Queensha.id – Jepara,

 

Suasana Ruang Baca TBM Capung di Desa Mambak, Kabupaten Jepara, dipenuhi gelak tawa anak-anak. Sore itu, rasa penasaran mereka terjawab melalui eksperimen sains sederhana yang dipandu oleh Akbar, seorang pegiat literasi asal Jakarta.

Di hadapan puluhan anak, Akbar menuangkan cuka ke dalam botol yang telah diisi baking soda. Seketika busa putih menyembur keluar dari botol. Anak-anak yang menyaksikan langsung bersorak riang sambil berteriak, “Lagi, lagi!”

Akbar merupakan pegiat literasi yang telah lama aktif di komunitas 1001buku, tempat ia memulai kiprahnya sebagai relawan literasi. Hingga kini, ia terus menggerakkan berbagai kegiatan literasi di Jakarta. Namun, kunjungannya ke Jepara kali ini membawa misi berbeda, yakni memperkenalkan literasi sains kepada anak-anak melalui kegiatan yang menyenangkan dan mudah dipahami.

Sebelum mengunjungi TBM Capung, Akbar terlebih dahulu menggelar kegiatan serupa di Rumah Belajar Ilalang, Desa Kecapi. Dengan memanfaatkan alat-alat sederhana yang mudah ditemukan di sekitar, ia mengajak anak-anak mengamati, bertanya, dan mencoba berbagai percobaan ilmiah.

Tidak ada buku pelajaran tebal maupun rumus-rumus yang rumit. Anak-anak justru diajak memahami berbagai fenomena alam melalui permainan sederhana, seperti melihat perubahan warna air, memahami reaksi kimia sederhana, hingga mengetahui bagaimana benda dapat bergerak.

Setibanya di TBM Capung Desa Mambak, antusiasme anak-anak semakin tinggi. Mereka berebut ingin mencoba sendiri setiap eksperimen yang diperagakan.

Pengelola TBM Capung, Bu Nisa, mengaku sangat mengapresiasi kegiatan tersebut karena mampu membangun semangat belajar anak-anak dengan cara yang menyenangkan.

“Kegiatan ini bisa kami tiru untuk mengenalkan proses-proses perubahan di alam dengan eksperimen sederhana,” ujarnya, dilansir dari Suarabaru, Selasa (1/9/2026).

Menurutnya, metode belajar seperti ini membuat anak-anak lebih mudah memahami berbagai peristiwa di sekitar tanpa merasa sedang mengikuti proses belajar yang membosankan.

Bagi Akbar, literasi sains bukan sekadar mempelajari teori atau menghafal rumus. Yang jauh lebih penting adalah menumbuhkan rasa ingin tahu sejak usia dini.

Ia meyakini bahwa anak-anak akan lebih mencintai sains apabila mereka diberikan kesempatan untuk bertanya, mengamati, mencoba, hingga menemukan jawaban melalui percobaan sederhana.

“Dari situlah anak-anak belajar menjelaskan fenomena, merancang cara mencoba, dan menarik kesimpulan mereka sendiri,” jelasnya.

Suasana TBM Capung pun berubah menjadi ruang eksplorasi. Rak-rak buku berada di sisi ruangan, sementara meja eksperimen menjadi pusat perhatian anak-anak yang penasaran ingin mencoba berbagai percobaan.

Bersama Akbar yang duduk lesehan di tengah mereka, anak-anak diajak membangun keberanian untuk bertanya dan mencari jawaban secara mandiri.

Melalui kegiatan tersebut, literasi tidak lagi dipandang hanya sebagai aktivitas membaca buku, tetapi juga menjadi proses memahami dunia melalui pengamatan, eksperimen, dan rasa ingin tahu.

Akbar berharap kegiatan serupa dapat menginspirasi lebih banyak Taman Bacaan Masyarakat di berbagai daerah agar menghadirkan pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, dan mampu menumbuhkan generasi yang gemar berpikir kritis.

Sebab, menurutnya, ketika seorang anak mulai berani bertanya “kenapa”, saat itulah perjalanan literasi sesungguhnya baru dimulai.

***

Sumber: Hadepe/SB.

Penulis: Vico Rahman.