Queensha.id – Jawa Timur,

 

Fenomena Sound Horeg dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu hiburan rakyat yang berkembang pesat di sejumlah daerah di Jawa Timur. Awalnya hanya digunakan untuk memeriahkan karnaval, sedekah bumi, hingga perayaan kemerdekaan, namun dalam perkembangannya fenomena ini memunculkan berbagai polemik karena dinilai mengganggu ketertiban umum dan keselamatan masyarakat.

Perdebatan semakin mengemuka setelah sejumlah tokoh agama, pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur memberikan perhatian serius terhadap aktivitas tersebut.

Terbaru, pengusaha sound horeg Setyo Budi Mularso, pemilik Aeromax, mendatangi Kantor MUI Jawa Timur untuk melakukan tabayun sekaligus menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya yang dinilai kurang pantas terhadap MUI. Ia juga berkomitmen mengedukasi pelaku sound horeg agar lebih tertib, tidak menghadirkan pertunjukan seronok, tidak mengganggu masyarakat, serta mematuhi fatwa dan aturan yang berlaku.

 

Apa Itu Sound Horeg?

Sound horeg merupakan istilah yang populer di Jawa Timur untuk menyebut pertunjukan audio berdaya besar menggunakan puluhan hingga ratusan speaker yang menghasilkan dentuman bass sangat kuat.

Kata “horeg” berasal dari bahasa Jawa yang berarti bergetar atau berguncang, menggambarkan suara bass yang mampu membuat tanah, bangunan, hingga tubuh penonton ikut bergetar.

Awalnya sound horeg hanya digunakan sebagai hiburan lokal, tetapi kemudian berkembang menjadi ajang kompetisi antar pemilik sound system dengan ukuran, daya listrik, dan kekuatan suara yang semakin besar.

 

Awal Mula Berkembangnya Sound Horeg

Fenomena ini mulai berkembang di berbagai daerah Jawa Timur sekitar pertengahan 2010-an.

Beberapa wilayah yang dikenal sering menggelar pertunjukan sound horeg antara lain:

  • Malang Raya
  • Blitar
  • Kediri
  • Tulungagung
  • Jombang
  • Mojokerto
  • Pasuruan
  • Lumajang
  • Probolinggo
  • Banyuwangi

Seiring perkembangan media sosial, video pertunjukan sound horeg menjadi viral sehingga tren tersebut menyebar ke berbagai daerah lain.

 

Mengapa Sound Horeg Menjadi Polemik?

Meski dianggap sebagai hiburan rakyat, banyak pihak menilai pelaksanaannya sering melampaui batas.

Volume suara yang sangat tinggi, kerumunan massa, penggunaan jalan umum, hingga berbagai aktivitas pendukung membuat fenomena ini memunculkan banyak keluhan masyarakat.

MUI Jawa Timur bahkan mendorong adanya regulasi yang lebih ketat agar kegiatan tersebut tidak membahayakan masyarakat.

10 Dampak Sound Horeg yang Dinilai Meresahkan Masyarakat

1. Kebisingan Berlebihan

Volume suara dapat mencapai tingkat yang sangat tinggi sehingga mengganggu warga sekitar.

Bayi, lansia, orang sakit, hingga pelajar yang sedang belajar menjadi kelompok yang paling terdampak.

 

2. Berpotensi Merusak Pendengaran

Paparan suara dengan intensitas tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran, tinnitus (telinga berdenging), hingga kerusakan permanen pada telinga.

 

3. Mengganggu Ketertiban Umum

Acara sering berlangsung hingga larut malam sehingga mengganggu waktu istirahat masyarakat.

Keluhan paling banyak datang dari warga yang membutuhkan lingkungan tenang untuk beribadah, bekerja, maupun belajar.

 

4. Kemacetan Jalan

Banyak pertunjukan menggunakan jalan umum sehingga menghambat lalu lintas.

Kendaraan darurat maupun masyarakat umum kerap mengalami kesulitan melintas.

 

5. Risiko Kecelakaan

Kerumunan besar yang mengikuti kendaraan sound horeg meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, terutama ketika peserta berdesakan atau berjoget di badan jalan.

Beberapa insiden bahkan dilaporkan menimbulkan korban luka maupun korban jiwa.

 

6. Pertunjukan yang Dinilai Tidak Sesuai Norma

Sebagian acara menghadirkan penari dengan pakaian minim atau gerakan yang dianggap tidak sesuai norma kesopanan.

Hal ini menjadi salah satu poin yang banyak dikritik tokoh agama dan masyarakat.

 

7. Dugaan Peredaran Minuman Keras

Dalam beberapa kegiatan, aparat menemukan adanya konsumsi maupun penjualan minuman keras yang berpotensi memicu keributan dan tindakan kriminal.

 

8. Memicu Perkelahian

Kerumunan besar dengan kondisi emosional yang tinggi kadang berujung pada perselisihan antar penonton maupun antar kelompok pendukung.

Polisi di sejumlah daerah beberapa kali melakukan pembubaran untuk mencegah bentrokan.

 

9. Mengganggu Fasilitas Umum dan Lingkungan

Getaran suara berdaya tinggi dikeluhkan sebagian warga karena dianggap mengganggu kenyamanan lingkungan. Selain itu, sampah yang ditinggalkan setelah acara juga menjadi persoalan tersendiri.

 

10. Memicu Pro dan Kontra di Tengah Masyarakat

Sebagian warga menganggap sound horeg sebagai hiburan rakyat yang menggerakkan ekonomi lokal.

Namun, kelompok lain menilai kegiatan tersebut perlu dibatasi karena lebih banyak menimbulkan dampak negatif dibanding manfaat apabila tidak diatur secara ketat.

 

Perlunya Regulasi yang Jelas

Berbagai pihak menilai fenomena sound horeg tidak dapat disikapi secara hitam putih. Di satu sisi, kegiatan ini mampu menggerakkan sektor ekonomi kreatif, penyewaan sound system, UMKM, hingga hiburan masyarakat. Di sisi lain, penyelenggara harus mematuhi aturan terkait batas kebisingan, keselamatan, penggunaan jalan umum, ketertiban, serta norma sosial.

Pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan pelaku usaha diharapkan dapat menyusun regulasi yang jelas agar hiburan rakyat tetap dapat berlangsung tanpa mengganggu hak masyarakat lain atas keamanan, kenyamanan, dan ketertiban.

 

***

Sumber: BS.

Penulis: Vico Rahman.