Queensha.id – Jepara,
Program modeling budidaya rumput laut di Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, hingga kini belum memasuki masa panen. Pemerintah menegaskan pembangunan kawasan budidaya masih terus berlangsung sehingga isu mengenai kegagalan program dinilai tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Jepara, Muh Tahsin, menjelaskan bahwa program modeling budidaya rumput laut merupakan revitalisasi kawasan budidaya yang sebelumnya telah dimanfaatkan masyarakat. Program tersebut merupakan hibah murni dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tahun 2026.
“Modelling budidaya rumput laut di Desa Kemujan Kecamatan Karimunjawa tahun 2026 ini merupakan program hibah murni dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP),” ujar Tahsin, Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, program tersebut menghadirkan teknologi budidaya terbaru menggunakan material yang lebih ramah lingkungan sekaligus melakukan pembaruan bibit rumput laut agar produktivitas pembudidaya meningkat.
Kawasan Budidaya Capai Puluhan Hektare
Tahsin menjelaskan, program ini meliputi pembangunan Kebun Bibit Rumput Laut (KBRL) seluas 4,5 hektare dan kawasan pembesaran seluas 45 hektare.
Hingga saat ini, pembangunan kawasan pembesaran telah mencapai progres lebih dari 50 persen.
Sementara itu, bibit yang telah disalurkan untuk KBRL mencapai 5,5 ton, sedangkan kebutuhan bibit untuk kawasan pembesaran direncanakan sebanyak 28,8 ton.
Penanaman awal bibit di KBRL telah dilakukan sejak Agustus 2026 dan kini memasuki tahap pemencaran atau pengembangan bibit.
Adapun bibit di kawasan pembesaran masih berada pada tahap adaptasi karena pembangunan kawasan belum selesai sepenuhnya.
Diskan Jepara Bantah Isu Program Gagal
Tahsin menegaskan bahwa informasi yang menyebut program modeling budidaya rumput laut mengalami kegagalan, menyebabkan kerugian masyarakat, maupun bibit mati, tidak benar.
“Bilamana ada isu-isu modelling gagal, kerugian di masyarakat dan bibit mati, tidaklah benar, karena pembangunan masih berproses,” tegasnya.
Ia menjelaskan, bibit yang sempat disebut mengalami kerusakan berada di kawasan pembesaran yang memang masih dalam tahap pembangunan dan adaptasi.
Dilengkapi Sarana Budidaya Modern
Dalam program bantuan tersebut, KKP juga menyediakan berbagai fasilitas pendukung, antara lain:
- 40 unit kerangka budidaya (frame) KBRL berukuran 25 x 50 meter.
- 90 unit kerangka budidaya kawasan pembesaran berukuran 50 x 100 meter.
- 1 rumah ikat.
- 1 rumah pengering.
- 3 perahu panen.
- 6 perahu tanam untuk enam kelompok pembudidaya.
Seluruh proses pembangunan turut melibatkan masyarakat lokal.
Biaya penanaman dan pemasangan kerangka budidaya diberikan sebesar Rp15.000 per 25 meter, terdiri atas Rp10.000 untuk penanaman dan Rp5.000 untuk pemasangan.
Selain itu, pemasangan klip pada tali ris sepanjang 12,5 meter dihargai Rp4.000. Pekerjaan pemasangan frame, pasak besi, hingga kebutuhan lainnya juga dikerjakan oleh tenaga kerja yang mayoritas berasal dari warga sekitar.
Ditargetkan Produksi Minimal 300 Ton
Tahsin menambahkan, hingga saat ini bibit bantuan KKP memang belum menghasilkan panen karena masih dalam tahap pengembangan.
Apabila seluruh pembangunan selesai sesuai rencana, program tersebut ditargetkan mampu menghasilkan minimal 300 ton rumput laut.
“Target produksi rumput laut dari bantuan tersebut dapat mencapai minimal 300 ton,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa kawasan modeling tersebut sebelumnya merupakan lahan budidaya milik masyarakat yang kemudian direvitalisasi oleh KKP. Penggunaan lahan dilakukan berdasarkan kerja sama antara para pembudidaya dengan Balai Taman Nasional Karimunjawa.
Program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas budidaya rumput laut di Karimunjawa sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat pesisir melalui penerapan teknologi budidaya yang lebih modern dan ramah lingkungan.
***
Sumber: Diskominfo Jepara/AP.

Tinggalkan Balasan