Queensha.id – Edukasi Islam,
Sebuah unggahan dari akun Facebook Ida Yuliatin menjadi perhatian warganet karena berisi renungan tentang singkatnya kehidupan manusia di dunia serta pentingnya mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan akhirat.
Dalam narasinya, disebutkan bahwa setiap manusia memiliki batas usia yang berbeda-beda. Ada yang meninggal di usia muda, ada yang mencapai 40 tahun, 50 tahun, 70 tahun, bahkan lebih. Namun, pada akhirnya seluruh manusia akan kembali kepada Allah SWT dan mempertanggungjawabkan setiap amal perbuatannya.
Unggahan tersebut juga mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. As-Sajdah: 5)
Selain itu, disampaikan pula doa yang diajarkan Rasulullah SAW agar memperoleh hisab yang mudah di akhirat:
اللهم حاسبني حسابًا يسيرًا
“Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah.”
Kehidupan Dunia Hanyalah Sementara
Dalam pandangan Islam, kehidupan dunia merupakan tempat sementara untuk mengumpulkan amal saleh. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 2 bahwa Dia menciptakan hidup dan mati untuk menguji siapa yang paling baik amalnya.
Para ulama menjelaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang Muslim bukanlah panjang pendeknya usia, melainkan kualitas amal selama hidup. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruk manusia adalah yang panjang umurnya namun buruk amalnya.
Hisab yang Mudah Adalah Rahmat Allah
Menurut penjelasan para ulama, di antaranya Imam An-Nawawi dalam syarah hadis, yang dimaksud dengan hisab yang mudah bukan berarti seseorang tidak diperiksa amalnya sama sekali. Hisab yang mudah adalah ketika Allah SWT memperlihatkan amal seorang hamba, kemudian mengampuni kesalahan-kesalahannya tanpa memberikan azab.
Hal ini sejalan dengan hadis riwayat dan , ketika Rasulullah SAW menjelaskan bahwa siapa yang dihisab secara rinci, maka ia akan celaka. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan senantiasa memohon rahmat Allah agar memperoleh hisab yang ringan.
Taubat dan Amal Saleh Menjadi Bekal Terbaik
Ulama juga menekankan bahwa kesempatan hidup di dunia hendaknya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh. Taubat yang tulus, menjaga salat lima waktu, memperbanyak istighfar, berbakti kepada orang tua, menjaga lisan, menunaikan hak sesama manusia, bersedekah, serta mengikhlaskan setiap ibadah hanya karena Allah merupakan bekal terbaik menuju akhirat.
Selama pintu taubat masih terbuka dan nyawa belum sampai di tenggorokan, Allah SWT tetap menerima taubat hamba-Nya yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya.
Menjadikan Renungan sebagai Motivasi
Unggahan yang beredar di media sosial tersebut sejatinya menjadi pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan datang. Oleh karena itu, Islam mengajarkan umatnya agar tidak menunda-nunda berbuat baik, memperbaiki diri, serta senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT.
Sebab pada akhirnya, bukan panjangnya usia yang akan menjadi ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah, melainkan keimanan, ketakwaan, dan amal saleh yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan.
Semoga setiap langkah kehidupan yang dijalani menjadi amal yang diterima Allah SWT, dan ketika tiba saatnya kembali kepada-Nya, setiap Muslim memperoleh hisab yang mudah serta husnul khatimah.
***
Sumber: Ida Yuliatin.
Penulis: Vico Rahman

Tinggalkan Balasan