Queensha.id – Alam,
Setiap hari, jutaan burung laut menjelajahi samudra dalam perjalanan yang membentang ribuan kilometer. Mereka menghadapi tantangan yang tampaknya mustahil bagi makhluk hidup lain: bagaimana cara beristirahat tanpa pernah mendarat atau berhenti terbang?
Pertanyaan ini telah menjadi misteri bagi para ilmuwan selama berabad-abad. Namun, penelitian modern akhirnya berhasil mengungkap salah satu rahasia paling menakjubkan di dunia hewan. Burung cikalang besar atau Fregata minor ternyata mampu tidur saat masih berada di udara.
Temuan ini menjadi bukti ilmiah pertama yang menunjukkan bahwa burung benar-benar dapat tidur ketika sedang terbang melintasi lautan luas. Penelitian yang dipimpin oleh Niels Rattenborg dari Max Planck Institute for Ornithology menggunakan alat perekam aktivitas otak mini atau EEG yang dipasang pada 14 ekor burung cikalang betina di Kepulauan Galápagos, Ekuador. Para peneliti menemukan bahwa burung tersebut tetap bisa beristirahat tanpa harus mendarat.
Hanya Tidur 42 Menit Sehari Saat Terbang
Hasil penelitian menunjukkan fakta yang mengejutkan. Saat berada di udara, burung cikalang hanya tidur sekitar 42 menit dalam sehari. Jumlah ini sangat jauh dibandingkan waktu tidur mereka ketika berada di daratan yang dapat mencapai lebih dari 12 jam per hari.
Tidur tersebut tidak dilakukan dalam satu periode panjang. Sebaliknya, cikalang beristirahat dalam episode-episode singkat yang rata-rata berlangsung sekitar 10 detik. Sebagian besar waktu tidur terjadi pada malam hari ketika burung sedang melayang memanfaatkan arus udara hangat yang naik dari permukaan laut.
Para peneliti mencatat bahwa selama penerbangan, cikalang hanya memperoleh sekitar 7,4 persen dari total waktu tidur normal mereka di daratan. Meski demikian, burung ini tetap mampu berburu, bernavigasi, dan bertahan hidup di tengah samudra yang luas.
Separuh Otak Tidur, Separuh Lagi Tetap Waspada
Rahasia utama kemampuan luar biasa ini terletak pada mekanisme yang disebut unihemispheric slow-wave sleep (USWS), atau tidur separuh otak.
Dalam kondisi ini, satu belahan otak memasuki fase tidur gelombang lambat yang dalam, sementara belahan otak lainnya tetap aktif dan waspada. Mata yang terhubung dengan bagian otak yang masih terjaga akan tetap terbuka untuk memantau lingkungan sekitar. Dengan cara tersebut, burung masih dapat mendeteksi ancaman, mencari makanan, dan menjaga arah terbang meskipun sedang beristirahat.
Penelitian juga menemukan bahwa saat melayang dalam arus udara naik, cikalang sering mempertahankan mata yang menghadap arah penerbangan tetap terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka menggunakan tidur separuh otak sebagai sistem keamanan alami selama berada di udara.
Memiliki Tiga Mode Tidur yang Unik
Burung cikalang ternyata tidak hanya memiliki satu jenis tidur.
Mode pertama adalah tidur unihemisferik atau tidur separuh otak yang memungkinkan mereka tetap siaga selama terbang.
Mode kedua adalah tidur gelombang lambat pada kedua belahan otak sekaligus. Tidur ini lebih dalam dan memberikan pemulihan yang lebih baik, tetapi hanya berlangsung sangat singkat karena burung tidak dapat kehilangan kewaspadaan terlalu lama saat berada di udara.
Mode ketiga adalah tidur REM (rapid eye movement), yaitu fase tidur yang pada manusia identik dengan mimpi. Menariknya, fase REM pada cikalang hanya berlangsung beberapa detik. Meski sangat singkat, fase ini diyakini tetap penting untuk proses penyimpanan memori dan pembelajaran.
Saat memasuki fase REM, kepala burung sering tampak mengangguk seperti sedang mengantuk. Namun, pola terbangnya tetap stabil dan tidak mengalami gangguan berarti.
Mengapa Cikalang Tidak Beristirahat di Laut?
Berbeda dengan albatros atau petrel yang dapat mengapung di permukaan laut, cikalang memiliki keterbatasan fisik yang membuat mereka sulit mendarat di air.
Bulu burung ini tidak tahan air dan kaki mereka relatif lemah. Jika terlalu lama berada di permukaan laut, bulu cikalang dapat menjadi basah sehingga menyulitkan mereka untuk kembali terbang. Risiko tenggelam pun meningkat. Karena itulah mereka lebih memilih tetap berada di udara selama berminggu-minggu.
Bahkan penelitian lain menunjukkan bahwa beberapa cikalang dapat terus terbang tanpa henti hingga sekitar dua bulan saat menjelajahi samudra.
Adaptasi Luar Biasa di Dunia Burung
Kemampuan tidur saat terbang bukan satu-satunya keajaiban dunia burung.
Penelitian terbaru pada pinguin chinstrap di Antartika menunjukkan bahwa burung tersebut dapat tertidur lebih dari 10.000 kali dalam sehari. Setiap episode tidur hanya berlangsung sekitar empat detik, tetapi secara keseluruhan menghasilkan lebih dari 11 jam waktu tidur per hari. Strategi ini membantu mereka tetap menjaga telur dan anak-anaknya dari predator.
Sementara itu, burung swift biasa (Apus apus) diketahui mampu bertahan di udara hingga sekitar 10 bulan tanpa mendarat. Meski demikian, cara mereka tidur masih menjadi misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan oleh para ilmuwan.
Pelajaran dari Langit
Penemuan mengenai burung cikalang membuka wawasan baru tentang bagaimana evolusi mampu menciptakan solusi luar biasa terhadap tantangan kehidupan. Saat manusia membutuhkan tidur berjam-jam setiap malam untuk menjaga kesehatan otak, cikalang membuktikan bahwa dalam kondisi tertentu, alam mampu mengembangkan strategi yang sangat berbeda.
Dengan tidur hanya puluhan menit sehari dan tetap mampu menjelajahi samudra selama berhari-hari, burung ini menjadi salah satu contoh paling menakjubkan tentang adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungan ekstrem.
Fenomena tersebut juga mengingatkan bahwa masih banyak rahasia dunia hewan yang belum sepenuhnya dipahami. Di atas lautan yang luas dan langit yang tak berujung, burung cikalang terus menunjukkan bahwa batas kemampuan hidup sering kali jauh melampaui apa yang dibayangkan manusia.
***
Mongabay.
(Queensha Jepara, 3 Juni 2026)

Tinggalkan Balasan