Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Arus informasi di media sosial semakin cepat. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar ke jutaan pengguna. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar merupakan fakta. Banyak di antaranya merupakan hoaks, disinformasi, atau informasi yang dipelintir sehingga dapat menyesatkan masyarakat.

Karena itu, masyarakat dituntut memiliki kemampuan literasi digital agar tidak mudah percaya maupun ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memastikan apakah sebuah informasi benar atau hanya sekadar hoaks.

 

1. Informasi Dimuat di Portal Media Online Nasional

Langkah pertama adalah memeriksa apakah informasi tersebut diberitakan oleh portal media online nasional yang memiliki kredibilitas baik.

Media nasional umumnya memiliki redaksi, editor, serta proses verifikasi sebelum sebuah berita dipublikasikan. Informasi yang diterbitkan juga mengikuti kode etik jurnalistik sehingga lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Apabila suatu isu besar sama sekali tidak diberitakan oleh media nasional, masyarakat patut meningkatkan kewaspadaan.

 

2. Informasi Dimuat di Media Mainstream

Selain media nasional, masyarakat juga dapat melihat apakah informasi tersebut dimuat oleh media mainstream, baik televisi nasional, surat kabar, radio, maupun media digital yang telah lama dikenal publik.

Media mainstream biasanya memiliki mekanisme cek fakta, konfirmasi kepada narasumber, serta verifikasi data sebelum berita dipublikasikan.

Keberadaan berita di berbagai media kredibel menjadi salah satu indikator bahwa informasi tersebut telah melalui proses jurnalistik.

 

3. Informasi Memiliki Sumber yang Jelas dan Dapat Diverifikasi

Sebuah informasi yang benar umumnya mencantumkan sumber yang jelas.

Misalnya berasal dari kementerian, lembaga pemerintah, kepolisian, universitas, organisasi resmi, atau narasumber yang identitasnya dapat dipertanggungjawabkan.

Hindari mempercayai informasi yang hanya berbunyi “katanya”, “viral”, “dari grup sebelah”, atau tanpa menyebutkan asal-usul informasi.

 

4. Informasi Didukung Data, Dokumen, atau Pernyataan Resmi

Berita yang benar biasanya dilengkapi dengan data, dokumen pendukung, hasil penelitian, foto yang relevan, maupun pernyataan resmi dari pihak yang berwenang.

Semakin lengkap bukti yang disampaikan, semakin mudah masyarakat melakukan pengecekan secara mandiri.

 

5. Informasi Sudah Diverifikasi oleh Lembaga Pemeriksa Fakta

Saat ini terdapat berbagai lembaga pemeriksa fakta yang membantu masyarakat memverifikasi informasi yang viral di media sosial.

Jika sebuah kabar telah dinyatakan hoaks oleh lembaga pemeriksa fakta atau telah dibantah oleh instansi resmi, maka informasi tersebut sebaiknya tidak lagi disebarluaskan.

Edukasi Literasi Digital untuk Masyarakat

Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan internet, tetapi juga kemampuan berpikir kritis terhadap setiap informasi yang diterima.

Sebelum membagikan sebuah unggahan, masyarakat sebaiknya melakukan beberapa langkah sederhana, seperti membaca isi berita secara utuh, tidak hanya judulnya, memeriksa tanggal publikasi, membandingkan dengan media lain, hingga memastikan sumber informasi berasal dari pihak yang berwenang.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa kecepatan bukanlah ukuran kebenaran. Informasi yang paling cepat beredar belum tentu merupakan informasi yang paling benar.

Dengan membiasakan budaya cek fakta, masyarakat dapat membantu mengurangi penyebaran hoaks yang berpotensi menimbulkan keresahan, konflik sosial, hingga kerugian ekonomi.

Waspadalah Informasi yang Hanya Bersifat:

1. Provokatif

Informasi yang sengaja memancing kemarahan, kebencian, atau permusuhan tanpa disertai data yang jelas patut dicurigai.

 

2. Sensasional

Judul yang terlalu bombastis, berlebihan, atau menggunakan kata-kata seperti “pasti benar”, “100 persen”, “langsung sebarkan”, sering kali hanya bertujuan menarik perhatian.

 

3. Tidak Memiliki Sumber Resmi

Informasi tanpa narasumber, tanpa identitas penulis, atau hanya mengutip percakapan media sosial sebaiknya tidak langsung dipercaya.

 

4. Dipotong atau Keluar dari Konteks

Foto, video, maupun kutipan yang hanya menampilkan sebagian informasi dapat mengubah makna sebenarnya dan berpotensi menyesatkan publik.

 

5. Mengajak Menyebarkan Tanpa Verifikasi

Kalimat seperti “viralkan sekarang”, “sebarkan ke semua grup”, atau “jangan sampai dihapus” tanpa didukung bukti yang kuat merupakan ciri yang patut diwaspadai.

Pandangan Pengamat Sosial Asal Jepara, Purnomo Wardoyo

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai masyarakat harus semakin bijak dalam menerima setiap informasi yang beredar di ruang digital.

Menurutnya, perkembangan media sosial memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi, namun di sisi lain juga membuka peluang munculnya berbagai informasi yang belum tentu benar.

“Jangan mudah percaya hanya karena sebuah informasi sudah viral. Ukur kebenarannya melalui sumber yang kredibel, lakukan verifikasi, dan biasakan berpikir kritis sebelum membagikan kepada orang lain. Masyarakat yang cerdas adalah masyarakat yang mampu memilah fakta dan opini,” ujarnya, Jum’at (28/8/2026).

Ia juga mengingatkan bahwa setiap pengguna media sosial memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menjadi bagian dari penyebaran hoaks. Dengan meningkatkan literasi digital dan membiasakan cek fakta, masyarakat dapat membantu menciptakan ruang digital yang sehat, aman, serta memberikan manfaat bagi semua pihak.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.