Queensha.id – Religi,

 

Pertanyaan mengenai hukum hubungan suami istri setelah darah haid berhenti tetapi sebelum mandi wajib masih sering menjadi pembahasan di tengah masyarakat.

Mengutip unggahan akun Facebook Rahma Fitri, dijelaskan bahwa sebagian suami terkadang langsung ingin mengajak istrinya berhubungan ketika mengetahui darah haid sudah tidak keluar lagi.

Namun, apakah hal tersebut diperbolehkan dalam ajaran Islam?

 

 

Darah Haid Berhenti Belum Tentu Sudah Suci

Dalam ajaran Islam, masa berakhirnya haid memiliki aturan yang perlu diperhatikan. Berhentinya darah haid menjadi tanda bahwa seorang perempuan telah memasuki masa suci, tetapi masih terdapat tahapan yang harus dilakukan sebelum kembali melakukan hubungan suami istri.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 222:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

Artinya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: Haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka sesuai dengan ketentuan yang diperintahkan Allah.”

Ayat tersebut menjelaskan adanya tahapan, yaitu berhentinya darah haid dan kemudian melakukan bersuci.

 

 

Mandi Wajib Menjadi Syarat Sebelum Berhubungan

Dalam penjelasan para ulama tafsir dan fikih, kata bersuci dalam konteks ayat tersebut dipahami sebagai melakukan mandi wajib setelah selesai haid.

Artinya, ketika darah haid sudah berhenti, seorang perempuan belum langsung kembali kepada kondisi suci secara sempurna untuk melakukan hubungan seksual sebelum mandi wajib.

Dengan demikian, suami dianjurkan menunggu sampai istri selesai mandi wajib terlebih dahulu.

Setelah mandi wajib dilakukan, pasangan suami istri diperbolehkan kembali melakukan hubungan sebagaimana aturan dalam syariat Islam.

 

 

Mengapa Harus Menunggu Mandi Wajib?

Terdapat beberapa hikmah di balik aturan tersebut, antara lain:

1. Menjalankan Ketentuan Syariat dengan Benar

Menunggu istri mandi wajib merupakan bentuk ketaatan kepada aturan Allah SWT. Hal ini mengajarkan pasangan agar tidak terburu-buru hanya berdasarkan keinginan, tetapi tetap memperhatikan batasan agama.

2. Menghilangkan Keraguan tentang Kesucian

Mandi wajib memberikan kepastian bahwa masa haid benar-benar telah selesai.

Dengan begitu, pasangan tidak lagi merasa ragu atau bertanya apakah kondisi sudah benar-benar suci untuk kembali melakukan hubungan suami istri.

3. Menjaga Kebersihan dan Kenyamanan

Selain memiliki nilai ibadah, mandi wajib juga berkaitan dengan kebersihan tubuh.

Setelah mandi, tubuh menjadi lebih bersih dan segar sehingga hubungan suami istri dapat dilakukan dengan kondisi yang lebih nyaman bagi kedua belah pihak.

Suami Perlu Memahami Kondisi Istri

Dalam kehidupan rumah tangga, pemahaman agama menjadi salah satu hal penting untuk menjaga keharmonisan pasangan.

Suami tidak hanya perlu memahami kebutuhan biologis, tetapi juga menghormati aturan agama dan kondisi fisik istrinya.

Hubungan suami istri dalam Islam bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan manusia, tetapi juga bagian dari ibadah apabila dilakukan sesuai dengan ketentuan Allah SWT.

Karena itu, ketika darah haid istri telah berhenti, sebaiknya tidak langsung terburu-buru melakukan hubungan. Berikan kesempatan kepada istri untuk menyelesaikan mandi wajib terlebih dahulu.

Dengan menjalankan aturan tersebut, pasangan dapat menjaga kebersihan, ketenangan hati, serta mendapatkan keberkahan dalam kehidupan rumah tangga.

 

***

Sumber: Queensha Jepara/Rahma Fitri.

Penulis: Vico Rahman.