Queensha.id – Edukasi Islam,
Hampir setiap manusia pernah mengalami pergulatan batin antara melakukan kebaikan dan menunda atau meninggalkannya.
Contoh sederhana terjadi saat waktu salat Dzuhur telah tiba. Dalam hati muncul keinginan untuk segera menunaikan salat. Namun tidak lama kemudian muncul suara lain yang mengatakan:
“Nanti saja, masih sibuk. Toh belum jam dua siang.”
Dalam pandangan Islam, dorongan untuk menunda kewajiban dan menjauhkan manusia dari ketaatan termasuk salah satu bentuk bisikan atau waswas setan. Setan berusaha memengaruhi pikiran manusia sedikit demi sedikit agar menjauh dari perintah Allah SWT.
Mengapa Allah Menciptakan Setan?
Pertanyaan yang sering muncul adalah, jika setan selalu mengajak manusia kepada keburukan, mengapa Allah menciptakannya?
Dalam ajaran Islam, keberadaan setan merupakan bagian dari ujian kehidupan manusia. Allah SWT menciptakan manusia dengan akal, hati, dan kebebasan memilih. Manusia diberi kemampuan untuk menentukan apakah akan mengikuti jalan kebaikan atau keburukan.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam AS karena kesombongannya. Akibat pembangkangan tersebut, Iblis diusir dari rahmat Allah. Namun Iblis meminta penangguhan hingga Hari Kiamat untuk membuktikan bahwa banyak manusia akan tersesat. Allah mengizinkan hal tersebut sebagai bagian dari ujian bagi umat manusia.
Dengan demikian, keberadaan setan bukan karena Allah menginginkan manusia masuk neraka, melainkan sebagai sarana ujian untuk membedakan siapa yang taat dan siapa yang memilih jalan kemaksiatan.
Apakah Setan Bisa Memaksa Manusia Berbuat Dosa?
Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap seluruh dosa manusia semata-mata karena setan.
Menurut ajaran Islam, setan tidak memiliki kekuatan untuk memaksa manusia. Setan hanya membisikkan, menggoda, mengajak, dan menghias keburukan agar terlihat menarik. Keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Pada Hari Kiamat nanti, setan bahkan akan berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya dan mengatakan bahwa dirinya hanya mengajak, sedangkan manusialah yang memilih untuk mengikuti ajakannya.
Karena itu, seseorang tidak dapat menjadikan setan sebagai alasan utama atas dosa yang dilakukan. Dalam Islam, manusia tetap bertanggung jawab atas setiap pilihan dan perbuatannya.
Strategi Setan Menyesatkan Manusia
Para ulama menjelaskan bahwa setan tidak selalu mengajak manusia langsung kepada dosa besar.
Menurut penjelasan yang dinisbatkan kepada Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, setan memiliki tahapan dalam menyesatkan manusia. Jika gagal mengajak kepada kekafiran, setan akan mencoba mengajak kepada bid’ah. Jika gagal, setan mengajak kepada dosa besar. Jika gagal lagi, setan mengajak kepada dosa kecil. Bahkan ketika seseorang rajin beribadah, setan berusaha menyibukkannya dengan perkara yang kurang penting agar meninggalkan amalan yang lebih utama.
Inilah sebabnya mengapa menunda salat, menunda sedekah, malas mengaji, hingga menunda berbuat baik sering disebut sebagai pintu masuk godaan setan.
Pandangan Ulama Besar
Ulama Nusantara, Syekh Nawawi Al-Bantani, menjelaskan bahwa mengikuti langkah-langkah setan berarti mengikuti bisikan yang mengarah kepada kemungkaran dan menjauhkan manusia dari syariat Allah SWT.
Sementara itu, ulama besar Indonesia, Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa setan selalu berusaha mendatangi manusia dari berbagai arah kehidupan. Tujuannya adalah membuat manusia lalai, tidak bersyukur, dan menjauh dari ketaatan kepada Allah SWT.
Menurut Hamka, godaan setan tidak selalu berbentuk sesuatu yang menakutkan. Sering kali justru hadir dalam bentuk yang terlihat menyenangkan, menguntungkan, atau masuk akal menurut hawa nafsu manusia.
Benarkah Manusia di Neraka Menjadi Alas Kaki Setan?
Di masyarakat beredar cerita bahwa manusia yang berhasil disesatkan setan nantinya akan menjadi alas kaki setan di neraka.
Namun, dalam ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih, tidak ditemukan dalil yang secara jelas menyatakan bahwa penghuni neraka akan menjadi alas kaki setan.
Yang dijelaskan dalam Al-Qur’an adalah bahwa setan dan manusia yang sama-sama memilih jalan kesesatan akan menerima azab sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing. Setan tidak memperoleh keuntungan khusus dari masuknya manusia ke neraka, dan manusia bukan dijadikan alas kaki setan sebagaimana cerita yang sering beredar di masyarakat.
Karena itu, informasi tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai cerita populer atau kisah yang tidak memiliki landasan kuat dalam sumber utama ajaran Islam.
Cara Menghindari Godaan Setan
Para ulama menjelaskan beberapa cara untuk melawan godaan setan, antara lain:
- Menjaga salat lima waktu tepat waktu.
- Memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an.
- Membaca ta’awudz (A’udzu billahi minasy syaithanir rajim).
- Berkumpul dengan orang-orang saleh.
- Mengendalikan hawa nafsu.
- Memperbanyak istighfar dan taubat.
- Mengingat bahwa setan adalah musuh nyata manusia.
Dalam pandangan Islam, setan memang berusaha menggoda manusia melalui bisikan, pemikiran negatif, keraguan, dan penundaan terhadap kebaikan. Namun setan tidak memiliki kekuatan untuk memaksa manusia berbuat dosa.
Allah SWT menciptakan setan sebagai bagian dari ujian kehidupan agar manusia dapat menunjukkan keimanan, ketakwaan, dan kemampuan memilih jalan yang benar. Karena itu, ketika muncul suara hati yang mengajak menunda salat, meninggalkan kebaikan, atau melakukan kemaksiatan, seorang muslim dianjurkan untuk segera berlindung kepada Allah dan menguatkan tekad untuk tetap berada di jalan yang diridhai-Nya.
***

Tinggalkan Balasan