Queensha.id – Edukasi Sosial,
Memberi kepada sesama merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Namun, nilai sebuah pemberian tidak hanya diukur dari besar atau kecilnya harta yang diberikan, melainkan juga dari keikhlasan hati orang yang memberi.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9).
Ayat tersebut mengajarkan bahwa seorang mukmin hendaknya berbuat baik semata-mata mengharap ridha Allah SWT, bukan pujian maupun balasan dari manusia.
Berikut sepuluh ciri orang yang suka memberi tanpa mengharap balasan.
1. Memberi karena Allah SWT
Orang yang ikhlas menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama. Ia tidak menjadikan pemberiannya sebagai sarana mencari popularitas atau keuntungan pribadi.
Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah beramal semata-mata karena Allah SWT.
2. Tidak Mengungkit Pemberian
Setelah membantu orang lain, ia tidak terus mengingatkan atau mengungkit bantuan yang pernah diberikan.
Dalam Al-Qur’an, Allah melarang menghilangkan pahala sedekah dengan mengungkit-ungkit pemberian maupun menyakiti perasaan penerima.
3. Tidak Kecewa Jika Tidak Diberi Balasan
Orang yang benar-benar ikhlas tidak marah ketika bantuannya tidak dibalas atau bahkan tidak diucapkan terima kasih.
Ia yakin bahwa balasan terbaik datang dari Allah SWT, bukan dari manusia.
4. Tetap Membantu Saat Mampu
Mereka tidak memilih-milih siapa yang akan dibantu berdasarkan keuntungan yang akan diperoleh.
Selama memiliki kemampuan, mereka berusaha memberikan manfaat kepada siapa saja yang membutuhkan.
5. Tidak Mencari Pujian
Orang yang tulus tidak haus pujian atau sanjungan.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan bahwa sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi lebih dekat kepada keikhlasan dan dapat menjauhkan diri dari riya, meskipun sedekah yang dipublikasikan untuk mengajak orang lain tetap diperbolehkan selama niatnya benar.
6. Tetap Rendah Hati
Semakin banyak memberi, semakin rendah hati sikapnya.
Ia tidak merasa lebih mulia dibanding orang yang menerima bantuan karena menyadari bahwa semua rezeki berasal dari Allah SWT.
7. Memberi dengan Wajah Ramah
Islam mengajarkan bahwa sedekah bukan hanya berupa harta.
Senyum, ilmu, tenaga, doa, serta ucapan yang baik juga termasuk sedekah apabila dilakukan dengan niat yang benar.
8. Tidak Membedakan Orang
Orang yang tulus tidak mudah membeda-bedakan penerima bantuan berdasarkan status sosial, suku, pekerjaan, ataupun kedudukan.
Baginya, membantu sesama merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama manusia.
9. Bersyukur Diberi Kesempatan Berbagi
Mereka memandang kesempatan membantu orang lain sebagai nikmat dari Allah SWT.
Karena itu, mereka merasa bersyukur masih diberikan rezeki untuk berbagi, bukan merasa kehilangan.
10. Istiqamah Berbuat Baik
Ciri terakhir adalah konsisten dalam berbuat baik.
Ia tidak hanya memberi ketika sedang memiliki kelebihan harta, tetapi juga terus menebarkan manfaat melalui tenaga, ilmu, waktu, perhatian, maupun doa.
Pandangan Ulama Indonesia
Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Abdul Muiz Ali, menjelaskan bahwa ukuran utama diterimanya sedekah adalah keikhlasan. Menurutnya, persoalan ikhlas merupakan urusan hati (amrun qalbiyah) yang hanya Allah SWT mengetahuinya. Seseorang dapat bersedekah secara terbuka ataupun diam-diam, namun niatnya harus tetap karena Allah.
Sementara itu, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) mengingatkan bahwa orang yang ikhlas tidak mengharapkan balasan dari manusia, tidak menyebut-nyebut sedekahnya, serta tetap beramal dalam keadaan lapang maupun sempit.
Memberi tanpa mengharap balasan merupakan salah satu akhlak yang sangat mulia dalam Islam. Orang yang ikhlas akan menjadikan Allah SWT sebagai tujuan utama, tidak mengungkit pemberian, tidak mengejar pujian, serta tetap istiqamah berbuat baik kepada sesama.
Semakin seseorang mampu menjaga keikhlasan dalam memberi, semakin besar pula harapan agar amalnya diterima oleh Allah SWT. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta yang dimiliki, melainkan pada hati yang lapang untuk berbagi tanpa pamrih.
***
Sumber,: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan