Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Mendidik anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan, pakaian, atau pendidikan formal. Dalam Islam, anak adalah amanah dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, orang tua memiliki tugas besar membentuk anak agar tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, mandiri, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Di media sosial, beredar panduan pengasuhan yang membagi pendidikan anak berdasarkan empat tahapan usia, yakni 0–6 tahun, 7–14 tahun, 15–21 tahun, dan 21 tahun ke atas. Meski pembagian usia tersebut bukan hadis Nabi Muhammad SAW secara langsung, konsep tersebut banyak digunakan dalam dunia parenting Islami karena selaras dengan nilai-nilai Al-Qur’an, sunnah, dan perkembangan psikologi anak.

Lalu, bagaimana Islam memandang setiap tahapan tersebut?

Usia 0–6 Tahun: Anak Bagaikan Raja, Berikan Kasih Sayang Tanpa Batas

Pada fase ini, anak membutuhkan kasih sayang yang melimpah. Maksud “anak bagaikan raja” bukan berarti menuruti semua keinginannya, tetapi memenuhi kebutuhan emosionalnya dengan cinta, perhatian, dan rasa aman.

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat penyayang terhadap anak-anak. Beliau sering menggendong, mencium, memangku, bahkan bermain bersama cucunya Hasan dan Husain. Sikap tersebut menunjukkan bahwa kasih sayang adalah fondasi utama dalam membangun karakter anak.

Pada usia ini, perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat. Para ahli menyebutnya sebagai golden age, yaitu masa emas yang menentukan pembentukan kepribadian hingga dewasa.

 

Yang sebaiknya dilakukan orang tua:

  • Memeluk dan mencium anak setiap hari.
  • Mengajak bermain sambil belajar.
  • Mengenalkan Allah SWT melalui cerita sederhana.
  • Membiasakan doa-doa harian.
  • Memperdengarkan bacaan Al-Qur’an.
  • Memberikan contoh perilaku baik.

Kasih sayang yang cukup akan membuat anak tumbuh percaya diri, memiliki empati, serta mudah menjalin hubungan sosial. Sebaliknya, anak yang sering dimarahi atau mengalami kekerasan berisiko mengalami trauma dan gangguan emosional di kemudian hari.

Usia 7–14 Tahun: Saatnya Menanamkan Disiplin dan Tanggung Jawab

Memasuki usia sekolah, anak mulai mampu memahami aturan, kewajiban, serta konsekuensi dari setiap tindakan.

Dalam Islam, Rasulullah SAW menganjurkan orang tua membiasakan anak salat sejak usia tujuh tahun. Hal ini menunjukkan bahwa fase ini merupakan waktu terbaik untuk mulai menanamkan disiplin ibadah dan tanggung jawab.

Istilah “anak bagaikan tawanan” hendaknya dipahami sebagai perlunya bimbingan yang tegas namun penuh kasih sayang, bukan perlakuan keras atau otoriter.

 

Nilai yang perlu diajarkan:

  • Salat lima waktu.
  • Puasa Ramadan.
  • Kejujuran.
  • Disiplin waktu.
  • Menghormati orang tua dan guru.
  • Bertanggung jawab terhadap tugas sekolah maupun pekerjaan rumah.
  • Menjaga adab dalam berbicara dan berteman.

Jika anak melakukan kesalahan, orang tua dianjurkan memberikan nasihat dan konsekuensi yang mendidik, bukan hukuman yang melukai fisik maupun mental.

Pentingnya Peran Ayah dan Ibu

Dalam banyak keluarga Muslim, ayah dan ibu memiliki peran yang saling melengkapi.

Pada usia ini, anak laki-laki dianjurkan lebih banyak belajar kepada ayah mengenai tanggung jawab, kepemimpinan, keberanian, dan etos kerja. Sementara anak perempuan dapat lebih banyak belajar kepada ibu mengenai kelembutan, menjaga kehormatan, serta berbagai keterampilan kehidupan.

Meski demikian, bukan berarti hubungan dengan orang tua lainnya dibatasi. Justru keduanya tetap harus hadir secara aktif dalam kehidupan anak.

Usia 15–21 Tahun: Jadilah Sahabat Bagi Anak

Masa remaja merupakan fase pencarian jati diri. Anak mulai memiliki pemikiran sendiri, ingin dihargai, dan belajar mengambil keputusan.

