Queensha.id – Jepara,

Di balik gemerlap prestasi olahraga, tersimpan kisah disiplin, kerja keras, dan keteguhan hati seorang atlet muda asal Jepara, Jawa Tengah, Zheina Amartya.

 

Lahir dan besar di kota kelahiran Raden Ajeng Kartini, Zheina menapaki kariernya di dunia tenis dengan semangat yang tak sekadar mengejar kemenangan, tetapi juga makna perjuangan sebagai perempuan.

Gadis kelahiran 19 Oktober 2002 ini tumbuh di Desa Pulodarat, Kecamatan Pecangaan. Di tengah rutinitas padat sebagai atlet, ia juga menjalankan peran sebagai pelatih melalui dua program yang ia dirikan bersama kakak dan rekan-rekannya, yakni Exercide dan Jakarta Tennis School. Selain itu, ia membuka kelas privat bagi murid yang membutuhkan pendampingan khusus.

“Aktivitas harian saya cukup padat, hampir setiap hari mengajar dengan minimal dua sesi. Pada akhir pekan, jadwal bisa penuh hingga lima sesi, dimulai dari pukul 06.00 pagi hingga 18.00 sore,” ungkap Zheina, Selasa (21/4/2026).

Perjalanan Zheina di dunia olahraga dimulai sejak usia dini. Ia pertama kali mengenal tenis saat taman kanak-kanak, meski sempat berhenti sebelum akhirnya kembali menekuninya secara serius sejak kelas 4 SD.

 

Sebelumnya, ia juga sempat menjajal cabang olahraga wushu hingga dunia hiburan sebagai model dan presenter di TVRI saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Orang tua saya tidak pernah memaksa, melainkan hanya mengarahkan. Pada akhirnya, saya sendiri yang memilih tenis sebagai bidang yang ingin saya tekuni secara serius,” tuturnya.

Keputusan tersebut menjadi titik balik yang membawanya menapaki jalur profesional. Ia mulai fokus pada soft tenis sejak SMP dan dipercaya mewakili Jawa Tengah hingga tampil dalam ajang Pekan Olahraga Nasional 2024.

Tak hanya berkiprah sebagai atlet, Zheina juga membangun sistem pelatihan berbasis akademi sejak Desember 2024. Semua itu ia jalani bersamaan dengan pendidikan tinggi di Universitas Diponegoro.

Perjuangannya tidak ringan. Ia harus bolak-balik Jakarta–Semarang demi menyeimbangkan peran sebagai mahasiswa dan pelatih. Namun, kerja keras itu membuahkan hasil manis.

“Walaupun capek, alhamdulillah bisa lulus tepat waktu 3,5 tahun dengan predikat cumlaude,” ujarnya, Selasa (21/4).

Deretan prestasi pun menjadi bukti konsistensinya. Di antaranya, Juara 1 beregu Kejuaraan Nasional Soft Tennis 2024 di Jakarta, Juara 3 beregu PON Aceh 2024, Juara 2 beregu Pra PON 2023, hingga Juara 1 ganda Piala Rektor UNY 2022 di Yogyakarta.

 

Bahkan, sejak usia muda, ia telah mencatat prestasi internasional sebagai Juara 3 tunggal dan ganda Junior Penang International Championships 2016 di Malaysia.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa Zheina bukan hanya sekadar atlet, melainkan sosok yang mampu bersaing di level nasional hingga internasional.

Sebagai perempuan Jepara, ia menjadikan nilai-nilai perjuangan Kartini sebagai inspirasi utama dalam hidupnya. Baginya, keberanian untuk bermimpi dan berkembang adalah kunci untuk menembus batas.

“Kartini mengajarkan tentang keberanian untuk bermimpi, memperjuangkan hak, dan terus berkembang sebagai perempuan,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar prestasi, Zheina memiliki visi yang lebih luas: menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Ia percaya bahwa perjalanan hidup bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga tentang dampak yang bisa diberikan kepada lingkungan sekitar.

“Impian terbesar saya adalah menjadi pribadi yang bermanfaat bagi banyak orang,” katanya.

Melalui kisahnya, Zheina juga menyampaikan pesan kuat kepada para perempuan untuk tidak berhenti bermimpi.

“Tetaplah semangat dalam mengejar impian dan jangan mudah menyerah. Setiap proses pasti memiliki tantangan, termasuk komentar negatif dari orang lain. Namun, penting untuk tetap percaya pada diri sendiri dan fokus pada tujuan,” pesannya.

Kisah Zheina Amartya menjadi potret nyata bahwa dari desa kecil di Jepara, mimpi besar bisa tumbuh dan menembus panggung dunia dan selama ada keberanian, ketekunan, dan keyakinan yang tak pernah padam.

 

***

MTV.
(21 April 2026)