Queensha.id – Jepara,
Kisah menginspirasi datang dari pelosok desa di Jepara. Seorang pemuda bernama Muhammad Febri Adi Pranata berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan lulus sebagai Sarjana Ekonomi Bisnis dari Universitas Merdeka Malang, bahkan meraih peringkat ketiga wisudawan terbaik di tingkat program studi.
Febri bukan berasal dari keluarga berada. Ia adalah anak dari seorang kuli bangunan, Agus Adodi Pranata, yang sehari-hari bekerja keras demi menghidupi keluarga. Ibunya, Yuliyati, turut menjadi sosok penting yang memberikan dukungan moral tanpa henti.
Keluarga sederhana ini berasal dari Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari yang merupakan wilayah yang jauh dari gemerlap kota, namun menjadi saksi lahirnya tekad besar seorang anak desa untuk mengubah nasib melalui pendidikan.
Perjuangan dari Bawah
Perjalanan Febri menuju gelar sarjana tidaklah mudah. Keterbatasan ekonomi sempat menjadi tantangan besar. Namun dengan tekad kuat, kerja keras, dan disiplin, ia mampu menembus batas yang seringkali dianggap mustahil bagi anak dari latar belakang serupa.
Prestasi sebagai tiga besar lulusan terbaik menjadi bukti bahwa kondisi ekonomi bukanlah penghalang utama untuk meraih pendidikan tinggi.
Suara Harapan dari Seorang Ayah
Ayah Febri, Agus Adodi Pranata, tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bangganya. Ia menyampaikan pesan yang menyentuh bagi para orang tua di seluruh Indonesia, “Saya hanya kuli bangunan, tapi saya selalu percaya anak saya bisa lebih dari saya. Yang penting bukan seberapa kaya kita, tapi seberapa besar kita mendukung dan mendoakan anak. Jangan pernah takut menyekolahkan anak setinggi mungkin. Kalau ada kemauan, pasti ada jalan, ” ucapnya, Minggu (26/4).
Pernyataan itu menjadi pengingat kuat bahwa pendidikan bukan hanya milik mereka yang berkecukupan, melainkan hak semua anak bangsa.
Menyalakan Harapan dari Desa
Kisah Febri menjadi simbol harapan baru bagi keluarga-keluarga di desa terpencil. Bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat sederhana, dan masa depan bisa diubah dengan tekad serta pendidikan.
Di tengah berbagai keterbatasan, Febri telah membuktikan satu hal: gelar sarjana bukan hanya milik anak orang kaya, tapi milik mereka yang berani berjuang.
***
(26 April 2026)

Tinggalkan Balasan