Pada masa ini, pendekatan yang terlalu keras justru berpotensi membuat anak menjauh dari orang tua.

Islam mengajarkan pentingnya musyawarah, dialog, dan saling menghargai. Orang tua perlu menjadi sahabat yang mampu mendengarkan tanpa langsung menghakimi.

 

Yang perlu dilakukan:

  • Mendengarkan cerita anak.
  • Mengajak berdiskusi.
  • Menghargai pendapat mereka.
  • Memberikan arahan dengan bijaksana.
  • Menjadi tempat curhat yang nyaman.

Komunikasi yang baik akan membuat anak lebih terbuka ketika menghadapi persoalan seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, tekanan akademik, maupun masalah percintaan.

Mengapa Pada Fase Ini Pendekatannya Berubah?

Sebagian praktisi parenting Islami menyarankan agar pada usia remaja, anak laki-laki mendapat kedekatan emosional lebih banyak dengan ibu, sedangkan anak perempuan lebih dekat kepada ayah.

Pendekatan ini bertujuan melengkapi kebutuhan emosional anak dalam proses pendewasaan. Namun, perlu dipahami bahwa ini bukan ketentuan syariat yang wajib diikuti, melainkan salah satu pendekatan pendidikan yang dapat disesuaikan dengan kondisi setiap keluarga.

Usia 21 Tahun ke Atas: Berikan Kepercayaan dan Kebebasan yang Bertanggung Jawab

Ketika anak memasuki usia dewasa, orang tua mulai memberikan kepercayaan untuk menentukan pilihan hidupnya.

Anak sudah belajar mandiri, bekerja, membangun keluarga, maupun mengambil keputusan penting dalam kehidupannya.

Meski demikian, orang tua tetap memiliki peran sebagai pemberi nasihat dan pendamping ketika dibutuhkan.

 

Peran orang tua pada fase ini:

  • Memberikan dukungan moral.
  • Menjadi tempat meminta nasihat.
  • Tidak terlalu mengontrol kehidupan anak.
  • Menghormati keputusan anak selama tidak bertentangan dengan syariat.
  • Terus mendoakan kebaikan anak.

Dalam Islam, doa orang tua merupakan salah satu doa yang sangat mustajab. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti mendoakan anak, sekalipun mereka telah berumah tangga.

Keteladanan Lebih Penting daripada Nasihat

Salah satu prinsip terbesar dalam pendidikan Islam adalah keteladanan.

Anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi juga dari apa yang dilihat setiap hari.

Orang tua yang mengajarkan kejujuran harus lebih dahulu bersikap jujur. Orang tua yang menginginkan anak rajin salat harus memberikan contoh dengan menjaga salat tepat waktu.

Keteladanan akan jauh lebih membekas dibandingkan ribuan nasihat.

Pendidikan Anak Bukan Perlombaan, Melainkan Perjalanan Panjang

Setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan waktu perkembangan yang berbeda. Karena itu, orang tua tidak perlu membandingkan anaknya dengan anak orang lain.

Islam mengajarkan agar setiap anak diperlakukan dengan adil, dihargai potensinya, dan dibimbing sesuai kemampuan masing-masing.

Tujuan utama pendidikan bukan mencetak anak yang hanya sukses secara akademik, melainkan melahirkan generasi yang bertakwa, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

 

Mendidik anak menurut Islam adalah proses panjang yang membutuhkan kasih sayang, kesabaran, keteladanan, komunikasi, dan doa. Pada usia 0–6 tahun, anak membutuhkan cinta dan rasa aman. Usia 7–14 tahun menjadi waktu terbaik menanamkan disiplin, adab, dan tanggung jawab. Saat memasuki usia 15–21 tahun, orang tua perlu menjadi sahabat yang mampu berdialog. Setelah dewasa, anak diberi kepercayaan untuk menentukan jalan hidupnya dengan tetap mendapatkan bimbingan dan doa dari orang tua.

Pada akhirnya, keberhasilan mendidik anak tidak hanya diukur dari prestasi duniawi, tetapi juga dari akhlak, keimanan, dan kedekatannya kepada Allah SWT. Sebab, anak yang saleh merupakan investasi terbaik bagi orang tua, yang kelak akan terus mengalirkan pahala melalui doa dan amal baiknya.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.