Queensha.id – Jakarta,
Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) 2026, Fathimah Azzahra, menagih komitmen pemerintah terkait janji penciptaan 19 juta lapangan pekerjaan yang pernah disampaikan oleh Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka.
Pernyataan tersebut disampaikan Fathimah saat menghadiri program Rosi KompasTV, Kamis (29/10/2026) malam. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan pertanyaan tersebut kepada Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) yang juga mantan aktivis, Budiman Sudjatmiko.
“Saya ingin juga sedikit menanyakan, mungkin ada salah satu ijab kabul yang sudah diucapkan oleh Pak Gibran pada saat itu terkait 19 juta lapangan pekerjaan yang harusnya berkaitan dengan pengentasan kemiskinan juga,” ujar Fathimah.
Menurut Fathimah, hingga saat ini masyarakat masih menunggu perkembangan nyata mengenai realisasi program 19 juta lapangan kerja tersebut. Sebab, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa janji tersebut benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan.
Selain itu, ia menilai penyediaan lapangan pekerjaan tidak cukup hanya berorientasi pada jumlah tenaga kerja yang terserap. Namun, pemerintah juga perlu memastikan pekerjaan yang tersedia memiliki kualitas, daya saing, serta mampu menghadapi tantangan ekonomi global.
“Jangan hanya sekadar menyediakan pekerjaan bagi masyarakat yang sebelumnya tidak bekerja, kemudian masuk ke pekerjaan kasar. Yang dibutuhkan adalah lapangan kerja yang memiliki masa depan,” kata Fathimah.
BEM UI Dorong Pemerintah Miliki Strategi Lapangan Kerja Berkelanjutan
Lebih lanjut, Fathimah berharap pemerintah mempunyai konsep yang jelas dalam menyusun kebijakan ketenagakerjaan nasional. Menurutnya, setiap program yang dibuat harus memiliki tujuan, kajian, serta perencanaan yang matang sebelum diterapkan kepada masyarakat.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengetahui hasil akhir dari sebuah kebijakan, tetapi juga memahami proses pelaksanaan dan manfaat jangka panjangnya.
“Persoalannya selama ini adalah banyak program baru muncul, tetapi masyarakat belum mengetahui secara jelas tujuan dan bagaimana pelaksanaannya,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia menilai pemerintah perlu membuka ruang komunikasi publik agar setiap kebijakan dapat dipahami dan mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Budiman Sudjatmiko: Lapangan Kerja Konvensional Sulit Diciptakan
Menanggapi kritik dan pertanyaan mengenai target 19 juta lapangan pekerjaan, Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko mengatakan bahwa penciptaan lapangan kerja dalam konsep tradisional bukanlah perkara mudah.
Menurut Budiman, perubahan zaman, perkembangan teknologi, serta kemunculan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat konsep pekerjaan juga mengalami perubahan.
“Lapangan kerja dalam pengertian tradisional itu mustahil dilakukan. Yang harus dilakukan adalah menciptakan lapangan kerja dalam pengertian baru,” kata Budiman.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah perlu melihat peluang ekonomi baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Selain membuka kesempatan kerja, pemerintah juga perlu mendorong terciptanya kemakmuran melalui berbagai program pendukung.
Budiman menyebut beberapa pendekatan yang dapat dilakukan, antara lain penguatan pendapatan dasar universal, layanan dasar universal, serta aset dasar universal.
Tantangan Pemerintah Mewujudkan Lapangan Kerja di Era Digital
Sementara itu, isu penciptaan lapangan pekerjaan menjadi salah satu tantangan besar pemerintah di tengah perubahan ekonomi global. Pasalnya, perkembangan teknologi digital dan otomatisasi membuat kebutuhan dunia kerja terus berubah.
Karena itu, pemerintah tidak hanya dituntut menciptakan banyak pekerjaan, tetapi juga menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri masa depan.
Dengan demikian, program penciptaan 19 juta lapangan kerja diharapkan tidak hanya menjadi angka statistik, melainkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pekerjaan yang produktif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing internasional.
***
Sumber: KPS.

Tinggalkan Balasan