Queensha.id – Jepara,

 

Pemandangan kedai kopi yang selalu ramai hampir setiap malam kini menjadi hal lumrah di Kabupaten Jepara. Mulai dari kawasan Alun-Alun Jepara, Pengkol, Jalan Pemuda, hingga sejumlah titik strategis lainnya, coffee shop dipenuhi pengunjung dari berbagai kalangan, terutama generasi muda.

Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan menarik di tengah kondisi ekonomi yang disebut-sebut sedang tidak mudah. Saat banyak masyarakat mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang terus naik, lapangan pekerjaan yang semakin kompetitif, hingga daya beli yang menurun, mengapa kedai kopi justru tetap ramai?

Apakah kondisi itu menjadi tanda bahwa masyarakat Jepara sebenarnya memiliki daya beli yang kuat? Atau justru ada fenomena ekonomi lain yang sedang terjadi?

Para ekonom menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena yang dikenal sebagai “Lipstick Effect”, yakni kecenderungan masyarakat membeli kemewahan kecil saat kondisi ekonomi sedang tertekan.

 

 

Indonesia Jadi Negara dengan Coffee Shop Terbanyak di Dunia

Budaya nongkrong di kedai kopi memang sedang berada pada puncaknya. Berdasarkan data industri global hingga akhir 2025, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah coffee shop terbanyak di dunia, mencapai sekitar 461 ribu gerai.

Jumlah tersebut bahkan melampaui China dan Amerika Serikat yang selama ini dikenal sebagai pasar besar industri kopi dunia.

Pertumbuhan pesat kedai kopi tidak hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung, tetapi juga merambah daerah-daerah, termasuk Kabupaten Jepara.

Di berbagai sudut kota, coffee shop kini bukan hanya tempat menikmati kopi, tetapi telah berkembang menjadi ruang sosial, tempat bekerja, berdiskusi, hingga lokasi mencari hiburan setelah menjalani rutinitas sehari-hari.

 

 

Ekonomi Sulit, Mengapa Kedai Kopi Tetap Ramai?

Di tengah maraknya coffee shop, kondisi ekonomi nasional sebenarnya masih menghadapi berbagai tantangan.

Pelemahan daya beli masyarakat, naiknya sejumlah harga kebutuhan, hingga ketidakpastian ekonomi global menjadi isu yang banyak dibahas dalam berbagai kajian ekonomi.

Namun uniknya, konsumsi terhadap produk-produk yang tergolong sebagai “kemewahan kecil” justru tetap bertahan, bahkan meningkat.

Fenomena inilah yang disebut para ekonom sebagai Lipstick Effect.

Istilah tersebut pertama kali populer di Amerika Serikat setelah tragedi 11 September 2001. Saat itu penjualan rumah, kendaraan, dan barang mewah bernilai besar mengalami penurunan. Namun penjualan produk kosmetik premium seperti lipstik justru meningkat.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ketika masyarakat menahan diri membeli barang mahal, mereka cenderung mencari bentuk penghargaan diri yang lebih murah namun tetap memberikan kepuasan psikologis.

 

 

Ngopi Jadi Bentuk Self Reward

Bagi banyak anak muda saat ini, secangkir kopi seharga Rp20 ribu hingga Rp35 ribu dianggap sebagai bentuk self reward yang masih terjangkau.

Setelah bekerja seharian atau menghadapi tekanan aktivitas harian, nongkrong di coffee shop memberikan rasa nyaman, kesempatan bersosialisasi, sekaligus pengalaman yang menyenangkan.

Secara psikologis, aktivitas tersebut dapat memicu pelepasan dopamin, yaitu hormon yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan.

Karena itu, meskipun masyarakat menunda membeli rumah, kendaraan, atau aset besar lainnya, mereka tetap rela mengeluarkan uang untuk kopi, makanan ringan, skincare, hiburan, maupun layanan perawatan diri.

 

 

Data Menunjukkan Pergeseran Pola Belanja

Sejumlah kajian ekonomi menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi rumah tangga Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Pengeluaran untuk barang tahan lama seperti elektronik rumah tangga dan perlengkapan rumah mengalami perlambatan. Sebaliknya, pengeluaran untuk jasa perawatan pribadi, hiburan, makanan dan minuman siap saji, serta gaya hidup justru mengalami peningkatan.

Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, pernah menjelaskan bahwa fenomena Lipstick Effect umumnya muncul ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi namun tetap ingin mendapatkan kepuasan konsumsi.

Dalam kondisi seperti itu, kemewahan kecil menjadi pilihan yang dianggap paling realistis.

 

 

Sisi Lain yang Perlu Diwaspadai

Meskipun tidak ada yang salah dengan menikmati kopi atau nongkrong bersama teman, para ahli mengingatkan agar masyarakat tetap memperhatikan kondisi keuangan pribadi.

Pengeluaran yang tampak kecil jika dilakukan terus-menerus dapat menjadi jumlah yang cukup besar dalam jangka panjang.

Sebagai ilustrasi, jika seseorang menghabiskan Rp30 ribu per hari untuk membeli kopi, maka dalam setahun pengeluarannya bisa mencapai lebih dari Rp10 juta.

Nilai tersebut bahkan dapat berkembang lebih besar apabila dialihkan ke instrumen investasi jangka panjang seperti emas, deposito, atau reksa dana.

Selain itu, penggunaan fasilitas paylater dan pinjaman online untuk memenuhi gaya hidup konsumtif juga menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan masalah keuangan di masa depan.

 

 

Boleh Ngopi, Asal Tetap Bijak

Para pengamat ekonomi menilai masyarakat tidak perlu berhenti menikmati kopi atau menghilangkan hiburan sederhana yang dapat menjaga kesehatan mental.

Yang terpenting adalah mengatur prioritas keuangan secara bijak.

Membuat anggaran khusus untuk hiburan, membatasi frekuensi nongkrong, serta menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan dan investasi menjadi langkah yang dapat dilakukan agar keseimbangan finansial tetap terjaga.

Fenomena coffee shop yang selalu ramai di Jepara memang menarik untuk diamati. Namun kondisi tersebut tidak selalu menjadi indikator bahwa ekonomi masyarakat sedang baik-baik saja.

Bisa jadi, di balik ramainya kedai kopi setiap malam, tersimpan realitas bahwa banyak orang sedang mencari ruang nyaman dan hiburan sederhana di tengah berbagai tekanan hidup dan ketidakpastian ekonomi.

 

***

(Queensha Jepara, 5 Juni 2026)