Queensha.id – Jepara,
Kabupaten Jepara tidak hanya dikenal sebagai Kota Ukir, tetapi juga memiliki beragam kuliner tradisional yang masih lestari hingga saat ini. Salah satunya adalah Kintelan, makanan khas Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, yang memiliki nilai budaya tinggi dan selalu identik dengan Tradisi Perang Obor.
Kini, Kintelan tidak hanya dijual saat pelaksanaan Tradisi Perang Obor. Pemerintah Desa Tegalsambi bersama pelaku UMKM setempat terus mengembangkan berbagai varian rasa sehingga masyarakat maupun wisatawan dapat menikmatinya sepanjang tahun.
Apa Itu Kintelan?
Kintelan merupakan jajanan tradisional berbentuk bulat yang dibuat dari adonan tepung ketan dan santan. Di bagian tengahnya diisi enten-enten berupa kelapa parut yang dimasak bersama gula merah hingga harum dan legit. Setelah dikukus, Kintelan disajikan dengan siraman kuah santan kental (areh) yang gurih sehingga menghasilkan perpaduan rasa manis, gurih, dan tekstur kenyal.
Dalam filosofi masyarakat Tegalsambi, ketan melambangkan “kraketan” atau perekat persaudaraan. Karena itu, Kintelan menjadi simbol kerukunan, kebersamaan, dan eratnya hubungan antar sesama warga.
Bahan-Bahan Kintelan
Bahan Kulit
- 250 gram tepung ketan
- Santan hangat secukupnya
- Sejumput garam
Bahan Isian
- Kelapa parut
- Gula merah
- Daun pandan
Kuah Areh
- Santan kental
- Garam secukupnya
- Sedikit maizena (opsional)
Cara Membuat
- Campurkan tepung ketan, santan hangat, dan garam hingga menjadi adonan kalis.
- Masak kelapa parut bersama gula merah dan daun pandan hingga menjadi enten-enten.
- Ambil sedikit adonan, pipihkan, isi dengan enten-enten, lalu bulatkan.
- Kukus sekitar 30 menit hingga matang.
- Rebus santan bersama sedikit garam hingga menjadi kuah areh.
- Sajikan Kintelan dengan siraman kuah santan hangat.
Kandungan Gizi Kintelan
Sebagai makanan tradisional, Kintelan memiliki sejumlah kandungan gizi yang bermanfaat, di antaranya:
- Karbohidrat dari tepung ketan sebagai sumber energi.
- Lemak alami dari santan dan kelapa.
- Serat pangan dari kelapa parut.
- Mineral seperti mangan, kalium, fosfor, dan magnesium.
- Vitamin B dalam jumlah kecil dari beras ketan.
- Gula merah mengandung mineral seperti zat besi, kalium, dan kalsium meski dalam jumlah yang tidak terlalu tinggi.
Karena menggunakan santan dan gula merah, Kintelan sebaiknya dikonsumsi secukupnya sebagai kudapan tradisional.
Saripah: Kintelan Dibuat dari Tepung Ketan dan Gula Merah
Salah satu pembuat Kintelan di Desa Tegalsambi, Saripah (53), mengatakan bahwa resep yang digunakan hingga kini masih mempertahankan cara tradisional yang diwariskan keluarganya.
“Harga satu porsi Rp8.000. Bahannya dari tepung ketan, kemudian diisi gula merah dan kelapa. Sampai sekarang kami masih membuatnya secara tradisional supaya rasanya tetap khas,” ujar Saripah, Sabtu (5/9/2026) saat ditemui pada sore hari di lokasi Perempatan Tegalsambi, Jepara.
Menurutnya, permintaan Kintelan biasanya meningkat menjelang dan saat Tradisi Perang Obor. Namun kini masyarakat juga mulai mencarinya pada hari-hari biasa karena cita rasanya yang khas.
Masih Dilestarikan Secara Turun-Temurun
Di Desa Tegalsambi, pembuatan Kintelan masih dilestarikan oleh generasi tua. Salah satunya adalah Muslihah (83) yang mewariskan resep keluarga kepada putrinya, Saripah (53).
Selain keluarga tersebut, Pemerintah Desa Tegalsambi bersama pelaku UMKM terus mengembangkan Kintelan dengan berbagai inovasi rasa seperti original, nangka, nanas, dan durian agar mampu menarik minat generasi muda sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
Diusulkan Menjadi Warisan Budaya Takbenda
Kintelan saat ini tengah menjalani proses verifikasi sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga kelestarian kuliner khas Tegalsambi sekaligus memperkenalkan identitas budaya Jepara kepada masyarakat Indonesia hingga mancanegara.
Kehadiran Kintelan membuktikan bahwa makanan tradisional bukan sekadar hidangan, melainkan juga menyimpan sejarah, filosofi, serta nilai kebersamaan yang diwariskan lintas generasi.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Jepara, mencicipi Kintelan menjadi salah satu pengalaman kuliner yang wajib dicoba. Di balik rasa manis dan gurihnya, tersimpan kisah panjang tentang budaya, persaudaraan, dan semangat masyarakat Tegalsambi dalam menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan