Queensha.id – Jepara,

 

Ungkapan “uang tidak dibawa mati, tetapi laki-laki yang tidak punya uang sering kali tidak dihormati” kerap menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Kalimat tersebut dianggap menggambarkan realitas sosial yang masih banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari, terutama terkait peran laki-laki sebagai pencari nafkah dan penopang ekonomi keluarga.

Menanggapi fenomena tersebut, pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai bahwa persoalan tersebut perlu dipahami secara lebih utuh dan tidak disederhanakan hanya pada ukuran kekayaan seseorang dan jabatan.

Menurut Purnomo, dalam kehidupan bermasyarakat, kondisi ekonomi memang masih menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi cara seseorang dipandang. Namun, penghormatan sejatinya tidak boleh hanya diukur dari jumlah harta yang dimiliki.

 

Kemandirian Finansial Masih Menjadi Tolok Ukur

Purnomo menjelaskan bahwa dalam budaya masyarakat Indonesia, laki-laki sering kali diposisikan sebagai sosok yang diharapkan mampu memberikan rasa aman, termasuk dari sisi ekonomi.

Harapan tersebut membuat kemampuan mencari nafkah kerap menjadi salah satu indikator keberhasilan seorang laki-laki.

“Masyarakat kita masih menempatkan laki-laki sebagai figur yang diharapkan mampu bertanggung jawab terhadap kebutuhan keluarga. Karena itu, ketika seorang laki-laki memiliki pekerjaan dan penghasilan, biasanya ia lebih mudah memperoleh kepercayaan dan penghargaan dari lingkungan,” ujar Purnomo Wardoyo, Sabtu (18/7/2026).

Namun demikian, ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi seseorang tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan martabat orang lain.

 

Menghormati Bukan Karena Kekayaan

Menurut Purnomo, penghormatan yang tulus lahir dari karakter, integritas, tanggung jawab, dan sikap seseorang, bukan semata-mata karena besarnya penghasilan.

Ia menilai tidak sedikit orang yang hidup sederhana tetapi tetap dihormati karena memiliki kejujuran, etika, kepedulian terhadap sesama, dan mampu memegang amanah.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki kekayaan melimpah belum tentu mendapatkan penghormatan apabila tidak menunjukkan perilaku yang baik.

“Uang memang dapat mempermudah kehidupan, tetapi bukan satu-satunya ukuran nilai seseorang. Kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak tetap menjadi fondasi utama untuk mendapatkan penghormatan yang sesungguhnya,” jelasnya.

Tantangan Ekonomi yang Dihadapi Laki-Laki

Purnomo juga mengingatkan bahwa kondisi ekonomi saat ini tidak selalu mudah. Persaingan kerja yang semakin ketat, perubahan dunia usaha, hingga tantangan ekonomi global membuat sebagian orang mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan atau penghasilan yang stabil.

Karena itu, masyarakat diminta untuk tidak mudah memberikan stigma kepada laki-laki yang sedang berjuang memperbaiki kondisi ekonominya.

Menurutnya, yang perlu dihargai adalah kemauan untuk bekerja keras, berusaha, dan bertanggung jawab, bukan semata hasil akhirnya.

Uang Penting, Tetapi Bukan Segalanya

Ungkapan “uang tidak dibawa mati” mengandung pesan bahwa harta bersifat sementara. Namun, selama hidup di dunia, uang tetap menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, hingga membangun masa depan keluarga.

Oleh sebab itu, memiliki penghasilan yang halal merupakan bagian dari tanggung jawab yang patut diupayakan, tanpa menjadikan materi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup.

 

Bangun Penghormatan Lewat Integritas

Purnomo mengajak masyarakat untuk membangun budaya saling menghormati tanpa memandang kondisi ekonomi seseorang.

Menurutnya, laki-laki maupun perempuan memiliki nilai yang sama sebagai manusia. Penghormatan seharusnya diberikan kepada mereka yang memiliki integritas, bekerja dengan jujur, bertanggung jawab, serta terus berusaha memperbaiki kehidupannya.

“Jangan hanya menghormati orang karena hartanya. Hormatilah orang karena kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, dan manfaat yang diberikannya kepada orang lain. Uang bisa dicari, bahkan bisa hilang, tetapi nama baik dan integritas adalah investasi yang nilainya jauh lebih besar,” tutup Purnomo Wardoyo.

Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa kemandirian ekonomi memang penting dalam kehidupan, tetapi penghormatan yang sejati tetap dibangun melalui karakter, etika, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.