Queensha.id – Internasional,
Bencana banjir bandang melanda kawasan perbatasan China dan Nepal dengan kecepatan yang mengejutkan. Dalam waktu sekitar 10 menit, air bah yang membawa lumpur, batu, dan puing-puing meluncur sejauh sekitar 20 kilometer ke arah hilir, mengakibatkan kerusakan besar serta mengancam ribuan warga yang tinggal di kawasan pegunungan Himalaya.
Peristiwa tersebut kembali menunjukkan tingginya risiko bencana alam di kawasan Himalaya yang dikenal memiliki kondisi geografis ekstrem, aktivitas gletser yang dinamis, serta lembah-lembah sempit yang mempercepat laju aliran banjir.
Gletser Runtuh Jadi Awal Bencana
Berdasarkan penjelasan para ahli geomorfologi, bencana bermula ketika gletser di wilayah utara Pegunungan Langtang, Nepal tengah yang berbatasan dengan China, mengalami keruntuhan.
Bongkahan es dalam jumlah sangat besar meluncur menuruni lereng gunung dengan kecepatan tinggi. Gesekan selama longsoran menghasilkan panas yang cukup untuk mencairkan sebagian es menjadi air. Air tersebut kemudian bercampur dengan batuan, tanah, dan puing sehingga berubah menjadi aliran lumpur raksasa yang meluncur ke lembah.
Fenomena tersebut dikenal sebagai debris flow, yakni aliran campuran air dan material padat yang memiliki daya rusak jauh lebih besar dibanding banjir biasa.
Terekam sebagai Gempa Magnitudo 4,4
Instrumen seismologi sempat merekam getaran berkekuatan magnitudo 4,4 bersamaan dengan peristiwa tersebut.
Namun para ilmuwan menjelaskan bahwa getaran itu bukan berasal dari gempa tektonik, melainkan akibat energi sangat besar yang dilepaskan ketika massa gletser runtuh menghantam lereng pegunungan.
Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa keruntuhan gletser mampu menghasilkan sinyal seismik yang dapat menyerupai gempa bumi.
Mengapa Banjir Bandang di Himalaya Sangat Berbahaya?
Para ahli menjelaskan bahwa banjir bandang di kawasan Himalaya dapat dipicu oleh beberapa faktor, antara lain:
- Runtuhnya gletser.
- Jebolnya danau glasial atau Glacial Lake Outburst Flood (GLOF).
- Tanah longsor yang memicu aliran lumpur.
Dalam kejadian terbaru ini, penyebab utama bukanlah GLOF, melainkan keruntuhan gletser yang menghasilkan longsoran es dan material dalam jumlah besar.
Karena lembah-lembah Himalaya relatif sempit, air tidak memiliki ruang untuk menyebar. Akibatnya arus menjadi lebih dalam, lebih cepat, dan memiliki daya hancur yang sangat tinggi ketika menghantam permukiman.
Permukiman di Bantaran Sungai Sangat Rentan
Salah satu tantangan terbesar Nepal adalah banyak masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai di lembah Himalaya.
Lokasi tersebut memang memudahkan akses terhadap sumber air, namun juga menjadi wilayah dengan tingkat risiko banjir bandang yang sangat tinggi.
Ketika bencana terjadi, warga hanya memiliki waktu beberapa menit untuk menyelamatkan diri karena kecepatan aliran air sangat tinggi.
Sistem Peringatan Dini Masih Terbatas
Para ahli menilai keterbatasan sistem peringatan dini menjadi faktor yang memperbesar risiko korban jiwa.
Beberapa wilayah memang telah mengembangkan sistem alarm lokal berbasis suara. Namun cakupannya masih sangat terbatas dan belum menjangkau seluruh kawasan rawan bencana.
Pengembangan teknologi peringatan melalui telepon pintar, sensor pemantauan gletser, serta jaringan komunikasi darurat dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko pada masa mendatang.
Dampak Perubahan Iklim
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pemanasan global mempercepat pencairan gletser di kawasan Himalaya.
Mencairnya es menyebabkan kondisi gletser menjadi semakin tidak stabil sehingga meningkatkan potensi longsoran es, pembentukan danau glasial baru, maupun banjir bandang yang dapat terjadi secara tiba-tiba.
Karena itu, para ilmuwan menilai pemantauan kondisi gletser secara berkala menjadi bagian penting dari upaya mitigasi bencana di kawasan pegunungan tinggi.
Pelajaran dari Bencana Himalaya
Bencana di perbatasan China dan Nepal menjadi pengingat bahwa wilayah pegunungan memiliki karakteristik bencana yang berbeda dengan daerah dataran rendah.
Mitigasi bencana, pembangunan sistem peringatan dini, penataan permukiman yang lebih aman, serta peningkatan edukasi masyarakat menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak bencana di masa depan.
Dengan meningkatnya ancaman perubahan iklim dan dinamika gletser di Himalaya, kerja sama antara pemerintah, ilmuwan, dan masyarakat internasional menjadi sangat diperlukan guna melindungi jutaan penduduk yang tinggal di kawasan pegunungan tersebut.
***
Sumber: DtkN.

Tinggalkan Balasan