Queensha.id – Jakarta,

 

Nama Roy Suryo kembali menjadi perhatian publik seiring keterlibatannya dalam berbagai isu nasional, termasuk perkara dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Sebelum dikenal sebagai tokoh yang aktif memberikan analisis terhadap berbagai kasus digital dan multimedia, Roy Suryo telah lebih dahulu dikenal sebagai akademisi, pakar telematika, politisi, hingga mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora).

Karier panjangnya di dunia teknologi informasi dan politik menjadikan Roy Suryo sebagai salah satu figur publik yang kerap menjadi sorotan. Di sisi lain, perjalanan kariernya juga tidak lepas dari berbagai kontroversi yang memicu perdebatan di ruang publik.

Lahir dari Keluarga Akademisi dan Bangsawan Yogyakarta

Roy Suryo memiliki nama lengkap Raden Mas Roy Suryo Udoro. Ia lahir di Kota Yogyakarta pada 18 Juli 1968.

Ayahnya, KPH Soejono Prawirohadikusumo, merupakan guru besar pertama bidang Kedokteran Jiwa di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM). Sementara ibunya, Raden Ayu Soeratmiyati Notonegoro, dikenal sebagai guru bahasa Inggris.

Dari garis keturunan ibunya, Roy Suryo masih memiliki hubungan dengan keluarga Pura Pakualaman. Atas kontribusinya terhadap lingkungan Pakualaman, ia memperoleh gelar kebangsawanan Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Roy Suryo Notodiprojo pada tahun 2002.

Riwayat Pendidikan Roy Suryo

Roy Suryo menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Yogyakarta, yakni SD Netral C, SMP Negeri 5 Yogyakarta, dan SMA Negeri 3 Yogyakarta.

Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikan di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) dan menyelesaikan studinya pada 1991.

Selanjutnya, Roy meraih gelar Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat (M.Kes) di UGM. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan doktor pada bidang Ilmu Manajemen di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Karier sebagai Akademisi dan Pakar Multimedia

Setelah menyelesaikan kuliah, Roy Suryo aktif mengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada Jurusan Seni Media Rekam selama sekitar satu dekade.

Selain itu, ia juga pernah menjadi pengajar fotografi di Program Komunikasi Universitas Gadjah Mada sebagai dosen tamu untuk beberapa semester.

Namanya mulai dikenal luas sejak akhir 1990-an ketika sering dimintai pendapat mengenai analisis digital, rekaman suara, fotografi, hingga multimedia.

Ia juga pernah menjadi pembawa acara e-Lifestyle di Metro TV serta program Orbit di TVRI. Di berbagai kesempatan, Roy Suryo kerap menjadi narasumber seminar, workshop, maupun kuliah umum mengenai informatika, multimedia, telematika, dan teknologi informasi.

Terkenal Lewat Analisis Forensik Digital

Popularitas Roy Suryo mulai meningkat pada 1999 saat menganalisis rekaman percakapan telepon yang diduga melibatkan Presiden B.J. Habibie dan Jaksa Agung Andi Ghalib.

Sejak saat itu, ia sering diminta memberikan analisis terhadap berbagai foto, video, maupun rekaman suara yang menjadi perhatian publik.

Berbagai kasus politik maupun selebritas pernah dianalisis olehnya, sehingga namanya identik dengan dunia forensik digital dan multimedia di Indonesia.

Masuk Dunia Politik hingga Menjadi Menteri

Karier Roy Suryo kemudian berkembang ke dunia politik setelah bergabung dengan Partai Demokrat pada 2005.

Ia terpilih menjadi anggota DPR RI dan kemudian dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga pada Januari 2013 menggantikan Andi Mallarangeng.

Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Menpora, Roy kembali aktif di dunia politik hingga akhirnya mengundurkan diri dari Partai Demokrat pada tahun 2020.

Berbagai Kontroversi Mengiringi Perjalanan Roy Suryo

Sepanjang perjalanan kariernya, Roy Suryo juga beberapa kali menjadi sorotan karena berbagai kontroversi.

Beberapa di antaranya terkait klaim analisis terhadap foto, video, maupun rekaman suara yang kemudian diperdebatkan oleh pakar lain.

Selain itu, Roy juga pernah tersandung perkara hukum terkait unggahan meme stupa Candi Borobudur yang menyerupai wajah Presiden Joko Widodo. Dalam perkara tersebut, ia divonis hukuman penjara selama sembilan bulan pada 2023.

Belakangan, Roy Suryo kembali menjadi perhatian setelah aktif menyampaikan pendapat mengenai dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo. Pernyataan tersebut kemudian berujung pada proses hukum yang masih berjalan di pengadilan.

Di sisi lain, aparat penegak hukum sebelumnya menyatakan bahwa hasil penyelidikan dan uji laboratorium forensik terhadap ijazah Presiden Joko Widodo tidak menemukan adanya unsur tindak pidana. Sementara itu, Roy Suryo tetap menyampaikan pandangan yang berbeda dan memilih menempuh jalur hukum untuk menguji keyakinannya.

Tetap Menjadi Figur yang Menarik Perhatian Publik

Terlepas dari berbagai pro dan kontra yang menyertainya, Roy Suryo tetap menjadi salah satu tokoh publik yang dikenal luas di Indonesia.

Perjalanan kariernya yang mencakup dunia akademik, teknologi informasi, media massa, politik, hingga pemerintahan menjadikan sosoknya kerap menjadi pusat perhatian, terutama ketika muncul isu-isu yang berkaitan dengan forensik digital, teknologi informasi, maupun persoalan hukum yang melibatkan dokumen dan bukti elektronik.

 

***

Sumber: Wiki.