Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Sebuah unggahan dari akun Facebook Rahma Fitri yang berisi tujuh cara sederhana membahagiakan istri tanpa harus mengeluarkan banyak biaya menjadi perhatian warganet. Dalam narasinya, penulis menekankan bahwa kebanyakan istri lebih menginginkan perhatian, pengertian, dan kebersamaan daripada kemewahan.

Unggahan tersebut menuai banyak respons positif karena dianggap dekat dengan kehidupan rumah tangga sehari-hari. Namun, bagaimana pandangan Islam terhadap pesan tersebut?

 

Islam Mengajarkan Suami Memperlakukan Istri dengan Baik

Dalam ajaran Islam, suami diperintahkan untuk memperlakukan istri dengan penuh kasih sayang, kelembutan, dan akhlak yang baik.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 19:

“…Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut…”

Ayat tersebut menjadi dasar bahwa hubungan suami istri harus dibangun di atas sikap saling menghormati, saling memahami, dan saling menyayangi.

 

Rasulullah SAW Menjadi Teladan

Dalam banyak hadis sahih, Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok suami yang lembut kepada istri-istrinya. Beliau membantu pekerjaan rumah, bercanda, mendengarkan keluh kesah keluarga, bahkan menunjukkan kasih sayang secara terbuka.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menjadi pedoman bahwa ukuran kebaikan seorang muslim tidak hanya dilihat dari ibadahnya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya.

 

Nilai Positif dalam Unggahan

Sejumlah poin dalam unggahan tersebut selaras dengan nilai-nilai Islam, di antaranya:

  • Mengalah untuk meredam pertengkaran demi menjaga keharmonisan rumah tangga.
  • Membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah sebagai bentuk kerja sama dan kasih sayang.
  • Meluangkan waktu berkualitas bersama keluarga.
  • Memberikan perhatian melalui komunikasi yang baik.
  • Memberikan hadiah sesuai kemampuan sebagai bentuk ungkapan cinta.

Dalam Islam, memberi hadiah kepada pasangan juga dianjurkan karena dapat mempererat hubungan dan menumbuhkan rasa saling mencintai.

 

Jangan Sampai Mengalahkan Kebenaran

Meski demikian, para ulama mengingatkan bahwa sikap mengalah bukan berarti membenarkan sesuatu yang salah.

Jika terjadi perbedaan pendapat, suami dan istri dianjurkan menyelesaikannya dengan musyawarah, saling menasihati secara baik, dan tetap berpegang pada ajaran Islam.

Keharmonisan rumah tangga tidak dibangun di atas kebohongan atau pembenaran terhadap kesalahan, melainkan melalui komunikasi yang santun, saling memaafkan, dan mencari solusi bersama.

 

Ulama: Perhatian Lebih Berharga daripada Kemewahan

Banyak ulama menjelaskan bahwa kebahagiaan dalam rumah tangga tidak selalu bergantung pada besarnya materi.

Perhatian, waktu, akhlak yang baik, sikap lembut, serta kemampuan menghargai pasangan sering kali menjadi faktor yang lebih menentukan terciptanya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Namun demikian, Islam juga menegaskan bahwa suami tetap memiliki kewajiban memberikan nafkah lahir sesuai kemampuan sebagaimana diperintahkan syariat.

Unggahan yang menyebut bahwa membahagiakan istri tidak selalu membutuhkan biaya besar mengandung pesan moral yang pada dasarnya sejalan dengan ajaran Islam, selama dilakukan dalam koridor syariat.

Islam mengajarkan bahwa rumah tangga yang harmonis dibangun melalui kasih sayang, komunikasi yang baik, saling menghormati, saling membantu, serta menunaikan hak dan kewajiban masing-masing. Perhatian yang tulus, sikap lembut, dan akhlak yang mulia menjadi fondasi utama dalam menjaga keutuhan keluarga, sementara rezeki dan kemewahan hanyalah pelengkap, bukan penentu kebahagiaan.

 

***

Sumber: RF.

Penulis: Vico Rahman.