Queensha.id – Edukasi Islam,
Menjelang Hari Raya Idul Adha, masyarakat Muslim kembali ramai membahas berbagai keutamaan ibadah kurban. Salah satu yang paling sering diperbincangkan adalah keyakinan bahwa hewan kurban kelak akan menjadi kendaraan bagi orang yang berkurban saat melewati jembatan shirath menuju surga.
Narasi tersebut banyak beredar di media sosial, ceramah, hingga pesan berantai. Namun, benarkah hal itu memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam?
Hewan Kurban dan Keutamaannya dalam Islam
Dalam Islam, ibadah kurban merupakan salah satu amalan mulia yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang mampu.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah darah dan daging hewan kurban, melainkan ketakwaan orang yang melaksanakannya.
Ibadah kurban juga menjadi simbol ketaatan, keikhlasan, dan kepedulian sosial terhadap sesama.
Banyak hadis sahih yang menjelaskan besarnya pahala orang yang berkurban, termasuk bahwa hewan kurban akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya sebagai saksi amal kebaikan.
Benarkah Hewan Kurban Jadi Kendaraan di Shirath?
Di tengah masyarakat, berkembang hadis yang berbunyi:
“Perbaguslah hewan kurban kalian, karena ia akan menjadi kendaraan kalian di atas shirath.”
Hadis inilah yang sering dijadikan dasar keyakinan bahwa hewan kurban akan menjadi tunggangan manusia saat melewati jembatan shirath di akhirat.
Namun, banyak ulama ahli hadis menilai riwayat tersebut lemah atau dhaif.
Bahkan sebagian ulama menyebut sanad hadis tersebut sangat lemah karena terdapat perawi yang dinilai bermasalah dalam hafalan maupun kejujurannya.
Penjelasan Ulama Tentang Hadis Tersebut
Sejumlah ulama besar memberikan catatan kritis terhadap hadis mengenai hewan kurban sebagai kendaraan di akhirat.
Ibnu Hajar al-Asqalani disebut menilai hadis tersebut tidak memiliki sanad yang kuat dan tidak bisa dijadikan pegangan utama dalam akidah.
Sementara Muhammad Nashiruddin al-Albani juga menyatakan bahwa riwayat tersebut termasuk hadis lemah.
Di Indonesia, sejumlah dai dan ulama turut memberikan penjelasan serupa.
Adi Hidayat menjelaskan bahwa banyak riwayat tentang hewan kurban menjadi kendaraan di akhirat memang populer, namun kualitas hadisnya sangat lemah sehingga tidak bisa dipastikan sebagai kebenaran mutlak.
Sedangkan Abdul Somad juga menyebut bahwa sebagian besar ulama hadis menilai riwayat tersebut dhaif dan tidak memiliki dasar yang benar-benar kuat.
Apa Makna Sebenarnya dari Ibadah Kurban?
Meski hadis tentang kendaraan di atas shirath dinilai lemah, para ulama tetap menegaskan bahwa ibadah kurban memiliki pahala yang sangat besar.
Nilai utama kurban bukan terletak pada gambaran fisik hewan menjadi kendaraan, melainkan pada:
- keikhlasan,
- ketakwaan,
- pengorbanan,
- dan kepedulian sosial kepada sesama.
Dalam pandangan banyak ulama, hadis-hadis tentang keutamaan kurban sebaiknya dipahami sebagai motivasi untuk meningkatkan ibadah dan ketakwaan, bukan semata mengejar gambaran mistis atau simbolik.
Kurban sebagai Bukti Ketakwaan
Islam mengajarkan bahwa setiap amal saleh akan menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat.
Karena itu, pahala kurban diyakini tetap menjadi amal besar yang mendatangkan ampunan dan rahmat Allah SWT, selama dilakukan dengan niat yang ikhlas.
Para ulama juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah menyebarkan hadis atau cerita keagamaan tanpa memastikan sumber dan derajat kesahihannya.
Di era media sosial, literasi agama menjadi sangat penting agar masyarakat tidak terjebak pada informasi yang belum tentu benar.
Fokus Utama Kurban Menurut Ulama
Mayoritas ulama menegaskan bahwa yang paling utama dalam ibadah kurban adalah semangat mendekatkan diri kepada Allah serta berbagi kepada sesama.
Selain menjadi bentuk ibadah, kurban juga memiliki nilai sosial yang besar karena dagingnya dibagikan kepada masyarakat, terutama kaum dhuafa dan mereka yang membutuhkan.
Dengan demikian, terlepas dari perdebatan mengenai hadis kendaraan di akhirat, ibadah kurban tetap menjadi salah satu amalan mulia yang memiliki banyak hikmah bagi kehidupan spiritual maupun sosial umat Islam.
***
(Queensha Jepara, 25 Mei 2026)

Tinggalkan Balasan