Queensha.id – Edukasi Sosial,
Hampir semua orang tua di dunia memiliki harapan yang sama, yakni melihat anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak baik, sukses, dan mampu menjalani kehidupan yang lebih baik dari generasi sebelumnya.
Sebaliknya, tidak ada orang tua yang berharap anaknya tumbuh menjadi pribadi yang malas, tidak berpendidikan, gemar berbuat maksiat, atau hidup dalam kesulitan sepanjang hidupnya.
Di tengah masyarakat, sering terdengar ungkapan seperti, “Itu anaknya siapa? Kok pintar sekali, rajin salat, pandai mengaji, sopan kepada orang tua, dan berprestasi di sekolah.” Kalimat semacam itu biasanya menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua.
Namun sebaliknya, masyarakat juga kerap memberikan penilaian negatif ketika melihat seorang anak terlibat kenakalan, seperti mencuri, mabuk-mabukan, berperilaku kasar, atau tidak memiliki semangat belajar.
Lalu, benarkah kondisi anak merupakan cerminan keberhasilan orang tua dalam mendidik? Bagaimana pandangan Islam dan para ulama mengenai hal tersebut?
Islam Menempatkan Pendidikan Anak Sebagai Amanah Besar
Dalam ajaran Islam, anak dipandang sebagai amanah dari Allah SWT yang harus dijaga, dididik, dan dibimbing menuju jalan yang benar.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat tersebut menjadi dasar bahwa tanggung jawab orang tua bukan hanya memberikan makan, pakaian, dan pendidikan formal, tetapi juga membentuk akhlak, keimanan, dan karakter anak.
Banyak ulama Indonesia seperti almarhum KH. Maimoen Zubair, KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), hingga KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha sering menekankan bahwa pendidikan akhlak jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar kecerdasan akademik.
Menurut para ulama, anak yang berilmu tetapi tidak memiliki akhlak justru berpotensi membawa kerusakan yang lebih besar dibanding orang yang kurang berilmu.
Jangan Membenci Orang Baik dan Orang Saleh
Di lingkungan masyarakat juga berkembang nasihat agar seseorang tidak membenci orang-orang saleh, alim, atau berbuat baik.
Dalam Islam, membenci seseorang tanpa alasan yang benar, terlebih karena iri terhadap kebaikannya, termasuk akhlak yang tercela.
Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar menjauhi sifat hasad atau dengki karena dapat menghapus pahala kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar.
Sikap iri terhadap keberhasilan orang lain sering kali membuat seseorang sulit berkembang karena lebih sibuk memikirkan kekurangan orang lain dibanding memperbaiki dirinya sendiri.
Para ulama juga mengingatkan bahwa lingkungan keluarga yang dipenuhi kebencian, permusuhan, dan iri hati dapat memengaruhi karakter anak-anak yang tumbuh di dalamnya.
Mengapa Ada Orang Tua yang Sengsara di Masa Tua?
Di masyarakat sering muncul anggapan bahwa orang tua yang hidup sengsara pada masa tua disebabkan karena gagal mendidik anak-anaknya.
Pandangan tersebut tidak selalu salah, tetapi juga tidak bisa digeneralisasi.
Islam mengajarkan bahwa kehidupan seseorang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari usaha, takdir, lingkungan, hingga ujian yang diberikan Allah SWT.
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan keluarga memiliki pengaruh besar terhadap masa depan anak.
Banyak kasus menunjukkan orang tua yang mengabaikan pendidikan agama dan akhlak anak sejak kecil akhirnya menghadapi berbagai persoalan ketika usia senja. Mulai dari anak yang durhaka, terlibat kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, hingga tidak peduli terhadap kondisi orang tuanya.
Sebaliknya, banyak pula orang tua yang hidup tenang dan berkecukupan karena anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab serta memiliki rasa hormat kepada keluarga.
Kesuksesan Anak Bukan Hanya Soal Kekayaan
Dalam pandangan Islam, keberhasilan seorang anak tidak hanya diukur dari banyaknya harta, kendaraan mewah, atau jabatan tinggi.
Anak yang sukses adalah anak yang beriman, berakhlak mulia, menghormati orang tua, bermanfaat bagi masyarakat, dan mampu menjaga diri dari perbuatan yang dilarang agama.
Imam Al-Ghazali dalam berbagai karyanya menjelaskan bahwa tujuan pendidikan sejati adalah membentuk manusia yang dekat kepada Allah dan memiliki akhlak yang baik.
Karena itu, orang tua tidak boleh hanya fokus mengejar prestasi akademik atau kekayaan duniawi, tetapi juga harus menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan kasih sayang sejak dini.
Anak Saleh Menjadi Investasi Terbaik Orang Tua
Dalam sebuah hadis yang sangat populer, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika manusia meninggal dunia, seluruh amalnya akan terputus kecuali tiga perkara, salah satunya adalah doa anak saleh.
Hadis ini menunjukkan bahwa anak yang baik bukan hanya menjadi kebahagiaan orang tua selama hidup di dunia, tetapi juga menjadi investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir.
Karena itu, para ulama sepakat bahwa tugas terbesar orang tua bukanlah mewariskan kekayaan yang melimpah, melainkan mewariskan iman, akhlak, ilmu, dan keteladanan kepada anak-anaknya.
Pendidikan Dimulai dari Keteladanan
Islam menegaskan bahwa anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat dibanding apa yang mereka dengar.
Orang tua yang ingin memiliki anak rajin salat harus terlebih dahulu memberi contoh salat yang baik. Orang tua yang ingin anaknya jujur harus menunjukkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, pendidikan yang paling efektif bukanlah nasihat panjang, melainkan keteladanan yang konsisten.
Pada akhirnya, keberhasilan mendidik anak tidak hanya terlihat dari kesuksesan materi yang diraih, tetapi dari bagaimana anak tersebut mampu menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, menghormati orang tua, dan memberikan manfaat bagi sesama.
***
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan