Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Setiap memasuki Bulan Suro pada Selasa malam, 16 Juni (setelah waktu Magrib). Dalam tradisi Jawa, tanggal 1 Suro-nya sendiri jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026 dengan weton Rabu Kliwon. Dalam penanggalan Jawa atau Bulan Muharam dalam kalender Hijriah, berbagai kepercayaan dan tradisi kembali menjadi perbincangan di tengah masyarakat.

Sebagian masyarakat Jawa menganggap Bulan Suro sebagai bulan yang sakral dan penuh kehati-hatian. Berbagai pantangan pun masih dipercaya hingga saat ini, mulai dari larangan menggelar hajatan, pindah rumah, hingga keluar malam terutama saat Malam 1 Suro.

Di sejumlah daerah, tradisi tersebut masih dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya leluhur yang diwariskan turun-temurun.

 

Pantangan yang Masih Dipercaya Sebagian Masyarakat

Dalam tradisi Jawa, terdapat beberapa pantangan yang sering dikaitkan dengan Bulan Suro.

Di antaranya adalah:

  • Tidak menggelar pesta pernikahan atau hajatan besar.
  • Tidak pindah rumah atau memulai pembangunan rumah.
  • Mengurangi aktivitas keluar rumah pada Malam 1 Suro.
  • Menjaga ucapan agar tidak sombong, kasar, maupun menyakiti orang lain.
  • Memperbanyak laku prihatin dan introspeksi diri.

Bagi sebagian masyarakat, pantangan tersebut dipercaya dapat menghindarkan seseorang dari kesialan maupun berbagai musibah.

Namun keyakinan tersebut tidak selalu memiliki dasar yang sama dalam ajaran agama Islam.

 

Pandangan Ulama tentang Bulan Muharam

Para ulama menjelaskan bahwa Muharam merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa terdapat empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan, salah satunya adalah Muharam.

Dalam Islam, Muharam justru dianjurkan untuk diisi dengan berbagai amal kebaikan seperti:

  • Memperbanyak puasa sunnah.
  • Memperbanyak doa dan dzikir.
  • Bersedekah.
  • Mempererat silaturahmi.
  • Melakukan introspeksi diri.

Sejumlah ulama besar menegaskan bahwa tidak ada dalil yang melarang seseorang menikah, pindah rumah, membuka usaha, atau melakukan aktivitas positif lainnya pada Bulan Muharam.

Yang dilarang dalam Islam adalah mempercayai bahwa suatu bulan membawa kesialan secara mutlak.

Rasulullah SAW juga mengajarkan agar umat Islam tidak terjebak pada anggapan sial terhadap waktu, hari, maupun bulan tertentu.

 

Islam Mengajarkan Muharam sebagai Momentum Hijrah

Dalam perspektif Islam, Muharam lebih dimaknai sebagai momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan kesempatan untuk mengevaluasi diri, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kualitas ibadah.

Karena itu, banyak ulama mendorong umat Islam untuk menjadikan Muharam sebagai bulan pembaruan spiritual, bukan bulan ketakutan.

Nilai utama yang ditekankan adalah pengendalian diri, menjauhi perbuatan buruk, dan memperbanyak amal saleh.

 

Purnomo Wardoyo: Tradisi Boleh Dijaga, Jangan Sampai Menjadi Takhayul

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai tradisi Bulan Suro merupakan bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang patut dihormati.

Menurutnya, berbagai ritual dan tradisi yang berkembang di masyarakat memiliki nilai sosial yang kuat karena mengajarkan kehati-hatian, introspeksi diri, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Namun ia mengingatkan agar masyarakat tidak memahami tradisi tersebut secara berlebihan hingga menimbulkan ketakutan yang tidak rasional.

“Tradisi Suro memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Tetapi masyarakat juga harus memahami bahwa keberhasilan, rezeki, jodoh, maupun musibah pada akhirnya berada dalam kehendak Allah SWT, bukan ditentukan oleh suatu bulan tertentu,” ujar Purnomo Wardoyo.

Ia menambahkan bahwa nilai positif Bulan Suro sebenarnya terletak pada kemampuan manusia untuk mengendalikan diri dari sifat buruk seperti kesombongan, amarah, iri hati, dan perilaku yang merugikan orang lain.

 

Tantangan Terbesar Bulan Suro adalah Mengalahkan Diri Sendiri

Menurut para ulama maupun pengamat sosial, tantangan terbesar dalam Bulan Suro bukanlah gangguan gaib atau kesialan sebagaimana yang sering dipercaya sebagian masyarakat.

Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu, menjaga ucapan, memperbaiki perilaku, dan melakukan evaluasi diri secara jujur.

Karena itu, Bulan Muharam dapat menjadi momentum yang tepat untuk memulai kehidupan yang lebih baik, memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, serta meningkatkan kedekatan kepada Allah SWT.

 

Menghormati Tradisi dan Memperkuat Keimanan

Di tengah perkembangan zaman, masyarakat diharapkan mampu menyikapi Bulan Suro secara bijak.

Tradisi budaya dapat tetap dilestarikan sebagai identitas dan kekayaan bangsa, sementara ajaran agama menjadi pedoman utama dalam menjalani kehidupan.

Dengan demikian, Bulan Suro tidak lagi dipandang sebagai bulan yang menakutkan, melainkan sebagai momentum refleksi, pengendalian diri, dan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik secara spiritual maupun sosial.

 

***

Queensha Jepara.