Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Kalimat “Aku bertahan demi anak” sering terdengar dari seorang istri yang menjalani rumah tangga penuh konflik. Di balik kalimat itu tersimpan rasa sakit, pengorbanan, ketakutan, bahkan harapan agar anak tetap memiliki keluarga yang utuh.

Namun, pertanyaan besarnya adalah, apakah bertahan selalu menjadi pilihan terbaik bagi anak?

Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Setiap keluarga memiliki persoalan yang berbeda. Ada yang masih bisa diperbaiki melalui komunikasi dan perubahan, tetapi ada pula yang justru membuat seluruh anggota keluarga, terutama anak, hidup dalam tekanan berkepanjangan.

Berikut sepuluh hal yang perlu dipahami masyarakat.

1. Anak Memang Membutuhkan Keluarga yang Utuh, Tetapi Lebih Membutuhkan Keluarga yang Sehat

Keutuhan keluarga merupakan impian semua anak. Namun yang jauh lebih penting adalah suasana rumah yang penuh kasih sayang.

Jika setiap hari anak menyaksikan pertengkaran, kekerasan verbal maupun fisik, maka keutuhan rumah hanya menjadi simbol tanpa menghadirkan rasa aman.

Alasannya: Anak berkembang melalui lingkungan yang ia lihat setiap hari. Rumah adalah sekolah pertama bagi pembentukan karakter.


2. Mental Seorang Ibu Sangat Berpengaruh terhadap Tumbuh Kembang Anak

Ibu merupakan tempat pertama anak mencari rasa nyaman.

Apabila ibu terus-menerus menangis, mengalami depresi, cemas, atau trauma akibat perlakuan suami, maka kemampuan mendampingi anak juga akan menurun.

Alasannya: Kondisi psikologis ibu memengaruhi cara mendidik, menyayangi, dan membangun kedekatan emosional dengan anak.


3. Bertahan Tidak Selalu Sama dengan Berjuang

Sebagian orang menganggap bertahan adalah bentuk kesabaran.

Padahal ada perbedaan antara berjuang memperbaiki rumah tangga dengan bertahan dalam penderitaan tanpa perubahan.

Alasannya: Jika tidak ada iktikad baik dari pasangan untuk berubah, maka penderitaan hanya akan berulang.


4. Anak Belajar dari Apa yang Dilihat, Bukan dari Apa yang Didengar

Orang tua sering berkata kepada anak agar saling menghormati.

Namun jika setiap hari anak melihat ayah menghina ibu atau ibu menangis karena perlakuan ayah, maka itulah yang akan direkam oleh anak.

Alasannya: Anak merupakan peniru terbaik terhadap perilaku orang tuanya.


5. Kekerasan Verbal Sama Berbahayanya dengan Kekerasan Fisik

Bentakan, hinaan, ancaman, hingga merendahkan pasangan dapat meninggalkan luka batin yang sangat panjang.

Alasannya: Luka emosional sering kali lebih sulit disembuhkan dibanding luka fisik.


6. Perceraian Bukan Tujuan, Tetapi Bisa Menjadi Jalan Terakhir

Islam maupun hukum di Indonesia sama-sama tidak menjadikan perceraian sebagai tujuan utama.

Namun ketika seluruh upaya damai telah dilakukan dan kemudaratan terus berlangsung, perceraian dapat menjadi solusi terakhir.

Alasannya: Mempertahankan kerusakan yang berkepanjangan juga bukan pilihan yang baik.


7. Anak Tidak Membutuhkan Orang Tua yang Sempurna

Yang dibutuhkan anak adalah ayah dan ibu yang hadir secara emosional.

Mereka ingin didengar, dipeluk, dihargai, dan merasa aman.

Alasannya: Kehadiran emosional jauh lebih penting daripada sekadar tinggal dalam satu rumah.


8. Jangan Mengorbankan Diri Sampai Kehilangan Harga Diri

Bersabar adalah akhlak mulia.

