Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Fenomena sosial terkait tradisi memberikan sumbangan atau kondangan kembali menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Pasalnya, tidak sedikit warga yang mempertanyakan mengapa nominal sumbangan untuk acara pernikahan sering kali jauh lebih besar dibandingkan bantuan yang diberikan saat keluarga tetangga atau kerabat mengalami musibah kematian.

Padahal, keduanya sama-sama merupakan bagian dari budaya gotong royong yang telah diwariskan secara turun-temurun. Namun demikian, dalam praktiknya muncul perbedaan yang cukup mencolok sehingga memunculkan berbagai pandangan di masyarakat.

Bahkan, di sejumlah daerah, tradisi tersebut kini mulai dianggap bergeser dari nilai kebersamaan menjadi beban sosial yang harus dipenuhi demi menjaga hubungan baik maupun gengsi di lingkungan sekitar.

Tradisi yang Berubah Mengikuti Zaman

Seiring perkembangan zaman, tradisi kondangan tidak lagi sekadar menjadi bentuk doa dan dukungan kepada keluarga yang sedang berbahagia. Sebaliknya, dalam banyak kasus, nilai sumbangan justru menjadi perhatian utama.

Tidak sedikit masyarakat yang merasa harus memberikan uang dalam jumlah tertentu karena khawatir dianggap pelit atau tidak menghargai tuan rumah. Terlebih lagi, di beberapa tempat masih terdapat pencatatan nominal sumbangan melalui buku tamu sehingga memunculkan anggapan adanya “utang sosial” yang suatu saat harus dikembalikan dengan nilai yang sama atau bahkan lebih besar.

Sebaliknya, ketika menghadiri takziah, masyarakat umumnya lebih fokus menyampaikan belasungkawa dan doa. Akibatnya, bantuan materi yang diberikan sering kali tidak sebesar ketika menghadiri pesta pernikahan, meskipun keluarga yang berduka justru sedang menghadapi kebutuhan mendesak.

Beban Ekonomi Masyarakat Semakin Terasa

Di sisi lain, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil membuat sebagian masyarakat mengaku kesulitan mengikuti standar sosial tersebut.

Apalagi, dalam satu bulan seseorang bisa menerima beberapa undangan hajatan sekaligus. Jika setiap undangan membutuhkan sumbangan dalam jumlah besar, tentu hal tersebut dapat mengganggu kondisi keuangan keluarga, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah maupun pekerja harian.

Selain itu, muncul pula kekhawatiran bahwa tradisi gotong royong perlahan berubah menjadi kewajiban ekonomi yang mengurangi makna keikhlasan.

Pernikahan Membawa Kebahagiaan, Kematian Membutuhkan Pertolongan

Secara sosial, pernikahan memang merupakan momen membahagiakan yang layak disyukuri bersama. Akan tetapi, musibah kematian sering kali menghadirkan beban yang jauh lebih berat.

Keluarga yang ditinggalkan tidak hanya kehilangan orang tercinta, tetapi juga harus menghadapi berbagai kebutuhan mendadak, mulai dari biaya pemakaman, tahlilan, hingga kebutuhan hidup sehari-hari apabila yang meninggal merupakan tulang punggung keluarga.

Oleh karena itu, banyak kalangan menilai bahwa bantuan kepada keluarga yang sedang berduka semestinya memperoleh perhatian yang tidak kalah besar dibandingkan sumbangan untuk pesta pernikahan.

Hakikat Gotong Royong Perlu Dikembalikan

Pengamat sosial dan ekonomi asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai bahwa budaya sumbangan pada dasarnya merupakan warisan luhur masyarakat Indonesia yang dibangun atas dasar kepedulian, kebersamaan, dan rasa saling membantu.

Menurutnya, tradisi tersebut akan kehilangan makna apabila masyarakat lebih mengedepankan gengsi dibandingkan keikhlasan.

“Nilai sebuah bantuan bukan hanya diukur dari besar kecilnya nominal, melainkan dari ketulusan hati untuk meringankan beban sesama. Jangan sampai budaya gotong royong berubah menjadi tekanan sosial yang justru memberatkan masyarakat,” ujar Purnomo Wardoyo.

Ia menambahkan bahwa masyarakat perlu membangun kembali kesadaran bahwa bantuan kepada keluarga yang sedang tertimpa musibah memiliki nilai kemanusiaan yang sangat besar. Oleh sebab itu, keseimbangan empati harus terus dijaga agar tradisi sosial tetap menjadi perekat persaudaraan, bukan sumber beban baru.

Masyarakat Diajak Lebih Bijaksana

Selain itu, tokoh masyarakat juga mengajak seluruh warga untuk tidak menjadikan nominal sumbangan sebagai ukuran kepedulian seseorang.

Sebaliknya, budaya saling membantu sebaiknya dikembalikan pada nilai-nilai keikhlasan, kemampuan masing-masing, serta semangat gotong royong yang telah lama menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.

Dengan demikian, tradisi kondangan maupun takziah tetap dapat menjadi sarana mempererat silaturahmi, memperkuat solidaritas sosial, sekaligus meringankan beban sesama tanpa harus menciptakan tekanan ekonomi maupun persaingan gengsi di tengah masyarakat.

Perbedaan nominal sumbangan antara acara pernikahan dan takziah menjadi refleksi bahwa nilai sosial di masyarakat sedang mengalami perubahan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama untuk mengembalikan makna gotong royong sebagai bentuk kepedulian yang lahir dari hati, bukan karena tuntutan lingkungan.

Apabila masyarakat mampu mengedepankan empati, keikhlasan, dan rasa saling membantu, maka tradisi kondangan maupun takziah akan tetap menjadi warisan budaya yang memperkuat persaudaraan serta menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat.

 

Menurut pandangan pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, tradisi memberikan sumbangan dalam acara pernikahan maupun saat takziah sejatinya lahir dari semangat gotong royong, kepedulian, dan kebersamaan yang telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Indonesia. Namun, seiring perkembangan zaman, sebagian tradisi tersebut mulai mengalami pergeseran makna akibat pengaruh gaya hidup, gengsi sosial, serta tekanan lingkungan.

“Budaya kondangan dan takziah seharusnya tidak dijadikan ajang untuk mengukur kemampuan ekonomi seseorang. Nilai utama dari sebuah sumbangan adalah keikhlasan dan rasa empati, bukan besar kecilnya nominal yang diberikan. Jangan sampai masyarakat merasa terpaksa berutang hanya demi memenuhi ekspektasi sosial,” kata Purnomo Wardoyo.

Ia menilai, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena berpotensi mengikis nilai luhur gotong royong. Menurutnya, apabila masyarakat lebih sibuk mengejar gengsi daripada membantu sesama dengan tulus, maka tradisi yang diwariskan oleh para leluhur akan kehilangan makna sosialnya.

Purnomo juga menegaskan bahwa keluarga yang sedang mengalami musibah kematian justru membutuhkan perhatian dan dukungan yang lebih besar, baik dalam bentuk doa, tenaga, maupun bantuan materi sesuai kemampuan masing-masing. Sebab, di balik peristiwa duka, sering kali terdapat beban ekonomi yang muncul secara mendadak dan harus segera dihadapi oleh keluarga yang ditinggalkan.

“Oleh karena itu, masyarakat perlu mengembalikan tradisi ini kepada hakikatnya, yakni saling membantu tanpa pamrih, tanpa paksaan, dan tanpa membandingkan nominal. Jika semangat gotong royong tetap dijaga, maka hubungan sosial akan semakin kuat, persaudaraan semakin erat, dan budaya luhur bangsa tetap terpelihara,” pungkas Purnomo Wardoyo.