Queensha.id – Edukasi Sosial,
Banyak orang membayangkan bahwa pernikahan adalah akhir dari perjalanan cinta. Padahal, dalam kenyataannya justru pernikahan merupakan awal dari perjalanan panjang yang penuh dengan ujian, pembelajaran, tanggung jawab, dan pengorbanan.
Allah SWT telah memberikan banyak petunjuk dalam Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan dalam keadaan memiliki kekurangan. Oleh sebab itu, pernikahan bukanlah proses mencari pasangan yang sempurna, melainkan proses dua insan yang sama-sama belajar menjadi lebih baik.
Dalam ilmu psikologi modern pun dijelaskan bahwa pasangan yang mampu bertahan bukanlah pasangan yang tidak pernah bertengkar, melainkan pasangan yang mampu menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat.
Berikut penjelasan secara rinci.
1. Allah Memberikan Isyarat Bahwa Pernikahan Tidak Selalu Indah
Sebelum menikah, seseorang biasanya hanya melihat sisi terbaik calon pasangan.
Saat masih berpacaran atau dalam masa ta’aruf, seseorang cenderung memperlihatkan sikap terbaiknya. Namun, setelah menikah, sifat asli, kebiasaan sehari-hari, cara mengelola emosi, hingga kebiasaan kecil yang sebelumnya tidak terlihat mulai muncul.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai berkurangnya fase idealisasi. Setelah hidup bersama, otak mulai melihat pasangan secara lebih realistis.
Karena itu, rasa kecewa sering muncul apabila seseorang memiliki ekspektasi bahwa pasangan harus selalu romantis, sabar, atau sempurna.
Islam sendiri telah mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki kekurangan. Rasulullah SAW juga mengajarkan agar seorang mukmin tidak membenci pasangannya hanya karena satu kekurangan, sebab masih banyak kelebihan yang dimilikinya.
2. Allah Memerintahkan Setiap Pasangan Memperbaiki Diri
Sering kali seseorang ingin mengubah pasangannya terlebih dahulu.
Padahal, perubahan terbesar justru harus dimulai dari diri sendiri.
Apabila seorang istri memiliki kebiasaan mudah marah, maka ia perlu belajar mengendalikan emosi.
Sebaliknya, apabila seorang suami memiliki sifat keras, maka ia juga wajib belajar bersikap lembut.
Dalam psikologi kesehatan keluarga dijelaskan bahwa kemampuan mengendalikan emosi merupakan salah satu faktor utama yang menentukan kualitas hubungan suami istri.
Semakin baik seseorang mengelola emosinya, semakin kecil risiko konflik berkepanjangan.
Islam juga mengajarkan konsep muhasabah atau introspeksi diri. Sebelum menyalahkan pasangan, seseorang dianjurkan melihat kekurangan dirinya terlebih dahulu.
3. Kesabaran Menjadi Tiang Penyangga Rumah Tangga
Setiap rumah tangga pasti mengalami perbedaan pendapat.
Mulai dari persoalan ekonomi, pola asuh anak, pekerjaan, hingga hubungan dengan keluarga besar.
Perbedaan tersebut bukan tanda kegagalan.
Justru cara menyelesaikan perbedaan itulah yang menentukan kualitas rumah tangga.
Menurut psikologi keluarga, pasangan yang mampu mendengarkan, berempati, serta mengendalikan emosi memiliki peluang lebih besar mempertahankan pernikahannya.
Sementara itu, Islam menjadikan sabar sebagai salah satu akhlak paling mulia.
Kesabaran bukan berarti membiarkan kezaliman, melainkan kemampuan mengendalikan diri agar persoalan dapat diselesaikan dengan kepala dingin.
4. Waspadai Godaan yang Merusak Keharmonisan
Dalam ajaran Islam dijelaskan bahwa setan selalu berusaha menimbulkan permusuhan di antara manusia.
Karena itu, suami dan istri dianjurkan memperbanyak doa, dzikir, salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, serta membangun komunikasi yang baik.
Dalam beberapa riwayat juga dikenal nama Dasim sebagai setan yang dikaitkan dengan upaya menimbulkan perselisihan dalam rumah tangga. Terlepas dari perbedaan penilaian ulama terhadap riwayat tersebut, pesan utamanya tetap sama, yaitu jangan memberi ruang bagi kebencian, prasangka, dan amarah untuk merusak keluarga.
Dalam psikologi, “godaan” tersebut dapat berupa ego yang tinggi, komunikasi yang buruk, perselingkuhan, kecanduan media sosial, kebiasaan membandingkan pasangan dengan orang lain, hingga kurangnya waktu berkualitas bersama keluarga.
5. Bekal Terbesar Pernikahan Adalah Ilmu dan Kesabaran
Banyak orang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan.
Namun, tidak sedikit yang lupa mempersiapkan ilmu tentang kehidupan rumah tangga.
Padahal, menikah merupakan ibadah yang berlangsung seumur hidup.
Karena itu, bekal berupa ilmu agama, kemampuan komunikasi, pengelolaan keuangan, kesehatan reproduksi, pengasuhan anak, hingga penyelesaian konflik sangat diperlukan.
Menurut Pakar Psikologi Kesehatan Indonesia
Sejumlah psikolog Indonesia, seperti Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim dan Prof. Dr. Hamdi Muluk, menekankan bahwa keluarga yang sehat dibangun melalui komunikasi yang terbuka, empati, kemampuan mengelola stres, serta saling menghargai. Hubungan yang hangat dan suportif berkontribusi terhadap kesehatan mental seluruh anggota keluarga.
Menurut Pandangan Islam
Islam memandang pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian yang kuat). Tujuan pernikahan bukan hanya memenuhi kebutuhan biologis, tetapi juga membangun keluarga yang dipenuhi ketenangan (sakinah), cinta (mawadah), dan kasih sayang (rahmah).
Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 21 menjelaskan bahwa Allah menciptakan pasangan agar manusia memperoleh ketenangan hati. Sementara itu, Al-Qur’an juga memerintahkan agar suami istri saling mempergauli dengan cara yang baik (mu’asyarah bil ma’ruf).
Mengapa Iman dan Ilmu Sangat Penting?
Ungkapan bahwa perempuan yang tidak disibukkan dengan iman dan ilmu akan mudah dikuasai perasaan, sedangkan laki-laki yang tidak dibimbing iman dan ilmu akan mudah mengikuti hawa nafsu, merupakan nasihat yang menekankan pentingnya pendidikan akhlak bagi setiap orang. Hal itu bukan berarti semua perempuan atau laki-laki pasti demikian, tetapi menunjukkan bahwa siapa pun membutuhkan pengendalian diri melalui ilmu dan keimanan.
Keimanan membantu seseorang memiliki tujuan hidup, sedangkan ilmu membantu mengambil keputusan secara bijaksana.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Pernikahan bukan tentang mencari pasangan tanpa kekurangan, melainkan tentang dua manusia yang sama-sama bertumbuh.
Cinta memang penting, tetapi cinta saja tidak cukup. Diperlukan kesabaran, komunikasi yang sehat, saling memaafkan, kemampuan mengendalikan emosi, ilmu agama, ilmu kehidupan, serta komitmen untuk terus memperbaiki diri.
Ketika suami dan istri saling mendukung dalam kebaikan, menjadikan Allah sebagai tempat bergantung, serta menjadikan ilmu sebagai pedoman, maka peluang mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah, dan rahmah akan semakin besar.
Semoga setiap pasangan yang sedang mempersiapkan pernikahan maupun yang telah berumah tangga senantiasa diberikan kekuatan untuk menjaga amanah pernikahan hingga akhir hayat.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan