Queensha.id – Edukasi Islam,
Pertanyaan mengenai bagaimana kondisi dunia jika seluruh manusia memeluk Islam kerap menjadi bahan diskusi di berbagai forum keagamaan maupun media sosial. Sebagian orang membayangkan dunia akan lebih damai karena tidak ada lagi konflik antaragama. Namun, sejumlah ulama Indonesia menilai persoalan tersebut tidak sesederhana itu.
Menurut para cendekiawan Muslim, Islam memang mengajarkan perdamaian, keadilan, dan persaudaraan. Akan tetapi, sumber konflik manusia tidak hanya berasal dari perbedaan agama, melainkan juga dari nafsu, kepentingan politik, keserakahan, hingga perebutan kekuasaan.
Islam Mengajarkan Dakwah, Bukan Paksaan
Mufasir Indonesia, M. Quraish Shihab, dalam berbagai kajiannya sering menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan pemaksaan keyakinan kepada orang lain.
Prinsip tersebut merujuk pada ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Menurutnya, tugas umat Islam adalah menyampaikan ajaran dengan hikmah, keteladanan, dan dialog yang baik.
Dalam pandangan ini, tujuan Islam bukan sekadar memperbanyak jumlah pemeluk, melainkan menghadirkan nilai-nilai kebaikan bagi seluruh umat manusia.
Gus Baha: Yang Penting Bukan Labelnya, Tetapi Akhlaknya
Ulama kharismatik asal Rembang, Ahmad Bahauddin Nursalim, kerap menekankan bahwa inti ajaran Islam adalah akhlak dan kejujuran.
Dalam berbagai ceramahnya, Gus Baha menjelaskan bahwa seseorang tidak otomatis menjadi baik hanya karena memiliki identitas Muslim. Menurutnya, tantangan terbesar manusia justru terletak pada kemampuan mengendalikan hawa nafsu dan menjalankan ajaran agama secara konsisten.
Karena itu, jika seluruh manusia menjadi Muslim tetapi masih dipenuhi keserakahan, kebencian, dan ketidakadilan, maka berbagai persoalan sosial tetap bisa muncul.
Buya Yahya: Islam Membawa Rahmat bagi Semua
Sementara itu, Yahya Zainul Ma’arif menjelaskan bahwa Islam hadir sebagai rahmatan lil alamin atau rahmat bagi seluruh alam.
Menurutnya, ukuran keberhasilan dakwah bukan sekadar bertambahnya jumlah umat Islam, melainkan semakin banyaknya manusia yang merasakan manfaat, keadilan, dan kasih sayang dalam kehidupan.
Buya Yahya juga sering mengingatkan bahwa dakwah yang baik dilakukan dengan kelembutan, bukan dengan permusuhan atau kebencian terhadap pihak yang berbeda keyakinan.
KH Hasyim Muzadi dan Pentingnya Kerukunan
Mendiang Hasyim Muzadi pernah menegaskan bahwa Indonesia menjadi contoh bagaimana umat beragama dapat hidup berdampingan dalam keberagaman.
Menurutnya, Islam yang berkembang di Indonesia memiliki karakter moderat, menghargai perbedaan, serta mampu beradaptasi dengan kehidupan masyarakat yang majemuk.
Pandangan ini menunjukkan bahwa kerukunan sosial tidak hanya bergantung pada kesamaan agama, tetapi juga pada komitmen untuk saling menghormati dan menjaga keadilan.
Apakah Dunia Otomatis Menjadi Damai?
Sejumlah ulama menilai bahwa dunia yang seluruh penduduknya Muslim belum tentu otomatis bebas dari konflik.
Sejarah Islam sendiri mencatat adanya perbedaan pendapat, persaingan politik, hingga konflik yang terjadi di antara sesama Muslim. Hal tersebut menunjukkan bahwa faktor utama penyebab konflik sering kali berasal dari sifat manusia, bukan semata-mata identitas agama.
Karena itu, banyak ulama lebih menekankan pentingnya penerapan nilai-nilai Islam dibanding sekadar membahas jumlah pemeluknya.
Fokus pada Nilai-Nilai Universal
Dalam perspektif ulama Indonesia, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah seluruh manusia akan memeluk Islam, melainkan apakah manusia mampu menjalankan nilai-nilai yang diajarkan agama.
Nilai seperti kejujuran, amanah, keadilan, kepedulian terhadap sesama, penghormatan terhadap hak orang lain, dan tanggung jawab sosial merupakan prinsip yang terus ditekankan dalam ajaran Islam.
Jika nilai-nilai tersebut benar-benar diterapkan, banyak persoalan kemanusiaan diyakini dapat berkurang, terlepas dari latar belakang agama seseorang.
Pada akhirnya, diskusi tentang dunia yang seluruh penduduknya memeluk Islam bukan hanya berbicara tentang agama, tetapi juga tentang bagaimana manusia membangun peradaban yang lebih adil, damai, dan bermartabat.
Penulis: Queensha Jepara
31 Mei 2026

Tinggalkan Balasan