Queensha.id – Jombang,
KH Muhammad Anwar Manshur kembali dipercaya menjadi anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Ahad (30/8/2026).
Kepercayaan tersebut menegaskan posisi KH Anwar Manshur sebagai salah satu ulama sepuh yang memiliki pengaruh besar di lingkungan Nahdlatul Ulama. Sebelumnya, beliau juga terpilih sebagai anggota AHWA pada Muktamar ke-34 NU yang berlangsung di Lampung.
Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo
KH Anwar Manshur saat ini merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, salah satu pesantren terbesar dan tertua di Indonesia. Beliau memimpin pesantren tersebut sejak tahun 2014, melanjutkan estafet kepemimpinan para ulama pendahulunya.
Lahir pada 1 Maret 1938 di lingkungan Pesantren Lirboyo, Kediri, KH Anwar merupakan putra dari KH Manshur dan Nyai Salamah, putri ketiga KH Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo.
Menempuh Pendidikan Sejak Kecil
Pendidikan agama KH Anwar dimulai di Pesantren Tarbiyatunnasyiin yang diasuh ayahnya di Pacul Gowang, Diwek, Jombang. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikan di Pesantren Tebuireng hingga tingkat tsanawiyah sebelum kembali ke Lirboyo untuk mendalami ilmu agama.
Dalam kehidupan keluarga, KH Anwar menikah dengan Nyai Umi Kulsum, putri KH Mahrus Aly. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai delapan orang anak yang terdiri atas tiga putra dan lima putri.
Aktif Mengemban Amanah di Nahdlatul Ulama
Selain mengasuh pesantren, KH Anwar Manshur juga aktif mengemban amanah di organisasi Nahdlatul Ulama.
Beliau tercatat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2022–2027. Di tingkat provinsi, beliau menjabat Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur sejak 2015 dan kembali dipercaya memimpin untuk periode 2024–2029.
Pernah Menjadi Pedagang Singkong
Semasa muda, KH Anwar pernah mencoba menekuni dunia usaha. Setelah menikah pada usia 24 tahun, beliau berdagang singkong dengan mengirim hasil dagangannya ke Jakarta.
Namun, usaha tersebut mengalami kegagalan setelah kiriman singkong tiba dalam kondisi rusak sehingga menyebabkan kerugian.
Melihat kondisi tersebut, sang ayah memberikan nasihat yang kemudian menjadi titik balik perjalanan hidup KH Anwar.
“Sudahlah, mengaji saja. Bekerja hanyalah perantara, tetapi jangan sampai meninggalkan mengaji.”
Nasihat itu membuat KH Anwar memilih fokus mendalami ilmu agama. Sejak saat itu, beliau menjadikan mengaji sebagai prioritas utama, sementara aktivitas berdagang hanya dilakukan sebagai usaha sampingan.
Keteladanan dalam Keistiqamahan Mengaji
Salah satu hal yang paling dikenal dari sosok KH Anwar Manshur adalah keistiqamahannya dalam mengajar dan beribadah.
Para santri Lirboyo menceritakan bahwa beliau memulai pengajian kitab sejak pukul 07.00 WIB hingga menjelang waktu Zuhur tanpa jeda. Pada malam hari, beliau kembali mengajar berbagai kitab hingga sekitar pukul 23.00 WIB.
Tak hanya itu, sekitar pukul 02.00 dini hari, KH Anwar kembali bangun untuk melaksanakan salat malam serta beriktikaf di Masjid Lawang Songo.
Rutinitas tersebut terus dijaga selama bertahun-tahun dan menjadi teladan bagi ribuan santri yang belajar di Pondok Pesantren Lirboyo.
Pesan untuk Para Santri
KH Anwar Manshur selalu menanamkan pentingnya mengaji kepada para santri.
Beliau berpesan bahwa dalam kondisi apa pun, seorang santri harus tetap mendahulukan menuntut ilmu agama.
“Bekerja hanyalah perantara, sedangkan mengaji merupakan bekal utama dalam kehidupan,” menjadi salah satu pesan yang terus beliau sampaikan kepada para santri.
Terpilihnya kembali KH Anwar Manshur sebagai anggota AHWA pada Muktamar ke-35 NU menjadi bukti besarnya kepercayaan warga Nahdliyin terhadap sosok ulama yang dikenal sederhana, istiqamah, serta konsisten mengabdikan hidupnya untuk pendidikan Islam dan pengembangan Nahdlatul Ulama.
***
Sumber: NU Online.

Tinggalkan Balasan