Queensha.id – Jepara,

 

Di tengah masyarakat Kabupaten Jepara telah lama beredar sebuah anggapan bahwa seseorang yang membeli makanan, minuman, atau barang dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berpakaian rapi atau mewah berpotensi mendapatkan harga yang lebih mahal dibandingkan warga lokal.

Tak sedikit warga yang kemudian memberikan nasihat kepada keluarga, teman, maupun pendatang dengan kalimat seperti:

“Kalau beli sesuatu di Jepara, kalau bisa pakai bahasa Jawa saja, berpakaian biasa, dan jangan lupa tanya harga dulu. Jangan malu, daripada nanti salah paham.”

Namun, benarkah anggapan tersebut merupakan kenyataan? Ataukah hanya sebuah mitos yang berkembang turun-temurun?

Mitos yang Sudah Lama Beredar

Cerita semacam ini bukan hal baru di Jepara. Bahkan sejak puluhan tahun lalu, banyak orang tua mengingatkan anak-anaknya agar berhati-hati saat berbelanja di pasar tradisional maupun tempat wisata.

Sebagian masyarakat percaya bahwa seseorang yang terlihat sebagai orang luar daerah memiliki daya beli lebih tinggi sehingga dianggap tidak terlalu mempermasalahkan harga.

Namun demikian, anggapan tersebut tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh pedagang di Jepara.

Mayoritas pedagang justru menjunjung tinggi kejujuran dan mengandalkan pelanggan tetap sebagai sumber penghasilan utama.

Mengapa Persepsi Itu Muncul?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mitos tersebut terus berkembang.

1. Pendatang Sulit Mengetahui Harga Pasaran

Orang yang baru pertama kali datang ke Jepara umumnya belum mengetahui harga pasar suatu barang.

Ketidaktahuan tersebut terkadang membuat mereka tidak melakukan perbandingan harga.

2. Bahasa Menjadi Penanda Pendatang

Saat seseorang berbicara menggunakan bahasa Indonesia baku di lingkungan yang mayoritas menggunakan bahasa Jawa, sebagian orang langsung mengetahui bahwa pembeli berasal dari luar daerah.

Namun, hal ini tidak otomatis berarti pedagang akan menaikkan harga.

3. Penampilan Dianggap Memiliki Daya Beli Tinggi

Secara psikologis, penampilan memang sering membentuk persepsi.

Seseorang yang datang menggunakan pakaian bermerek atau kendaraan mewah kadang dianggap memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.

Meski demikian, persepsi tersebut tidak boleh dijadikan dasar untuk menuduh seluruh pedagang melakukan praktik menaikkan harga.

4. Budaya Tawar-Menawar

Di sejumlah pasar tradisional, proses tawar-menawar merupakan budaya yang sudah berlangsung lama.

Pembeli yang tidak menawar sering kali langsung menerima harga awal sehingga muncul anggapan bahwa mereka membayar lebih mahal.

Padahal kondisi serupa juga dapat dialami warga lokal.

 

Tidak Semua Pedagang Melakukan Hal Tersebut

Penting dipahami bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan seluruh pedagang di Jepara menerapkan harga berbeda berdasarkan bahasa atau cara berpakaian pembeli.

Banyak pedagang menetapkan harga yang sama kepada semua pelanggan, bahkan memasang daftar harga secara terbuka agar transaksi berlangsung transparan.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak melakukan generalisasi yang dapat merugikan nama baik para pelaku usaha di Jepara.

Tips Berbelanja dengan Bijak

Agar mendapatkan pengalaman belanja yang nyaman, masyarakat dapat menerapkan beberapa langkah berikut:

  • Bertanya harga terlebih dahulu sebelum membeli.
  • Membandingkan harga di beberapa toko atau kios.
  • Bersikap sopan kepada penjual.
  • Menawar secara wajar apabila berada di pasar tradisional.
  • Meminta struk atau bukti pembayaran bila diperlukan.

Cara tersebut merupakan kebiasaan berbelanja yang baik dan dapat diterapkan di mana saja, bukan hanya di Jepara.

 

Pandangan Pengamat Sosial Asal Jepara, Purnomo Wardoyo

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai bahwa anggapan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi sosial daripada fakta yang dapat dibuktikan secara umum.

Menurutnya, setiap daerah di Indonesia memiliki stereotip serupa terhadap pendatang.

 

“Masyarakat jangan mudah menggeneralisasi bahwa semua pedagang di Jepara memberikan harga lebih mahal kepada pembeli yang menggunakan bahasa Indonesia atau berpakaian mewah. Itu lebih tepat dipandang sebagai persepsi yang lahir dari pengalaman pribadi sebagian orang, bukan gambaran keseluruhan,” ujar Purnomo Wardoyo, Jum’at (23/10/2026).

 

Ia menjelaskan bahwa dalam dunia perdagangan, penjual dan pembeli sama-sama memiliki hak untuk berkomunikasi mengenai harga secara terbuka.

Menurutnya, kebiasaan bertanya harga sebelum membeli merupakan bentuk kehati-hatian yang wajar dan berlaku di seluruh daerah.

Purnomo juga mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan mitos sebagai dasar untuk memberikan stigma negatif kepada pedagang Jepara.

“Mayoritas pedagang di Jepara bekerja dengan jujur untuk mencari nafkah. Jika ada pengalaman kurang menyenangkan, hendaknya dipahami sebagai kasus yang bersifat individual, bukan mencerminkan karakter seluruh pedagang,” katanya.

Mitos bahwa membeli makanan atau barang di Jepara akan menjadi lebih mahal hanya karena menggunakan bahasa Indonesia dan berpakaian mewah tidak dapat dianggap sebagai fakta umum. Persepsi tersebut kemungkinan muncul dari pengalaman sebagian orang, budaya tawar-menawar, atau perbedaan informasi mengenai harga pasar.

Sebagai konsumen, langkah terbaik adalah selalu bertanya harga terlebih dahulu, membandingkan apabila memungkinkan, dan melakukan transaksi secara sopan. Di sisi lain, pedagang juga diharapkan terus menjaga transparansi harga sehingga kepercayaan masyarakat dan wisatawan terhadap Jepara tetap terjaga.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.