Queensha.id – Jakarta,
Tingginya angka kejadian kebakaran di Jakarta menjadi perhatian serius pemerintah dan para ahli keselamatan kerja. Berdasarkan laporan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, tercatat sebanyak 457 kejadian kebakaran terjadi selama periode Juli hingga Agustus 2026.
Dua wilayah yang disebut memiliki angka kejadian cukup tinggi adalah Jakarta Barat dan Jakarta Timur. Dari berbagai kasus yang terjadi, penyebab dominan kebakaran masih didominasi oleh korsleting listrik, kemudian pembakaran sampah serta kelalaian masyarakat seperti membuang puntung rokok sembarangan.
Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa risiko kebakaran masih menjadi ancaman serius, baik bagi kawasan permukiman maupun berbagai fasilitas seperti gedung perkantoran, gudang, pabrik, pusat perbelanjaan, rumah sakit, hotel, hingga kawasan industri.
Proteksi Kebakaran Harus Dimulai dari Pencegahan
Ahli K3 Spesialis Penanggulangan Kebakaran, Nur Julismen (Joe), mengatakan penanganan kebakaran tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah muncul.
Menurutnya, sistem proteksi kebakaran yang baik harus dimulai sejak tahap awal, mulai dari mengenali potensi bahaya, melakukan pencegahan, menyediakan sistem deteksi dini, hingga menyiapkan prosedur evakuasi.
“Kebakaran seharusnya tidak menunggu terjadi baru kita memikirkan cara mengatasinya. Yang paling penting adalah bagaimana potensi kebakaran dapat diketahui sejak awal, kemudian sistem proteksinya dipersiapkan dan dipastikan berfungsi saat dibutuhkan,” ujar Nur Julismen, Kamis (10/9/2026).
Ia menjelaskan, Alat Pemadam Api Ringan (APAR) memang menjadi salah satu perlengkapan penting dalam menghadapi kebakaran tahap awal. Namun, untuk bangunan dengan tingkat risiko tertentu, diperlukan sistem proteksi yang lebih menyeluruh.
Sistem tersebut dapat mencakup:
- APAR sesuai jenis risiko kebakaran.
- Fire alarm atau sistem alarm kebakaran.
- Smoke detector dan heat detector.
- Sprinkler otomatis.
- Hydrant dan fire pump.
- Jalur evakuasi darurat.
- Emergency exit.
- Prosedur tanggap darurat.
Korsleting Listrik Jadi Faktor Risiko Utama
Dengan korsleting listrik menjadi salah satu penyebab terbesar kebakaran, Joe mengingatkan pentingnya pemeriksaan instalasi listrik secara berkala.
Menurutnya, penggunaan kabel yang tidak sesuai kapasitas, sambungan listrik tidak standar, beban listrik berlebihan, panel yang tidak terawat, hingga peralatan listrik rusak dapat meningkatkan risiko panas berlebih yang berujung kebakaran.
“Jangan hanya melihat apakah listrik masih menyala atau tidak. Instalasi harus diperiksa kondisinya. Panel, kabel, sambungan dan beban listrik perlu dievaluasi secara berkala, terutama pada bangunan yang beroperasi terus-menerus atau memiliki beban listrik tinggi,” jelas Joe.
Langkah Antisipasi Kebakaran pada Bangunan
Joe menjelaskan beberapa langkah penting yang perlu dilakukan pemilik maupun pengelola bangunan untuk mengurangi risiko kebakaran, antara lain:
1. Identifikasi Sumber Bahaya
Pengelola harus mengenali berbagai potensi penyebab kebakaran, seperti instalasi listrik, bahan mudah terbakar, dapur, mesin produksi, pekerjaan panas (hot work), serta area penyimpanan.
2. Menyediakan Sistem Deteksi Dini
Sistem deteksi seperti alarm kebakaran, smoke detector, dan heat detector dapat membantu mengetahui adanya kebakaran sejak tahap awal.
3. Memastikan APAR Berfungsi
APAR harus tersedia di lokasi yang mudah dijangkau, tidak terhalang, sesuai jenis kebakaran, serta dilakukan pemeriksaan rutin.
4. Pemeriksaan Sistem Hydrant dan Sprinkler
Sistem hydrant, fire pump, jockey pump, hydrant box, valve, hingga jaringan perpipaan harus diuji secara berkala agar siap digunakan ketika keadaan darurat.
5. Melakukan Pengujian Sistem Proteksi
Pemasangan peralatan saja tidak cukup. Seluruh sistem proteksi kebakaran harus melalui proses pengujian (testing and commissioning) agar dapat dipastikan bekerja sesuai standar.
6. Menyiapkan Jalur Evakuasi
Bangunan harus memiliki jalur keluar darurat, titik kumpul, lampu darurat, serta tanda petunjuk evakuasi yang jelas.
7. Melakukan Pelatihan Kebakaran
Karyawan atau penghuni gedung perlu mendapatkan pelatihan penggunaan APAR, prosedur menghadapi alarm kebakaran, hingga tata cara evakuasi.
Menit Awal Kebakaran Sangat Menentukan
Joe menjelaskan bahwa waktu menjadi faktor penting dalam penanggulangan kebakaran. Api dapat berkembang dengan cepat apabila terdapat unsur panas, bahan bakar, dan oksigen yang mendukung.
Karena itu, sistem deteksi dini dan proteksi kebakaran harus mampu memberikan respons cepat sebelum api membesar.
“Dalam penanggulangan kebakaran, waktu sangat menentukan. Semakin cepat kebakaran terdeteksi dan ditangani pada tahap awal, semakin besar peluang untuk mencegah api berkembang menjadi kejadian besar,” katanya.
Namun, keselamatan manusia tetap menjadi prioritas utama. Jika api sudah membesar, asap semakin pekat, atau kondisi tidak memungkinkan dilakukan pemadaman awal secara aman, masyarakat maupun pekerja harus segera melakukan evakuasi dan menghubungi petugas pemadam kebakaran.
Proteksi Kebakaran Bukan Sekadar Memenuhi Aturan
Menurut Joe, masih banyak pihak yang menganggap sistem proteksi kebakaran hanya sebagai persyaratan administrasi. Padahal, fungsi utamanya adalah melindungi manusia, aset, dan keberlangsungan operasional.
Kebakaran dapat menyebabkan kerugian besar, bukan hanya dari sisi bangunan dan peralatan, tetapi juga terganggunya produksi, kehilangan data, kerusakan mesin, terhentinya rantai pasok, hingga menurunnya kepercayaan pelanggan.
“Proteksi kebakaran jangan dipandang sebagai pengeluaran semata. Sistem yang dirancang, dipasang dan dipelihara dengan benar merupakan investasi untuk melindungi nyawa, aset dan keberlangsungan bisnis,” ujar Nur Julismen.
Tingginya angka kebakaran di Jakarta menjadi peringatan bahwa kesiapsiagaan harus dilakukan sebelum bencana terjadi. Pencegahan melalui desain bangunan yang aman, instalasi sesuai standar, pemeriksaan rutin, pemeliharaan sistem, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama mengurangi risiko kebakaran.
Sistem proteksi kebakaran terbaik bukan hanya yang mampu memadamkan api, tetapi juga yang mampu mencegah kebakaran kecil berkembang menjadi bencana besar.
***
Sumber: BS.

Tinggalkan Balasan