Namun membiarkan diri terus dihina, disakiti, atau diperlakukan tidak manusiawi juga bukan ajaran Islam.

Alasannya: Setiap manusia memiliki martabat yang harus dijaga.


9. Komunikasi dan Konseling Harus Didahulukan

Sebelum mengambil keputusan besar, pasangan sebaiknya mencoba berdialog, meminta bantuan keluarga yang bijaksana, tokoh agama, atau konselor pernikahan.

Alasannya: Banyak rumah tangga berhasil diselamatkan karena adanya komunikasi yang sehat.


10. Kebahagiaan Anak Berasal dari Orang Tua yang Sehat Jiwa dan Raganya

Anak akan lebih mudah tumbuh percaya diri apabila hidup bersama orang tua yang saling menghormati.

Jika orang tua terus hidup dalam konflik, maka anak berisiko mengalami kecemasan, trauma, bahkan kesulitan membangun hubungan ketika dewasa.

Alasannya: Kesehatan mental orang tua menjadi fondasi kesehatan mental anak.

Pandangan Islam Tentang “Bertahan Demi Anak”

Islam sangat menjunjung tinggi keutuhan rumah tangga. Pernikahan disebut sebagai ikatan yang bertujuan menghadirkan sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang) sebagaimana disebutkan dalam Surah Ar-Rum ayat 21.

Artinya, rumah tangga ideal menurut Islam bukan sekadar tetap bersama, tetapi menghadirkan ketenteraman bagi seluruh anggota keluarga.

1. Islam Memerintahkan Suami Memperlakukan Istri dengan Baik

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 19 agar suami mempergauli istri dengan cara yang makruf (baik).

Karena itu, perilaku kasar, menghina, merendahkan, maupun melakukan kekerasan bertentangan dengan semangat ajaran Islam.

2. Kesabaran Memiliki Batas dalam Mencegah Kemudaratan

Islam mengajarkan sabar, tetapi juga melarang membiarkan kemudaratan terus berlangsung.

Terdapat kaidah fikih yang sangat terkenal:

“Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh saling membahayakan.”

Artinya, apabila rumah tangga telah menjadi sumber kerusakan yang terus-menerus, maka penyelesaiannya harus dicari secara serius.

3. Islam Menganjurkan Islah (Perdamaian)

Al-Qur’an menganjurkan menghadirkan penengah dari keluarga suami maupun istri ketika konflik membesar.

Tujuannya agar kedua belah pihak memiliki kesempatan memperbaiki hubungan.

4. Perceraian Dibolehkan Tetapi Tidak Dianjurkan Tanpa Alasan

Perceraian merupakan perkara yang halal, namun bukan sesuatu yang diinginkan apabila masih ada peluang memperbaiki hubungan.

Karena itu Islam mengutamakan musyawarah, introspeksi, dan perubahan sikap.

5. Anak Tetap Memiliki Hak Atas Kasih Sayang Kedua Orang Tuanya

Sekalipun terjadi perceraian, Islam tetap mewajibkan ayah menafkahi anak dan kedua orang tua tetap berkewajiban mendidik serta menyayangi buah hati mereka.

Anak tidak boleh dijadikan korban konflik orang tua.

Ungkapan “bertahan demi anak” lahir dari cinta seorang ibu kepada buah hatinya. Namun, cinta juga perlu disertai kebijaksanaan. Bertahan dalam rumah tangga yang masih dapat diperbaiki adalah langkah mulia. Sebaliknya, jika yang dipertahankan hanyalah kekerasan, penghinaan, dan luka batin tanpa perubahan, maka keputusan terbaik perlu dipertimbangkan dengan penuh kehati-hatian, melalui musyawarah, nasihat agama, dan pertimbangan hukum.

Yang terpenting, setiap keputusan hendaknya mengutamakan keselamatan, martabat, dan masa depan seluruh anggota keluarga, sehingga anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, aman, dan sehat secara fisik maupun mental.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.