Queensha.id – Edukasi Religi,
Fenomena seseorang yang memulai hubungan dari perselingkuhan, kemudian menikah dan menganggapnya sebagai “jodoh” atau “takdir Tuhan” masih menjadi perbincangan di tengah masyarakat.
Sebagian orang beranggapan bahwa jika sebuah hubungan akhirnya berujung pada pernikahan, maka hal tersebut merupakan bukti bahwa pasangan tersebut memang ditakdirkan bersama. Namun dalam perspektif agama Islam, pemahaman tersebut perlu diluruskan agar tidak mencampuradukkan antara takdir Allah dengan pilihan manusia dalam melakukan suatu perbuatan.
Takdir Tidak Bisa Dijadikan Alasan Membenarkan Perselingkuhan
Dalam konsep Islam, takdir atau qadar berarti segala sesuatu terjadi dalam pengetahuan dan kehendak Allah. Namun manusia tetap diberikan akal, pilihan, serta tanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan.
Seseorang tidak dapat mengatakan bahwa sebuah dosa menjadi benar hanya karena pada akhirnya menghasilkan sesuatu yang dianggap baik.
Misalnya, hubungan yang diawali dengan perselingkuhan tetap merupakan perbuatan yang salah karena terdapat unsur pengkhianatan terhadap pasangan, merusak kepercayaan, dan melanggar batas moral maupun agama.
Pernikahan yang terjadi setelah perselingkuhan memang bisa menjadi bagian dari ketentuan Allah, tetapi proses menuju pernikahan tersebut tetap menjadi tanggung jawab manusia.
Perselingkuhan Dalam Pandangan Islam
Dalam ajaran Islam, perselingkuhan termasuk perbuatan yang dilarang karena dapat membuka pintu menuju kemaksiatan.
Perselingkuhan tidak hanya berkaitan dengan hubungan fisik, tetapi juga dapat dimulai dari:
- zina mata melalui pandangan yang tidak dijaga,
- zina hati melalui keinginan terhadap pasangan orang lain,
- komunikasi yang melampaui batas,
- hubungan rahasia yang mengkhianati pasangan sah.
Karena itu, hubungan yang dibangun melalui perselingkuhan tidak dapat begitu saja dianggap suci hanya karena akhirnya berakhir dalam sebuah pernikahan.
Apakah Pernikahan Dari Hubungan Perselingkuhan Sah?
Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai pernikahan yang terjadi setelah hubungan terlarang atau zina.
Namun, banyak ulama menekankan pentingnya taubat nasuha sebelum seseorang membangun kehidupan rumah tangga baru.
Jika sebuah pernikahan telah terjadi dan memenuhi syarat serta rukun nikah, maka secara hukum fikih pernikahan tersebut dapat dianggap sah. Akan tetapi, kesalahan dan dosa dari proses sebelumnya tetap harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah apabila belum disertai taubat.
Artinya, sahnya sebuah pernikahan tidak otomatis menghapus kesalahan masa lalu.
Jangan Mengubah Kesalahan Menjadi Kisah Romantis Atas Nama Takdir
Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah ketika seseorang menjadikan kalimat “sudah jodoh” atau “sudah takdir” sebagai pembenaran atas hubungan yang sebelumnya dilakukan dengan cara yang salah.
Padahal dalam Islam, takdir bukanlah alasan untuk meninggalkan nilai kebenaran.
Jalan yang salah tetaplah salah, meskipun seseorang akhirnya mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Sikap yang lebih tepat adalah mengakui kesalahan, meminta ampun kepada Allah, memperbaiki diri, serta membangun kehidupan baru dengan nilai kejujuran dan ketakwaan.
Dampak Sosial Dari Pernikahan Yang Berawal Dari Perselingkuhan
Selain persoalan agama, hubungan yang lahir dari perselingkuhan sering membawa dampak sosial yang panjang.
Tidak sedikit masyarakat yang masih mengingat bagaimana sebuah rumah tangga sebelumnya berakhir akibat adanya orang ketiga.
Yaitu komentar sosial seperti:
“Dulu dia mendapatkan pasangan dari rumah tangga orang lain, sementara pasangan sebelumnya yang berjuang dari nol justru ditinggalkan.”
“Semoga kehidupan yang baru bisa dibangun dengan cara yang lebih baik dan penuh tanggung jawab.”
sering muncul karena masyarakat melihat adanya luka yang pernah terjadi.
Namun, manusia juga perlu memahami bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah. Kesalahan masa lalu harus menjadi pelajaran, bukan alasan untuk terus menghukum seseorang sepanjang hidupnya.
Membangun Rumah Tangga Setelah Kesalahan Masa Lalu
Bagi pasangan yang pernah melakukan kesalahan besar sebelum menikah, jalan terbaik bukanlah membanggakan masa lalu tersebut, melainkan memperbaikinya.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Melakukan taubat dengan sungguh-sungguh.
- Mengakui kesalahan tanpa mencari pembenaran.
- Memutus hubungan dengan masa lalu yang buruk.
- Menjalankan rumah tangga dengan kejujuran.
- Tidak mengulangi tindakan yang pernah menyakiti orang lain.
Sebuah rumah tangga akan lebih kuat jika dibangun di atas kejujuran, tanggung jawab, dan nilai agama.
Jadi, menikah setelah hubungan perselingkuhan bukan berarti seseorang boleh mengatakan bahwa perselingkuhan tersebut benar karena “itulah jodoh dan takdir”.
Takdir Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan kemaksiatan manusia.
Yang menjadi jalan terbaik adalah bertaubat, memperbaiki diri, dan membuktikan perubahan melalui perilaku yang lebih baik.
Sebab pada akhirnya, bukan hanya bagaimana seseorang mendapatkan pasangan, tetapi juga bagaimana seseorang mempertanggungjawabkan setiap pilihan yang telah dilakukan di hadapan Allah dan manusia.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan