Queensha.id – Edukasi Ekonomi,
Kisah tentang seorang pekerja migran Indonesia (PMI) di Taiwan yang menghabiskan penghasilannya untuk gaya hidup konsumtif kembali menjadi perhatian masyarakat. Cerita tersebut beredar melalui unggahan akun Facebook Alifah Rohmah pada Senin (2/11/2026) yang menceritakan pengalaman seorang TKW di Taiwan dengan penghasilan cukup besar, namun ketika pulang ke kampung halaman tidak memiliki aset yang dapat dibanggakan.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa besar kecilnya gaji bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang secara finansial. Cara mengelola uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memiliki tujuan keuangan menjadi hal yang sangat penting.
Namun, perlu dipahami bahwa cerita tersebut merupakan narasi pengalaman yang beredar di media sosial. Tidak semua pekerja migran Taiwan mengalami hal yang sama. Banyak pula PMI yang berhasil membangun rumah, membuka usaha, membeli tanah, hingga meningkatkan taraf hidup keluarga melalui kerja keras di luar negeri.
Meski demikian, kisah ini dapat menjadi bahan edukasi tentang pentingnya literasi keuangan.
Penghasilan Besar Tidak Menjamin Masa Depan Aman
Dalam cerita tersebut disebutkan seorang pekerja migran Taiwan mendapatkan gaji sekitar 26.000 NT (New Taiwan Dollar) karena bekerja merawat dua orang lanjut usia.
Jika dikonversikan, nilai tersebut termasuk penghasilan yang cukup baik bagi sebagian pekerja migran Indonesia.
Namun, penghasilan tinggi dapat habis apabila tidak diikuti dengan perencanaan keuangan.
Fenomena seperti ini dikenal dalam ekonomi sebagai lifestyle inflation atau peningkatan gaya hidup mengikuti kenaikan pendapatan.
Seseorang yang sebelumnya hidup sederhana, ketika memiliki penghasilan lebih besar mulai meningkatkan standar hidupnya:
- sering makan di restoran mahal,
- membeli barang bermerek,
- mengikuti tren kecantikan,
- mengganti telepon genggam terbaru,
- sering bepergian,
- membeli barang bukan karena kebutuhan tetapi karena gengsi.
Akibatnya, pendapatan yang seharusnya menjadi modal masa depan justru habis untuk konsumsi jangka pendek.
Perbedaan Antara Self Reward dan Gaya Hidup Konsumtif
Banyak pekerja migran mengalami tekanan mental karena jauh dari keluarga.
Bekerja di negara lain tentu tidak mudah. Rasa lelah, kesepian, dan stres membuat seseorang ingin memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri.
Hal tersebut sebenarnya tidak salah.
Self reward boleh dilakukan.
Misalnya:
- makan makanan yang disukai sesekali,
- membeli barang yang memang dibutuhkan,
- berlibur dengan anggaran tertentu,
- memberikan hadiah kecil setelah mencapai target.
Namun masalah muncul ketika self reward berubah menjadi kebiasaan konsumtif.
Perbedaannya:
Self reward sehat:
- sudah memiliki tabungan,
- kebutuhan utama terpenuhi,
- dilakukan sesuai kemampuan,
- tidak menggunakan utang berlebihan.
Gaya hidup konsumtif:
- mengejar pengakuan sosial,
- membeli agar terlihat sukses,
- tidak memiliki tabungan,
- uang habis sebelum masa depan dipikirkan.
Mengapa Banyak Pekerja Migran Sulit Mengumpulkan Aset?
Menurut sejumlah pengamat ekonomi, salah satu tantangan pekerja migran bukan hanya mencari pendapatan, tetapi bagaimana mengelola pendapatan tersebut.
Pengamat ekonomi Indonesia sering menyoroti beberapa penyebab:
1. Kurangnya Literasi Keuangan
Banyak pekerja migran berangkat dengan tujuan membantu keluarga, tetapi belum memiliki kemampuan mengatur uang.
Mereka memahami cara mendapatkan uang, tetapi belum memahami cara mempertahankan dan mengembangkan uang.
Literasi keuangan meliputi:
- membuat anggaran,
- menabung,
- investasi,
- membeli aset produktif,
- menghindari utang konsumtif.
2. Tekanan Sosial dan Gengsi
Media sosial sering menciptakan gambaran bahwa seseorang dianggap sukses jika:
- memakai barang mahal,
- sering bepergian,
- makan di tempat terkenal,
- memiliki gaya hidup mewah.
Padahal kondisi sebenarnya belum tentu sama dengan tampilan di media sosial.
Dalam ekonomi, fenomena ini disebut demonstration effect, yaitu seseorang mengikuti gaya hidup orang lain agar mendapatkan pengakuan sosial.
