Queensha.id – Edukasi Sosial & Family,
Dalam kehidupan rumah tangga, tidak sedikit konflik yang berujung pada saling menyalahkan. Pada sebagian keluarga, istri kerap menjadi pihak yang dianggap sebagai sumber masalah. Saat terjadi pertengkaran, kesalahan sering kali diarahkan kepada istri tanpa adanya upaya untuk mengevaluasi diri.
Tulisan reflektif karya Firdaus Shakirin mengajak para suami untuk melakukan introspeksi. Pesan utamanya bukan menyatakan bahwa suami selalu salah atau istri selalu benar, melainkan bahwa setiap konflik perlu dilihat secara adil dan penuh tanggung jawab.
Berikut penjelasan dari setiap bagian tulisan tersebut.
1. “Tiap kali ada pertengkaran, istri yang salah”
Kalimat ini menggambarkan kebiasaan sebagian orang yang selalu mencari kambing hitam saat terjadi konflik.
Dalam rumah tangga yang sehat, pertengkaran umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti komunikasi yang buruk, tekanan ekonomi, kelelahan, perbedaan cara berpikir, atau kesalahpahaman. Jarang sekali sebuah konflik hanya disebabkan oleh satu pihak.
Jika setiap masalah selalu dibebankan kepada istri, maka suami kehilangan kesempatan untuk memperbaiki dirinya sendiri.
2. Merasa Diri Selalu Benar
Ketika seseorang selalu merasa dirinya paling benar, ia akan sulit menerima kritik maupun masukan.
Sikap seperti ini dapat membuat pasangan merasa tidak dihargai, tidak didengar, bahkan kehilangan rasa aman dalam hubungan.
Padahal rumah tangga dibangun atas dasar kerja sama, bukan hubungan antara “yang selalu benar” dan “yang selalu salah”.
3. Istri Bisa Murung Karena Sikap Suami
Tulisan tersebut mengingatkan bahwa perubahan sikap istri bisa saja dipengaruhi oleh perlakuan suami.
Misalnya:
- Kurangnya perhatian.
- Ucapan yang menyakitkan.
- Tidak menghargai usaha istri.
- Sibuk dengan pekerjaan hingga mengabaikan keluarga.
- Kurang membantu dalam urusan rumah tangga.
Bukan berarti semua perubahan emosi istri pasti disebabkan oleh suami, tetapi kemungkinan tersebut patut menjadi bahan introspeksi.
4. Mengapa Sebagian Suami Sulit Meminta Maaf?
Masih ada anggapan bahwa meminta maaf akan menurunkan wibawa seorang suami.
Padahal, meminta maaf justru menunjukkan kedewasaan, keberanian, dan kerendahan hati.
Permintaan maaf yang tulus sering kali mampu meredakan konflik dan memperkuat hubungan suami istri.
5. Suami Bijak Tidak Hanya Melihat Kesalahan Istri
Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan.
Suami yang bijaksana akan menghargai pengorbanan istrinya, seperti:
- Mengurus rumah.
- Merawat anak.
- Mendampingi suami dalam suka dan duka.
- Memberikan dukungan emosional.
Kesalahan memang perlu diperbaiki, tetapi kebaikan pasangan juga perlu dihargai.
Pandangan Islam Tentang Sikap Suami kepada Istri
Islam mengajarkan bahwa suami adalah pemimpin keluarga. Namun kepemimpinan bukan berarti boleh bersikap sewenang-wenang.
1. Memimpin dengan Kasih Sayang
Al-Qur’an menjelaskan bahwa hubungan suami istri dibangun atas dasar kasih sayang (mawaddah wa rahmah), bukan dominasi atau saling menyalahkan.
Artinya, kepemimpinan suami harus diwujudkan melalui tanggung jawab, perhatian, perlindungan, dan kasih sayang.
2. Suami Juga Bisa Salah
Dalam Islam, setiap manusia berpotensi melakukan kesalahan.
Tidak ada ajaran yang menyatakan bahwa suami selalu benar atau istri selalu salah.
Karena itu, muhasabah (introspeksi diri) menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
3. Rasulullah SAW Memberikan Teladan
Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang lembut kepada keluarganya.
Beliau tidak memperlakukan istri dengan kasar, tidak merendahkan mereka, dan selalu mengedepankan musyawarah serta akhlak yang baik.
Teladan ini menunjukkan bahwa kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan akhlak.
4. Meminta Maaf Tidak Merendahkan Martabat
Dalam Islam, meminta maaf ketika bersalah merupakan akhlak yang mulia.
Suami yang mengakui kesalahan tidak kehilangan kehormatan. Sebaliknya, ia menunjukkan kejujuran dan tanggung jawab atas perbuatannya.
5. Menjaga Lisan
Ucapan yang menyakitkan sering meninggalkan luka lebih lama daripada luka fisik.
Islam mengajarkan agar setiap Muslim menjaga lisannya, termasuk kepada pasangan.
Menghina, merendahkan, atau terus-menerus menyalahkan pasangan bertentangan dengan akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW.
6. Musyawarah dalam Rumah Tangga
Setiap persoalan sebaiknya diselesaikan melalui dialog yang baik.
Mendengarkan pendapat pasangan bukan berarti kehilangan wibawa, tetapi menunjukkan sikap saling menghormati.
7. Menjadi Teladan bagi Anak
Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat.
Jika mereka tumbuh dalam keluarga yang dipenuhi saling menyalahkan, mereka dapat meniru pola tersebut.
Sebaliknya, ketika melihat ayah dan ibu saling menghargai, meminta maaf, dan menyelesaikan masalah dengan baik, anak akan belajar tentang pentingnya empati dan komunikasi.
Renungan untuk Suami dan Istri
Rumah tangga bukanlah tentang mencari siapa yang paling benar, tetapi bagaimana mencari solusi bersama.
Suami maupun istri sama-sama dapat melakukan kesalahan. Karena itu, keduanya perlu memiliki kerendahan hati untuk mengakui kekurangan, saling memaafkan, dan memperbaiki diri.
Dalam Islam, keluarga yang harmonis dibangun di atas fondasi iman, kasih sayang, komunikasi yang baik, dan sikap saling menghormati. Ketika suami mampu memimpin dengan kebijaksanaan dan istri menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab, maka tujuan pernikahan untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah akan lebih mudah diwujudkan.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan