Queensha.id – Jakarta,

Promosi film horor berjudul Aku Harus Mati mendadak menjadi perbincangan panas publik. Bukan semata karena jalan ceritanya, melainkan strategi pemasaran yang dinilai terlalu ekstrem yang menggunakan baliho besar di ruang publik dengan visual mata merah dan judul bernada putus asa.

Alih-alih menarik simpati, pendekatan ini justru menuai kritik tajam dari masyarakat. Banyak pihak menilai pesan yang disampaikan berpotensi memicu keresahan, terutama bagi kelompok rentan seperti remaja dan individu dengan gangguan kesehatan mental.

 

Kritik Menguat, Kekhawatiran Meningkat

Gelombang kritik semakin besar setelah Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia menyampaikan keprihatinannya secara resmi. Organisasi tersebut menilai bahwa paparan pesan bernuansa kematian dan keputusasaan di ruang publik dapat berdampak serius.

Dalam pernyataannya, PDSKJI menegaskan bahwa pesan visual yang terus-menerus muncul tanpa konteks yang tepat berisiko meningkatkan kecemasan, stres, bahkan memicu ide bunuh diri pada individu yang memiliki riwayat depresi.

“Ekspresi seni tetap penting, namun harus berjalan beriringan dengan empati,” demikian penegasan yang disampaikan.

 

Ruang Publik Bukan Sekadar Media Promosi

Kontroversi ini membuka kembali perdebatan lama: sejauh mana batas kebebasan berekspresi dalam industri kreatif?

Ruang publik, yang diakses oleh berbagai kalangan usia dan latar belakang, dinilai bukan tempat netral untuk menyampaikan pesan ekstrem tanpa filter. Dalam konteks ini, promosi film dianggap perlu mempertimbangkan dampak psikologis, bukan hanya nilai artistik dan sensasi.

 

Cerita Gelap di Balik Layar

Film yang disutradarai oleh Aroe Ama ini sendiri mengangkat kisah sosial yang cukup kompleks. Tokoh utama Mala, diperankan oleh Hana Saraswati, digambarkan sebagai yatim piatu yang terjerat gaya hidup mewah hingga terjebak utang pinjaman online.

Upaya melarikan diri dari masalah justru membawanya pada kenyataan yang lebih kelam dan termasuk misteri masa lalu dan perjanjian dengan kekuatan gaib yang mengorbankan orang-orang terdekatnya.

Cerita ini sejatinya mengandung kritik sosial tentang tekanan ekonomi, gaya hidup instan, dan konsekuensi moral. Namun, pesan tersebut dinilai tenggelam di balik strategi promosi yang kontroversial.

Antara Sensasi dan Tanggung Jawab
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa industri hiburan tidak berdiri di ruang hampa. Setiap karya yang dilempar ke publik membawa konsekuensi sosial.

Ketika sensasi lebih diutamakan daripada sensitivitas, yang muncul bukan hanya perhatian, tetapi juga resistensi. Dalam kasus ini, publik tidak sekadar menonton hingga mereka bereaksi, menilai, bahkan menolak.

 

Perlu Standar Etika yang Lebih Tegas

Kasus “Aku Harus Mati” menegaskan urgensi regulasi dan etika dalam promosi karya kreatif. Bukan untuk membatasi kreativitas, melainkan memastikan bahwa kebebasan berekspresi tidak melukai ruang publik yang seharusnya aman bagi semua.

Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, setiap pesan yang tersebar yaitu terutama di ruang terbuka karena hal ini tidak lagi bisa dianggap sepele.

Sebab, di balik satu baliho, bisa ada ribuan pasang mata yang melihat. Dan tidak semuanya siap menerima pesan yang sama.

 

***
06 April 2026