Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Di tengah budaya kerja keras yang sering mengukur kesuksesan dari banyaknya uang dan panjangnya jam kerja, kisah seorang penjual sate bernama Pak Haji Ramli menghadirkan sudut pandang berbeda. Filosofinya tentang rezeki dan kehidupan sederhana menjadi renungan yang menyentuh hati.

Seorang pelanggan menceritakan pengalamannya saat menjadi pelanggan setia warung sate milik Pak Haji Ramli. Menurutnya, sate tersebut merupakan salah satu yang terenak di Surabaya. Namun ada satu hal yang membuat pelanggan kerap kebingungan, yakni jam operasional warung yang tidak menentu.

Sebelum datang, pelanggan harus menghubungi Pak Haji terlebih dahulu. Jika tidak, sering kali warung dalam keadaan tutup.

Merasa penasaran, pelanggan itu akhirnya bertanya mengapa sang penjual tidak membuka warung setiap hari secara rutin.

“Rezeki sudah diatur, kenapa harus begitu?” jawab Pak Haji Ramli dengan tenang.

Pelanggan kemudian mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut berpotensi membuat banyak pelanggan beralih ke tempat lain.

Namun, jawaban Pak Haji justru semakin mengejutkan.

“Hai anak muda, rezeki itu ada di langit, bukan di bumi. Cobalah membaca Al-Qur’an. Saya memilih berjualan di siang hari. Kalau malam, biarlah rezeki itu menjadi bagian pembuat sate yang lain,” tuturnya.

Memilih Cukup Daripada Terus Mengejar

Pak Haji Ramli mengaku dirinya sudah merasa cukup dengan hasil berjualan pada siang hari. Baginya, membuka usaha hingga larut malam bukan lagi soal mencari tambahan penghasilan, melainkan soal memilih antara uang dan kualitas hidup.

Ia lebih memilih memiliki waktu bersama keluarga, pulang ke kampung halaman di Madura setiap dua pekan, memancing, bersepeda melewati sawah, hingga bercengkerama dengan masyarakat sekitar.

Menurutnya, kebahagiaan tidak selalu identik dengan kemewahan.

Ia bahkan mempertanyakan apakah semua orang yang terlihat kaya benar-benar menikmati hidup mereka.

“Yang pasti saya tidak dikejar target, tidak dikejar utang. Naik sepeda menikmati angin jauh lebih nikmat daripada duduk di mobil mewah dengan AC,” katanya.

Bekerja Keras Boleh, Tetapi Jangan Kehilangan Hidup

Dalam perbincangan itu, Pak Haji juga mengingatkan bahwa banyak orang bekerja tanpa mengenal waktu demi mengumpulkan harta.

Padahal, tidak sedikit yang pada akhirnya harus menghabiskan uang hasil jerih payahnya untuk mengobati penyakit akibat terlalu memforsir diri ketika masih muda.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara bekerja, beristirahat, dan menikmati hidup merupakan hal yang tak kalah penting dibanding mengejar materi.

Waktu Lebih Berharga daripada Uang

Bagian paling menyentuh dari percakapan itu terjadi ketika Pak Haji menjelaskan makna peribahasa “waktu adalah uang.”

Menurutnya, banyak orang keliru memaknai ungkapan tersebut.

“Waktu memang uang, tetapi bukan berarti setiap waktu harus dipakai mencari uang. Uang bisa dicari lagi, sedangkan waktu tidak akan pernah kembali,” ujarnya.

Bahkan ia menilai, meluangkan waktu berbincang dengan pelanggan jauh lebih berharga dibanding sekadar terus memanggang sate.

Dengan begitu, hubungan yang terjalin bukan sekadar antara penjual dan pembeli, melainkan persahabatan yang dapat dikenang sepanjang hidup.

Pelajaran tentang Rezeki dan Rasa Syukur

Kisah Pak Haji Ramli bukan sekadar cerita tentang seorang penjual sate. Filosofi hidupnya mengajarkan bahwa rezeki bukan hanya soal besarnya penghasilan, tetapi juga tentang kesehatan, ketenangan batin, waktu bersama keluarga, serta rasa syukur atas apa yang dimiliki.

Dalam pandangannya, setiap orang memiliki bagian rezekinya masing-masing. Yang bekerja di siang hari memiliki porsinya, begitu pula mereka yang bekerja pada malam hari.

Pesan sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa bekerja keras memang penting, tetapi hidup juga perlu dinikmati dengan penuh syukur dan keseimbangan.

 

Catatan redaksi: Tulisan ini merupakan artikel inspiratif yang diadaptasi dari narasi yang beredar di media sosial. Kebenaran dialog dan identitas tokoh belum dapat diverifikasi secara independen.

Sumber: Kredit narasi: Qolbu_muslim.