Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Dalam perjalanan pernikahan, hubungan suami istri tidak selalu berada dalam fase penuh gairah. Ada kalanya hubungan berubah menjadi rutinitas hingga terasa sekadar memenuhi kewajiban. Kondisi ini sering disebut sebagai fase “gugur kewajiban”, yaitu ketika keintiman tidak lagi menjadi bentuk kasih sayang, tetapi hanya rutinitas.

Psikolog keluarga menyebut kondisi tersebut sebagai tanda menurunnya koneksi emosional. Dalam Islam sendiri, hubungan suami istri bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis, tetapi juga sebagai bentuk ibadah, kasih sayang (mawaddah), dan rahmat.

Berikut sepuluh tandanya beserta solusi dan pandangan Islam.

1. Melakukan karena Kasihan atau Takut Pasangan Marah

Hubungan dilakukan bukan karena keinginan bersama, melainkan agar pasangan tidak kecewa, ngambek, atau marah.

Solusi

Bangun komunikasi yang jujur mengenai kebutuhan, perasaan, dan harapan masing-masing tanpa saling menyalahkan.

Pandangan Islam

Islam mengajarkan suami dan istri untuk saling memperlakukan pasangan dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf). Hubungan yang dibangun atas kasih sayang jauh lebih utama dibanding dilakukan dengan keterpaksaan.

2. Tidak Ada Lagi Variasi dalam Hubungan

Semuanya berjalan monoton. Pasangan merasa, “yang penting selesai.”

Solusi

Ciptakan suasana romantis, luangkan waktu berkualitas bersama, lakukan aktivitas yang mempererat kedekatan emosional.

Pandangan Islam

Islam tidak melarang pasangan menciptakan suasana yang menyenangkan selama dilakukan dengan cara yang halal dan saling menghormati.

3. Hilangnya Sentuhan Kasih Sayang Sehari-hari

Tidak ada lagi pelukan, genggaman tangan, senyuman, atau ciuman penuh kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Solusi

Biasakan memberi perhatian kecil setiap hari karena kedekatan emosional dimulai dari hal sederhana.

Pandangan Islam

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang lembut kepada istri-istrinya. Beliau menunjukkan kasih sayang melalui perhatian, candaan, dan sikap penuh kelembutan.

4. Setelah Selesai Langsung Berpisah

Tidak ada lagi obrolan, pelukan, atau ungkapan kasih setelah hubungan selesai.

Solusi

Luangkan waktu beberapa menit untuk berbincang, berpelukan, atau mengungkapkan rasa syukur kepada pasangan.

Pandangan Islam

Kehangatan setelah hubungan merupakan bagian dari menjaga kasih sayang dan mempererat ikatan suami istri.

5. Komunikasi Hanya Soal Rumah Tangga

Percakapan hanya membahas anak, pekerjaan, atau keuangan.

Solusi

Sisihkan waktu khusus untuk berbicara tentang perasaan, impian, dan hal-hal yang menyenangkan.

Pandangan Islam

Musyawarah dan komunikasi yang baik merupakan fondasi keluarga sakinah.

6. Salah Satu Pasangan Selalu Menolak Tanpa Penjelasan

Penolakan yang terus-menerus tanpa komunikasi dapat melukai perasaan pasangan.

Solusi

Jelaskan alasan dengan lembut dan cari waktu yang tepat untuk membangun kembali kedekatan.

Pandangan Islam

Suami dan istri dianjurkan saling memahami kondisi fisik maupun emosional masing-masing serta tidak saling menyakiti.

7. Lebih Nyaman Bermain Ponsel daripada Mengobrol

Gawai menjadi lebih menarik dibanding menghabiskan waktu bersama pasangan.

Solusi

Buat aturan bebas gawai saat makan malam atau menjelang tidur.

Pandangan Islam

Menghargai pasangan dan memberikan perhatian penuh merupakan bagian dari akhlak mulia dalam rumah tangga.

8. Tidak Lagi Saling Memuji

Pasangan jarang mengucapkan terima kasih atau memberikan apresiasi.

Solusi

Biasakan mengungkapkan rasa syukur dan pujian atas hal-hal kecil yang dilakukan pasangan.

Pandangan Islam

Ucapan yang baik adalah sedekah. Menghargai pasangan termasuk amalan yang mendatangkan kebaikan.

9. Konflik Dibiarkan Mengendap

Masalah tidak pernah diselesaikan hingga menumpuk menjadi jarak emosional.

Solusi

Selesaikan konflik secepat mungkin dengan kepala dingin dan saling mendengarkan.

Pandangan Islam

Al-Qur’an menganjurkan penyelesaian perselisihan melalui dialog, perdamaian, dan saling memaafkan.

10. Tidak Lagi Memiliki Tujuan Bersama

Pasangan hidup seperti dua orang yang tinggal serumah tanpa impian yang sama.

Solusi

Bangun kembali visi keluarga, target ibadah, pendidikan anak, dan cita-cita masa depan bersama.

Pandangan Islam

Pernikahan bertujuan membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah. Suami dan istri adalah partner yang saling membantu menuju kebaikan dunia dan akhirat.

Pandangan Islam Secara Mendalam

Dalam Islam, hubungan suami istri bukan sekadar pemenuhan kebutuhan biologis. Hubungan tersebut merupakan bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat menjaga kehormatan diri, membahagiakan pasangan, dan mengharap ridha Allah.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21 bahwa Dia menciptakan pasangan agar manusia memperoleh ketenangan (sakinah), serta menjadikan di antara mereka rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah).

Rasulullah SAW juga mencontohkan pentingnya memperlakukan pasangan dengan kelembutan, saling bercanda, berbicara dengan baik, membantu pekerjaan rumah, dan menunjukkan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, jika hubungan suami istri mulai terasa seperti sekadar kewajiban, Islam menganjurkan untuk memperbaiki komunikasi, meningkatkan kualitas ibadah bersama, saling memaafkan, memperbanyak doa, serta terus berusaha menjaga cinta agar tetap tumbuh sepanjang usia pernikahan.

Fase “gugur kewajiban” bukan berarti cinta telah hilang. Justru kondisi ini menjadi pengingat bahwa hubungan membutuhkan perhatian, komunikasi, dan usaha dari kedua belah pihak.

Dalam pandangan Islam, rumah tangga terbaik bukanlah yang tanpa masalah, melainkan yang selalu berusaha memperbaiki diri, menjaga kasih sayang, dan menjadikan setiap bentuk perhatian kepada pasangan sebagai bagian dari ibadah.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.