3. Tidak Memiliki Target Setelah Pulang
Banyak pekerja migran memiliki impian:
“nanti kalau sudah pulang mau buka usaha”
Namun tanpa perencanaan, uang yang dikumpulkan perlahan habis.
Seharusnya sejak awal bekerja di luar negeri sudah memiliki target:
- tahun pertama membeli tanah,
- tahun kedua membangun rumah,
- tahun ketiga membuka usaha,
- menyisihkan dana pendidikan anak.
Uang Harus Menghasilkan Nilai Jangka Panjang
Menurut para ekonom Indonesia, keberhasilan finansial bukan hanya dilihat dari besarnya pendapatan, tetapi dari kemampuan seseorang mengubah pendapatan menjadi aset.
Ekonom senior Indonesia seperti sering mengingatkan bahwa masyarakat perlu memperkuat literasi keuangan dan tidak terjebak pada budaya konsumtif.
Dalam berbagai kajian ekonomi, masyarakat berpenghasilan meningkat perlu memperhatikan tiga hal:
Pertama, membangun aset.
Aset seperti:
- tanah,
- rumah,
- usaha,
- investasi,
- tabungan produktif,
dapat memberikan manfaat jangka panjang.
Kedua, mengendalikan konsumsi.
Konsumsi bukan sesuatu yang salah, karena konsumsi juga menggerakkan ekonomi.
Namun konsumsi harus sesuai kemampuan.
Jangan sampai seseorang terlihat kaya sementara tidak memiliki cadangan finansial.
Ketiga, memiliki tujuan hidup setelah bekerja.
Bekerja di luar negeri seharusnya menjadi kesempatan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, bukan hanya menikmati kehidupan sementara.
Fenomena “Kaya di Media Sosial, Miskin di Dunia Nyata”
Salah satu pelajaran terbesar dari kisah tersebut adalah perbedaan antara citra dan realita.
Media sosial hanya memperlihatkan:
- foto restoran,
- pakaian,
- perjalanan,
- barang baru.
Namun tidak memperlihatkan:
- jumlah tabungan,
- cicilan,
- utang,
- kondisi ekonomi sebenarnya.
Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati membandingkan kehidupan sendiri dengan tampilan orang lain di media sosial.
Bagaimana Seharusnya Pekerja Migran Mengelola Gaji?
Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan:
1. Gunakan sistem pembagian uang
Contoh sederhana:
- 50 persen untuk kebutuhan keluarga,
- 20 persen tabungan,
- 20 persen investasi atau modal usaha,
- 10 persen hiburan.
Persentase dapat disesuaikan kondisi masing-masing.
2. Buat rekening khusus tabungan masa depan
Jangan mencampur uang kebutuhan sehari-hari dengan uang untuk membangun aset.
3. Kurangi membeli barang karena gengsi
Sebelum membeli sesuatu, tanyakan:
“Apakah saya membutuhkan barang ini atau hanya ingin terlihat sukses?”
4. Pelajari investasi dan usaha
Uang hasil kerja keras sebaiknya diarahkan agar memiliki nilai tambah.
Pesan Moral Untuk Masyarakat
Kisah pekerja migran Taiwan tersebut memberikan pelajaran penting:
Bekerja keras bertahun-tahun di luar negeri adalah perjuangan besar. Karena itu, hasil kerja tersebut harus dihargai dengan pengelolaan yang bijak.
Menikmati hidup bukan sesuatu yang salah. Tetapi masa depan juga harus dipersiapkan.
Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya melihat:
“Berapa banyak tempat yang pernah dikunjungi?”
Namun akan bertanya:
“Setelah bertahun-tahun bekerja, apa yang berhasil dibangun?”
Gaji besar tanpa pengelolaan keuangan dapat hilang begitu saja. Sebaliknya, penghasilan sederhana yang dikelola dengan disiplin dapat berubah menjadi aset dan masa depan yang lebih baik.
Self reward adalah bentuk menghargai diri sendiri, tetapi jangan sampai mengorbankan masa depan.
Kerja di luar negeri bukan hanya untuk terlihat sukses di media sosial, tetapi untuk membangun kehidupan yang lebih kuat ketika kembali ke tanah air.
***
Sumber: Akun Facebook Alifah Rohmah.
- cara membangun aset dari gaji luar negeri
- cara mengelola gaji TKI
- edukasi finansial masyarakat Indonesia
- ekonomi keluarga pekerja migran
- gaji TKW Taiwan habis untuk gaya hidup hedon
- gaya hidup konsumtif pekerja migran
- literasi keuangan pekerja migran
- pekerja migran Indonesia Taiwan
- self reward vs gaya hidup hedon
- tips menabung bagi TKW Taiwan

Tinggalkan Balasan