawah bimbingan ayahnya dan pamannya, KH Abdul Qodir.

Perjalanan intelektualnya kemudian berlanjut ke berbagai pesantren besar di Pulau Jawa.

Di Pesantren Kasingan, Rembang, beliau berguru kepada KH Kholil. Di pesantren inilah Mbah Rosyid menjalin persahabatan dengan KH Ahmad Fauzan yang kemudian menjadi adik iparnya sekaligus rekan seperjuangan dalam mengembangkan NU di Jepara.

Selanjutnya beliau menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, Jombang, langsung di bawah asuhan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Dari Tebuireng, karakter kepemimpinan, kedisiplinan, dan sanad keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah semakin kuat tertanam dalam dirinya.

Tak berhenti di tanah air, Mbah Rosyid juga melanjutkan pendidikan ke Haramain (Makkah) selama kurang lebih tiga tahun sambil menunaikan ibadah haji sebelum kembali mengabdikan diri kepada masyarakat Jepara.

 

Konsisten Berdakwah Hingga Pelosok Jepara

Sekembalinya dari Makkah, KH Abdul Rosyid mengabdikan hidupnya di Pesantren Darussalam Saripan serta aktif memberikan pengajian kepada masyarakat.

Salah satu bentuk pengabdiannya adalah rutin mengajar dua kali setiap pekan di Masjid Purwogondo, Kalinyamatan, dengan menempuh perjalanan sekitar 18 kilometer dari rumahnya demi membina masyarakat.

Ketekunan tersebut menjadikan beliau dikenal sebagai ulama yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga memberikan keteladanan melalui pengorbanan dan kedisiplinan.

 

Dakwah yang Berpadu dengan Kepedulian Sosial

Selain mengajar, Mbah Rosyid juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap kondisi sosial masyarakat.

Bersama KH Ahmad Fauzan, beliau menggalang para dermawan untuk membantu masyarakat kurang mampu, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri dan Hari Asyura. Tradisi santunan tersebut masih terus dilestarikan hingga sekarang.

Dalam bidang literasi, beliau juga menulis sejumlah kitab, di antaranya Tarjamatu Al-Tauhid Li Ibtidail Murid dan As-ilatul Waro, yang membahas dasar-dasar akidah dan amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah.

Sementara di bidang pendidikan, Mbah Rosyid menjadi pelopor berdirinya Madrasah Al-Islam Saripan, yang kini berkembang menjadi lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU Jepara, mulai dari jenjang SD, MI, MTs hingga Madrasah Diniyah.

 

Kiprah di Tingkat Wilayah Nahdlatul Ulama

Peran KH Abdul Rosyid tidak hanya di tingkat lokal.

Beliau kembali hadir sebagai utusan Tanfidziyah dalam Muktamar NU tahun 1939 di Magelang serta pernah dipercaya menjadi Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah.

Pengakuan tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan para ulama terhadap kapasitas kepemimpinan dan keilmuan Mbah Rosyid.

 

Wafat dan Warisan yang Terus Dikenang

KH Abdul Rosyid wafat pada 11 Dzulqa’dah 1401 Hijriah atau 9 November 1981 dan dimakamkan di Gandrung, Potroyudan, Jepara.

Prosesi pemakamannya dihadiri ribuan pelayat serta para ulama dari berbagai daerah. Talqin dipimpin oleh sahabat karibnya, Al-Quthub Prof. Dr. Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih Al-Alawy dari Pesantren Darul Hadis Malang.

Hingga kini, jasa beliau dalam membangun pendidikan, memperkuat organisasi NU, dan membimbing masyarakat masih menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

 

Keturunan Mbah Rosyid Masih Terjaga

Salah satu wartawan aktif di Kabupaten Jepara sekaligus mantan komedian, Vico Rahman, mengungkapkan bahwa dirinya merupakan salah satu keturunan KH Abdul Rosyid Saripan.

“Ya, orang tua saya dan keluarga besar dari ayah kandung saya, Abdul Muhaimin, sering menceritakan bahwa kami merupakan cucu Mbah Abdul Rosyid Saripan,” ujar Vico Rahman, Senin (17/8/2026).

Menurutnya, keluarga besar masih menyimpan silsilah keturunan sebagai bukti hubungan keluarga dengan ulama kharismatik tersebut.

“Ya, kami memiliki daftar dan bukti silsilah keluarga serta keturunan Mbah Rosyid,” imbuhnya.

Warisan perjuangan KH Abdul Rosyid tidak hanya tercermin melalui lembaga pendidikan yang masih berdiri hingga kini, tetapi juga melalui nilai-nilai keilmuan, dakwah, kepedulian sosial, dan pengabdian kepada umat yang terus diwariskan kepada generasi penerus di Jepara.

 

***

Sumber: Queensha Jepara/SJ.

Penulis: Vico Rahman.