Queensha.id – Edukasi Sosial,
Menikah merupakan salah satu fase penting dalam kehidupan. Namun, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan yang saling mencintai atau memenuhi kebutuhan biologis. Di balik akad nikah, terdapat tanggung jawab besar yang harus dipikul seorang suami.
Seorang laki-laki yang menikah pada hakikatnya menerima amanah berupa anak perempuan yang selama bertahun-tahun dibesarkan, dididik, disekolahkan, dan dijaga oleh kedua orang tuanya. Karena itu, kesiapan mental saja tidak cukup. Kesiapan ekonomi juga menjadi faktor yang sangat menentukan keharmonisan rumah tangga.
Banyak konflik rumah tangga berawal dari masalah keuangan. Oleh sebab itu, para pemuda yang berencana menikah perlu memahami bahwa menjadi kepala keluarga berarti siap memenuhi kebutuhan keluarga secara bertanggung jawab.
Berikut 10 persiapan finansial yang sebaiknya dimiliki calon suami.
1. Memiliki Tempat Tinggal
Rumah menjadi kebutuhan dasar setelah menikah. Tempat tinggal tidak harus langsung berupa rumah pribadi. Mengontrak rumah atau tinggal sementara bersama orang tua juga dapat menjadi pilihan, selama ada kesepakatan dengan pasangan dan tetap menjaga kenyamanan serta privasi keluarga.
Yang terpenting adalah adanya rencana jangka panjang untuk memiliki tempat tinggal yang layak sesuai kemampuan ekonomi.
2. Menyiapkan Biaya Kebutuhan Harian
Calon suami perlu memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti beras, lauk-pauk, sayuran, susu, kebutuhan dapur, hingga perlengkapan rumah tangga.
Penghasilan tidak harus besar, tetapi harus mampu memenuhi kebutuhan pokok keluarga secara rutin.
3. Menghitung Pengeluaran Operasional Bulanan
Selain kebutuhan makan, terdapat berbagai pengeluaran rutin yang sering kali dianggap sepele, seperti:
- Bensin kendaraan.
- Pulsa dan kuota internet.
- Listrik.
- Air bersih.
- Biaya komunikasi.
- Rokok bagi yang merokok.
- Pengeluaran kecil lainnya.
Tanpa perencanaan yang baik, pengeluaran kecil tersebut dapat mengganggu kondisi keuangan keluarga.
4. Menyelesaikan atau Mengelola Cicilan
Jika memiliki cicilan kendaraan, rumah, atau pinjaman lainnya, calon suami harus memperhitungkan kemampuan membayar setelah menikah.
Pakar keuangan umumnya menyarankan agar total cicilan tidak melebihi sekitar 30–35 persen dari pendapatan bulanan agar kondisi keuangan tetap sehat.
5. Menyiapkan Anggaran Sandang dan Kebutuhan Istri
Istri juga memiliki kebutuhan pribadi, seperti pakaian, perlengkapan kebersihan, kosmetik atau make up sesuai kebutuhan, serta kebutuhan kesehatan.
Bukan berarti harus membeli barang mewah, melainkan memberikan hak istri secara layak sesuai kemampuan ekonomi keluarga.
6. Membayar Iuran Lingkungan dan Kewajiban Sosial
Setelah menikah, pasangan akan menjadi bagian dari masyarakat. Biasanya terdapat iuran keamanan, kebersihan, kas RT, hingga kegiatan sosial.
Walaupun nominalnya tidak besar, pengeluaran ini tetap perlu dimasukkan dalam anggaran bulanan.
7. Menyediakan Dana Rekreasi dan Quality Time
Kehidupan rumah tangga bukan hanya bekerja dan memenuhi kebutuhan pokok. Pasangan juga membutuhkan waktu berkualitas bersama.
Rekreasi tidak harus mahal. Jalan-jalan ke taman, wisata lokal, atau makan bersama sesekali dapat membantu menjaga keharmonisan hubungan.
8. Memiliki Dana Darurat
Dana darurat merupakan salah satu fondasi keuangan keluarga.
Dana ini dapat digunakan ketika terjadi kondisi tak terduga seperti sakit, kehilangan pekerjaan, kendaraan rusak, atau kebutuhan mendesak lainnya.
Idealnya, keluarga memiliki dana darurat yang cukup untuk menutup kebutuhan hidup beberapa bulan.
9. Menyiapkan Tabungan Masa Depan
Rumah tangga juga harus memiliki tujuan jangka panjang.
Tabungan dapat dipersiapkan untuk:
- Pendidikan anak.
- Membeli rumah.
- Modal usaha.
- Dana pensiun.
- Ibadah seperti umrah atau haji.
Menabung sejak awal pernikahan akan jauh lebih ringan dibanding menunggu kebutuhan datang.
10. Memiliki Perlindungan Keuangan
Selain menabung, keluarga juga perlu memikirkan perlindungan finansial.
Misalnya dengan memiliki BPJS Kesehatan yang aktif, mengikuti BPJS Ketenagakerjaan jika memenuhi syarat, atau bentuk perlindungan lain sesuai kemampuan. Tujuannya agar ketika terjadi risiko kesehatan atau musibah, kondisi ekonomi keluarga tidak langsung terganggu.
Pandangan Pakar Ekonomi
Sejumlah pakar ekonomi Indonesia, termasuk ekonom senior seperti semasa hidupnya, kerap mengingatkan pentingnya literasi keuangan dalam rumah tangga. Mereka menilai bahwa kemampuan mengelola pendapatan sama pentingnya dengan besarnya penghasilan.
Sementara itu, banyak perencana keuangan di Indonesia juga menekankan bahwa keluarga sebaiknya menyusun anggaran bulanan, mengendalikan utang, menyiapkan dana darurat, dan memiliki tujuan keuangan yang jelas agar kehidupan rumah tangga lebih stabil.
Pernikahan Adalah Amanah
Dalam Islam, suami memiliki kewajiban memberikan nafkah kepada istri sesuai kemampuan. Nafkah tersebut meliputi kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Namun, rumah tangga yang harmonis tidak hanya bergantung pada uang, melainkan juga komunikasi, kasih sayang, tanggung jawab, serta saling memahami.
Karena itu, bagi para pemuda yang ingin menikah, jangan hanya mempersiapkan pesta pernikahan. Persiapkan juga kemampuan bekerja, mengelola keuangan, membangun karakter yang dewasa, serta kesiapan memimpin keluarga.
Pernikahan bukan sekadar tentang hari bahagia saat akad nikah, tetapi tentang kesiapan menjalani tanggung jawab seumur hidup bersama pasangan dan membangun generasi yang lebih baik.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan