Queensha.id – Edukasi Sosial,
Di masyarakat sering terdengar ungkapan, “Laki-laki yang paling berbahaya justru yang baik hatinya. Saat disakiti ia memilih diam, tidak marah, tetapi ketika akhirnya pergi, ia belum tentu kembali.”
Ungkapan tersebut banyak dibagikan di media sosial karena dianggap menggambarkan karakter sebagian pria yang cenderung memendam perasaan. Namun, apakah hal tersebut benar menurut ilmu psikologi dan ajaran Islam?
Mengapa Ada Laki-Laki yang Memilih Diam?
Dalam psikologi, sebagian pria memang lebih memilih menyimpan luka dibanding meluapkan emosi. Diam bukan selalu berarti tidak peduli, tetapi bisa menjadi cara mengendalikan konflik, menjaga harga diri, atau menghindari pertengkaran yang lebih besar.
Namun, jika luka terus dipendam tanpa komunikasi, hubungan dapat menjadi semakin renggang.
1. Tidak Mudah Marah
Pria seperti ini biasanya memiliki pengendalian emosi yang baik. Ia berusaha berpikir sebelum bertindak sehingga tidak mudah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan.
Alasannya: Ia memahami bahwa kemarahan sesaat bisa merusak hubungan yang telah dibangun bertahun-tahun.
2. Sering Mengalah
Mengalah bukan berarti lemah. Banyak pria memilih mengalah demi menjaga kedamaian keluarga atau hubungan.
Namun jika hanya satu pihak yang terus mengalah tanpa dihargai, lama-kelamaan muncul kelelahan emosional.
3. Memendam Perasaan
Tidak semua pria mudah bercerita mengenai kesedihan, rasa kecewa, maupun tekanan hidup.
Menurut psikologi, kebiasaan memendam emosi dalam jangka panjang dapat menimbulkan stres, kecemasan, hingga hilangnya kedekatan emosional dengan pasangan.
4. Tetap Berbuat Baik Walau Disakiti
Sebagian orang memilih tetap bersikap baik karena tidak ingin membalas keburukan dengan keburukan.
Sikap ini menunjukkan kedewasaan, tetapi bukan berarti ia tidak merasakan sakit.
5. Memiliki Batas Kesabaran
Kesabaran bukan sesuatu yang tidak ada batasnya.
Ketika seseorang merasa terus-menerus tidak dihargai, dikhianati, atau diabaikan, ia dapat memilih menjauh sebagai bentuk menjaga kesehatan mentalnya.
6. Jika Pergi, Mengapa Sulit Kembali?
Ungkapan bahwa pria yang diam jika pergi tidak akan kembali sebenarnya tidak berlaku untuk semua orang.
Dalam banyak kasus, seseorang memilih pergi karena merasa:
- Kepercayaan telah hilang.
- Komunikasi tidak lagi sehat.
- Berkali-kali disakiti tanpa adanya perubahan.
- Merasa tidak dihargai.
Karena itu, keputusan pergi sering kali merupakan hasil dari akumulasi masalah, bukan karena satu kesalahan saja.
Filosofi Pria yang Memilih Diam
Filosofinya bukan tentang membalas dendam, melainkan memahami bahwa setiap manusia memiliki batas kemampuan untuk bertahan.
Diam dapat menjadi simbol kesabaran, tetapi juga bisa menjadi pertanda bahwa seseorang sedang kehilangan harapan terhadap hubungan tersebut.
Makna yang Bisa Dipetik
Pesan penting dari karakter seperti ini adalah bahwa kebaikan hati jangan dianggap sebagai kelemahan.
Hubungan yang sehat memerlukan saling menghargai, komunikasi terbuka, dan kesediaan memperbaiki kesalahan bersama.
Pandangan Pakar Psikologi Indonesia
Psikolog Indonesia seperti Rose Mini Agoes Salim maupun Ratih Ibrahim sering menekankan pentingnya komunikasi yang sehat dalam hubungan. Mereka menjelaskan bahwa memendam emosi terus-menerus bukanlah solusi jangka panjang. Perasaan yang tidak pernah diungkapkan dapat berubah menjadi kekecewaan mendalam dan akhirnya membuat seseorang memilih menjauh.
Karena itu, pasangan dianjurkan membangun komunikasi yang jujur, saling mendengar, dan menghargai perasaan satu sama lain sebelum masalah menjadi semakin besar.
Pandangan Islam
Dalam Islam, kesabaran merupakan akhlak yang sangat mulia.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 134 bahwa orang bertakwa adalah mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan orang lain.
Namun Islam juga mengajarkan keadilan serta menjaga kehormatan diri. Kesabaran bukan berarti membiarkan diri terus-menerus dizalimi. Islam menganjurkan penyelesaian masalah melalui musyawarah, nasihat yang baik, dan ishlah (perdamaian).
Rasulullah SAW juga mencontohkan pentingnya kelembutan dalam berinteraksi, tetapi beliau tetap tegas terhadap kezaliman dan pelanggaran hak.
Oleh karena itu, apabila sebuah hubungan dipenuhi pengkhianatan, kekerasan, atau tidak lagi membawa kemaslahatan, Islam memberikan ruang untuk mencari jalan keluar yang terbaik sesuai syariat.
Pria yang memilih diam bukan selalu karena lemah. Bisa jadi ia sedang berusaha menjaga hubungan, mengendalikan emosi, atau mencari waktu untuk berpikir. Namun, setiap manusia memiliki batas kesabaran.
Daripada mengandalkan anggapan bahwa “kalau pergi pasti tidak akan kembali”, yang lebih penting adalah membangun hubungan dengan kejujuran, saling menghargai, komunikasi yang sehat, dan tanggung jawab bersama. Dengan demikian, luka dapat diselesaikan sebelum berubah menjadi perpisahan yang sulit diperbaiki.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan