Queensha.id – Jepara,
Popularitas pendakwah muda asal Jawa Timur, Gus Iqdam, kini tak hanya terasa di panggung dakwah dan media sosial, tetapi juga merambah ke industri kreatif. Di Jepara, sejumlah pengrajin mebel bahkan mengabadikan namanya menjadi produk kursi lesehan berbahan kulit asli.
Dikutip dari platform marketplace, “Kursi Gus Iqdam” dijual dengan harga sekitar Rp2.500.000. Produk ini merupakan kursi lantai premium khas Jepara yang dikenal dengan kualitas ukiran dan materialnya.
Fenomena ini mencuat bertepatan dengan kehadiran Gus Iqdam di Alun-alun 1 Kabupaten Jepara, Selasa (14/4/2026) malam, dalam rangka Pengajian Akbar memperingati Dirgahayu Kabupaten Jepara ke-477.
Ribuan jamaah diperkirakan memadati lokasi untuk menyaksikan langsung ceramah khasnya yang santai dan mengalir seperti obrolan “njagongan ngopi”.
Muhammad Iqdam Kholid, atau yang dikenal sebagai Gus Iqdam, merupakan salah satu pendakwah muda dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Ia dikenal luas berkat gaya dakwahnya yang membumi, penuh humor, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dalam setiap ceramahnya, Gus Iqdam kerap menyelipkan lelucon yang relevan dengan realitas sosial. Bahkan, tak jarang ia menghadirkan humor sarkastik namun cerdas yang mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Ia juga dikenal sebagai sosok yang mempopulerkan istilah “dekengan pusat”, yang dimaknai sebagai bentuk dukungan langsung dari Allah SWT—sebuah istilah yang kini viral di tengah masyarakat.
Dari sisi nasab, Gus Iqdam merupakan cucu dari KH. Zubaidi Abdul Ghofur, seorang ulama kharismatik sekaligus pendiri Pondok Pesantren Manbaul Hikam Mantenan Udanawu, Blitar. Latar belakang ini semakin menguatkan posisinya sebagai figur dakwah yang berpengaruh.
Selain berdakwah, Gus Iqdam juga menempuh pendidikan formal sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Hukum di Fakultas Hukum UNISBA Blitar sejak tahun 2023.
Munculnya “Kursi Gus Iqdam” menjadi cerminan bagaimana sosok tokoh agama kini mampu memengaruhi sektor ekonomi kreatif. Nama yang awalnya dikenal di mimbar dakwah kini menjadi identitas produk yang memiliki nilai jual tinggi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa popularitas tidak hanya membangun pengaruh sosial, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru—terutama bagi pelaku usaha lokal seperti pengrajin mebel Jepara.
***
(Redaksi Queensha Jepara | Selasa, 14 April 2026)

Tinggalkan Balasan